Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ritual Takir Plontang Malam 1 Suro: Cara Unik Warga Trenggalek Njenggelek Selameti Rojo Koyo hingga Usir Hama Tikus

Maylanni Diana Fitri • Rabu, 24 Juni 2026 | 21:45 WIB
Menguak filosofi mendalam Takir Plontang dalam ritual Suro warga Trenggalek Njenggelek untuk keselamatan hewan ternak dan tolak bala pertanian.(pinterest)
Menguak filosofi mendalam Takir Plontang dalam ritual Suro warga Trenggalek Njenggelek untuk keselamatan hewan ternak dan tolak bala pertanian.(pinterest)

Radar Tulungagung - Suasana sakral dan penuh haru menyelimuti momen peringatan malam 1 Suro di kawasan Mataraman. Tradisi turun-temurun yang sarat akan makna luhur kembali dihidupkan oleh warga melalui pembuatan sesaji khusus yang dikenal dengan nama Takir Plontang. Ritual tahunan ini bukan sekadar rutinitas perayaan tahun baru Jawa, melainkan sebuah bentuk ruang syukur mendalam sekaligus doa tolak bala agar seluruh mahluk hidup, termasuk hewan ternak atau rojo koyo, mendapatkan keselamatan dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa.

Keunikan prosesi pembuatan wadah sesaji tradisional ini terekam kuat dalam kolaborasi hangat antara kanal YouTube Aldif Channel dan Mak Darti Channel. Di dalam dapur yang sederhana, mereka sibuk meracik hidangan khas Suro seadanya namun penuh dengan khidmat. Takir sendiri merupakan wadah makanan yang terbuat dari lipatan daun pisang dan dikunci menggunakan lidi. Hal yang membedakannya dengan wadah biasa adalah hadirnya selipan janur kuning di bagian tepi, sebuah simbol cahaya atau petunjuk kehidupan yang sakral bagi masyarakat setempat.

Secara filosofis, ritual menyambut satu Suro lewat media Takir Plontang ini memegang esensi yang sangat luas. Menurut penuturan sesepuh setempat, sesaji ini dibuat khusus untuk memohon keselamatan bagi hewan-hewan peliharaan dan ternak yang selama ini membantu hajat hidup manusia. Mulai dari lembu atau sapi, kambing, ayam, hingga hewan kesayangan seperti kucing. Uniknya, doa keselamatan ini juga ditujukan secara metaforis kepada hama pertanian seperti tikus, agar mereka kembali ke habitat asalnya di alam liar dan tidak merusak tanaman padi milik para petani.

Kuliner Khas Suro dan Kehangatan Silaturahmi yang Meneteskan Air Mata

Menu pengisi Takir Plontang ini tergolong sederhana namun menggugah selera, terdiri dari nasi putih hangat, mie, telur goreng bumbu kecap yang diiris tipis, serta menu wajib berupa sambal goreng tahu. Aroma semerbak harum masakan yang bercampur dengan uap daun pisang layu menciptakan kekhasan rasa yang tidak dijumpai pada hari-hari biasa. Menariknya, dalam tradisi kuno, sajian ini juga kerap dihubungkan dengan legenda Lembu Suro. Khusus untuk hewan ternak besar seperti sapi, sebagian makanan sesaji ini nantinya akan diletakkan langsung di area bawah tempat makan sapi sebagai simbol harmonisasi alam.

Baca Juga: Poco X7 Auto Sungkem! Infinix Note 50 Pro Resmi Rilis di Indonesia, HP 3 Jutaan Spek Monster Paling Gacor Gak Ada Lawan!

Di sela-sela aktivitas memasak, momen haru yang menguras air mata pun pecah ketika para konten kreator ini saling menyampaikan salam perpisahan dan untaian doa tulus. Kedekatan yang terjalin selama proses pembuatan konten kebudayaan ini dirasakan sudah seperti ikatan saudara kandung. Air mata tidak membendung saat mereka saling mendoakan kesehatan, kelancaran rezeki, serta umur panjang agar bisa terus melestarikan kebudayaan lokal di masa-masa yang akan datang.

Melawan Batas Usia Demi Merawat Warisan Budaya Nusantara

Satu hal yang menjadi sorotan dan inspirasi besar dalam kegiatan ritual ini adalah dedikasi luar biasa dari Mak Darti. Di usianya yang telah menginjak hampir 60 tahun, semangatnya untuk terus berkarya, mengudara di platform digital, dan mengedukasi generasi muda mengenai pentingnya adat istiadat tidak pernah padam. Usia sama sekali bukan menjadi penghalang atau pematah semangat untuk tetap produktif. Justru lewat ketulusan hati dan kebahagiaan dalam berbagi ilmu tersebut, rezeki dan kesehatan diyakini akan senantiasa mengalir mengikuti langkah kaki mereka.

Setelah seluruh proses pengisian makanan selesai, wadah-wadah pelataran daun pisang berhias janur ini dikumpulkan ke dalam ember untuk dibawa oleh para pria menuju area sakral desa. Sesuai dengan adat yang berlaku, ritual kenduri keselamatan Suro ini akan digelar secara komunal di area pertigaan atau perempatan jalan umum terdekat pada waktu menjelang sore hari, sebagai simbol penyucian ruang hidup bersama dari segala aura negatif.

Editor : Maylanni Diana Fitri
#Trenggalek Njenggelek #Ritual Tolak Bala #takir plontang #Tradisi Jawa #malam 1 suro