Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Karomah Nyata Gus Saladin Trenggalek Njenggelek: Air Mata Saksi Kisahkan Masa Kecil, Jinakkam Lele Kali hingga Tembus Pikiran Orang

Maylanni Diana Fitri • Rabu, 24 Juni 2026 | 21:55 WIB
Kisah nyata karomah Gus Saladin Trenggalek Njenggelek sejak kecil. Sanggup memanggil lele sungai hingga miliki kemampuan tembus pikiran orang.()pinterest
Kisah nyata karomah Gus Saladin Trenggalek Njenggelek sejak kecil. Sanggup memanggil lele sungai hingga miliki kemampuan tembus pikiran orang.()pinterest

 

Radar Tulungagung - Kisah-kisah kewalian dan karomah para tokoh ulama di tanah Jawa selalu memancarkan daya tarik spiritual yang mendalam bagi masyarakat luas. Salah satu figur bersahaja yang belakangan ini ramai diperbincangkan di kawasan Mataraman adalah sosok Gus Saladin. Melalui untaian testimoni lisan yang penuh haru dari sang kiai yang mengasuhnya sejak kecil, terungkap berbagai macam kisah luar biasa yang menyelimuti perjalanan hidup sang tokoh religius tersebut semenjak masa belia hingga menempuh jenjang pendidikan di pondok pesantren.

Kesaksian emosional ini membeberkan secara gamblang bahwa tanda-tanda keistimewaan Gus Saladin sudah tampak nyata sejak beliau masih kanak-kanak. Sang kiai mengenang sebuah peristiwa besar saat musibah banjir bandang melanda wilayah Tulungagung beberapa tahun silam. Pada saat air bah menenggelamkan pemukiman, Gus Saladin kecil ternyata sempat ikut terendam di bawah air dalam durasi waktu yang sangat lama. Ajaibnya, atas izin Allah SWT, beliau berhasil selamat dari maut tanpa mengalami luka sedikit pun, sebuah kejadian di luar nalar yang langsung menggemparkan kerabat terdekatnya.

Keistimewaan demi keistimewaan terus melekat seiring berjalannya waktu, terutama saat beliau mulai menimba ilmu agama secara formal. Kedekatan spiritual antara guru dan murid ini bahkan melahirkan kultur takzim yang unik. Meski berstatus sebagai kiai pengasuh, sang guru justru kerap mencium tangan Gus Saladin karena sangat menghormati pancaran ilmu, adab, serta derajat kewalian yang bersemayam di dalam diri santri mudanya tersebut, terlepas dari fakta bahwa beliau merupakan seorang lulusan perguruan tinggi dengan rekam jejak akademis yang mentereng.

Karomah Menjinakkan Penguasa Air dan Rahasia di Balik Bungkus Nasi

Sejak usia dini, gawai spiritual Gus Saladin sering kali mewujud dalam peristiwa harian yang spontan. Salah satu cerita yang paling mahsyur di kalangan santri adalah ketika beliau pergi bermain memancing di area sungai timur pondok. Saat teman-teman sebayanya mengeluh karena tidak kunjung mendapatkan seekor ikan pun, Gus Saladin dengan tenang mendekati bibir sungai lalu memanggil ikan-ikan lele yang ada di dalam air. Secara ajaib, kawanan lele tersebut langsung berenang mendekat dan dengan pasrah menyerahkan diri untuk ditangkap menggunakan tangan kosong tanpa bantuan alat pancing.

Baca Juga: Perusak Harga Pasar! Infinix Smart 10 Resmi Rilis, HP 1 Jutaan Paling Gacor Bawa Spek Monster 120Hz, Bikin Kompetitor Auto Gulung Tikar!

Tidak hanya memiliki keselarasan dengan makhluk hidup di alam, beliau juga dianugerahi karomah berupa kemampuan kasyaf atau menembus isi hati dan pikiran manusia. Suatu ketika, seorang santri diutus untuk membelikan sebungkus nasi. Namun setibanya di pondok, nasi tersebut sama sekali tidak disentuh oleh beliau dan justru diberikan kembali kepada orang lain. Kejadian tersebut berulang hingga beberapa kali sampai akhirnya terungkap rahasia besar: Gus Saladin enggan memakan nasi tersebut karena sang santri yang membelinya ternyata kedapatan sedang dalam kondisi batal wudhu.

Setelah santri tersebut diperintahkan untuk menyucikan diri kembali dengan mengambil air wudhu, barulah hidangan nasi yang baru dibeli mau disantap dengan lahap. Peristiwa demi peristiwa kecil ini senantiasa menjadi isyarat spiritual atau bisyarah yang mendahului kejadian-kejadian besar di kemudian hari, menjadikan sosoknya sebagai rujukan spiritual yang sangat disegani oleh para muhibbin (pencinta ulama) dari berbagai daerah, mulai dari Tebuireng hingga kawasan Candi Mulyo.

Penampilan Kuncit Nyentrik dan Ketidaksukaan pada Harta Duniawi

Secara personal, penampilan fisik Gus Saladin di masa mudanya tergolong sangat ikonik dan nyentrik jika dibandingkan dengan santri tradisional pada umumnya. Beliau dikenal gemar memelihara rambut panjang yang sengaja disemir dan diikat kuncit ke belakang. Walau penampilannya sempat memicu keraguan bagi orang awam yang baru pertama kali melihatnya, para muhibbin dan kiai sepuh seperti Kiai Jamal dan Kiai Jalil justru memahami bahwa gaya nyentrik tersebut merupakan bagian dari tabir penyamaran spiritual dari seorang wali yang sedang menyembunyikan derajat tingginya.

Sifat zuhud atau kedekatan hati yang murni kepada Sang Pencipta juga dibuktikan dengan ketidaksukaan beliau yang amat sangat terhadap urusan harta benda dan uang. Dalam sebuah fragmen cerita, diceritakan ada seseorang yang datang untuk menyerahkan sejumlah uang dalam amplop tebal kepada beliau. Alih-alih menyimpannya, Gus Saladin sama sekali tidak sudi melihat isi amplop tersebut dan langsung menyerahkannya begitu saja kepada sang ibunda tanpa memedulikan nominal jumlahnya.

"Aku emoh kangelan mikir duit, pikiranku wis mung kanggo Allah (Aku tidak mau kesusahan memikirkan uang, pikiranku sudah hanya untuk Allah)," ujar Gus Saladin menirukan prinsip hidupnya yang enggan diperbudak oleh kenikmatan duniawi yang fana.

Editor : Maylanni Diana Fitri
#Trenggalek Njenggelek #Gus Saladin #Karomah Wali #Kisah Pesantren #Ulama Nyentrik