Radar Tulungagung - Suasana sakral, haru, dan penuh makna spiritual menyelimuti ruang dapur tradisional Mataraman saat memasuki momen sakral perayaan satu Suro. Tradisi luhur yang sarat akan nilai-nilai harmonisasi alam kembali dihidupkan oleh warga melalui pembuatan sesaji khusus yang disebut Takir Plontang. Ritual tahunan ini bukan sekadar adat perayaan tahun baru Jawa semata, melainkan sebuah ruang syukur mendalam sekaligus doa tolak bala agar seluruh mahluk hidup, terutama hewan ternak atau rojo koyo, senantiasa mendapatkan perlindungan, berkah, dan keselamatan dari Yang Maha Kuasa.
Prosesi pembuatan wadah makanan tradisional yang sarat makna ini berlangsung khidmat dalam kolaborasi hangat antara kanal YouTube Aldif Channel dan Mak Darti Channel. Di tengah kepulan asap dapur, mereka sibuk meracik hidangan khas Suro yang sederhana namun penuh dengan ketulusan. Takir sendiri merupakan wadah makanan ikonik yang terbuat dari lipatan daun pisang yang dikunci menggunakan lidi. Hal utama yang membedakannya dengan wadah biasa adalah adanya selipan janur kuning di bagian tepi, yang melambangkan seberkas cahaya, petunjuk, serta keselamatan hidup bagi masyarakat Jawa.
Secara filosofis, ritual menyambut satu Suro lewat media Takir Plontang ini memegang esensi teologis yang sangat luas dan mendalam. Menurut penuturan sesepuh setempat, sesaji ini dibuat secara khusus untuk memohon keselamatan bagi hewan-hewan peliharaan dan ternak yang selama ini telah setia membantu hajat hidup manusia. Mulai dari sapi atau lembu, kambing, ayam, hingga hewan kesayangan seperti kucing. Uniknya, doa keselamatan ini juga ditujukan secara metaforis kepada hama pertanian seperti tikus, agar mereka "kembali ke rumah lamanya" di alam liar dan tidak merusak tanaman tanduran milik para petani.
Kuliner Khas Suro dan Kehangatan Silaturahmi yang Meneteskan Air Mata
Menu pengisi Takir Plontang ini tergolong sangat otentik dan merakyat, terdiri dari nasi putih hangat, mi goreng, telur goreng bumbu kecap manis yang diiris-iris tipis, serta menu wajib berupa sambal goreng tahu yang kental. Aroma semerbak harum masakan yang bercampur dengan uap daun pisang segar menciptakan kekhasan rasa yang tidak dijumpai pada hari-hari biasa. Dalam tradisi kuno, sajian ini juga kerap dikaitkan dengan legenda Lembu Suro. Khusus untuk hewan ternak besar seperti sapi, sebagian makanan sesaji ini nantinya akan diletakkan langsung di area bawah tempat makan sapi sebagai simbol penyelarasan mahluk hidup.
Di sela-sela aktivitas mengadais (mengisi) makanan, momen haru yang menguras air mata pun pecah ketika para konten kreator ini saling menyampaikan salam pamit dan untaian doa tulus. Kedekatan yang terjalin selama proses pembuatan konten kebudayaan ini dirasakan sudah sangat erat layaknya ikatan saudara kandung yang saling mengasihi. Air mata tidak membendung saat mereka saling mendoakan kesehatan, kelancaran rezeki yang barokah, serta umur panjang agar bisa terus bersinergi melestarikan kebudayaan lokal di masa-masa yang akan datang.
Melawan Batas Usia Demi Merawat Warisan Budaya Nusantara
Satu hal yang menjadi sorotan dan inspirasi besar dalam kegiatan ritual adat ini adalah dedikasi luar biasa dari sosok Mak Darti. Di usianya yang telah menginjak hampir 60 tahun, semangatnya untuk terus berkarya, mengudara di platform digital, dan mengedukasi generasi muda mengenai pentingnya menjaga adat istiadat tidak pernah padam sedikit pun. Usia terbukti sama sekali bukan menjadi penghalang atau pematah semangat untuk tetap produktif. Justru lewat ketulusan hati, rasa bahagia, dan keikhlasan dalam berbagi ilmu tersebut, rezeki dan kesehatan diyakini akan senantiasa mengalir mengikuti langkah kaki mereka.
Setelah seluruh proses pengisian lauk-pauk selesai, wadah-wadah pelataran daun pisang berhias janur kuning ini dikumpulkan ke dalam ember untuk dibawa oleh para sesepuh menuju area sakral desa. Sesuai dengan pakem adat yang berlaku, ritual kenduri keselamatan Suro ini akan digelar secara komunal di area pertigaan atau perempatan jalan umum terdekat pada waktu menjelang sore hari, sebagai simbol penyucian ruang hidup bersama dari segala sengkolo dan marabahaya.
Editor : Maylanni Diana Fitri