Radar Tulungagung – Samsung Galaxy A56 resmi memasuki usia satu tahun sejak pertama kali meluncur ke pasar. Saat diperkenalkan, ponsel kelas menengah ini sempat menuai kritik karena dibanderol sekitar Rp6 jutaan untuk varian RAM 8 GB dan penyimpanan 128 GB. Banyak yang menganggap harganya terlalu tinggi dibanding kompetitor.
Namun, situasinya kini berubah. Di tengah kenaikan harga smartphone akibat biaya komponen, terutama memori RAM, Samsung Galaxy A56 justru masih menjadi salah satu pilihan yang banyak diminati. Penjualannya di berbagai platform e-commerce telah mencapai ribuan unit dan tetap menunjukkan permintaan yang tinggi.
Lantas, apakah Samsung Galaxy A56 masih worth it dibeli pada 2026? Berdasarkan pengalaman penggunaan selama satu tahun, perangkat ini ternyata masih memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya layak dipertimbangkan.
Baca Juga: Vivo Y75 5G Resmi Rilis Bawa Dimensity T810, Kamera 50 MP, Baterai 5000 mAh, Harganya Bikin Kaget!
One UI Jadi Nilai Jual Utama
Salah satu alasan terbesar mengapa Galaxy A56 masih menarik adalah pengalaman menggunakan One UI. Antarmuka besutan Samsung tersebut dinilai mampu mengoptimalkan performa chipset Exynos 1580 sehingga penggunaan sehari-hari terasa mulus.
Meski hanya menggunakan RAM 8 GB, perpindahan antar aplikasi tetap berjalan lancar tanpa terlalu sering melakukan reload. Sedikit lag memang masih terasa ketika ponsel baru dinyalakan, tetapi setelah sistem stabil, performanya kembali responsif.
Keunggulan lainnya adalah dukungan pembaruan perangkat lunak yang konsisten. Samsung tidak hanya menjanjikan update dalam jangka panjang, tetapi juga rutin menghadirkan pembaruan keamanan setiap bulan. Bahkan Galaxy A56 telah menerima Android 16 dengan One UI 8, sehingga pengguna masih memiliki dukungan pembaruan sistem operasi selama beberapa tahun ke depan.
Kamera Tetap Jadi Andalan
Di sektor kamera, Galaxy A56 memang masih memiliki kekurangan karena belum dibekali lensa telefoto. Hal tersebut membuat kemampuan zoom digital terasa kurang maksimal, terutama saat memotret objek yang berada jauh seperti ketika menghadiri konser.
Meski demikian, kamera utama tetap menjadi daya tarik utama. Hasil foto memiliki detail yang tajam dengan reproduksi warna yang natural tanpa saturasi berlebihan. Kontras terlihat seimbang sehingga gambar tampak hidup tetapi tetap realistis.
Kemampuan point and shoot juga menjadi kelebihan. Pengguna tidak perlu melakukan banyak pengaturan karena hasil foto sudah terlihat menarik secara otomatis. Untuk foto manusia, warna kulit memang sedikit lebih cerah, tetapi masih berada dalam kategori natural.
Sementara itu, kemampuan video menjadi salah satu aspek terbaik Galaxy A56. Perekaman video 4K 30 fps tersedia di seluruh kamera dengan hasil stabil dan kualitas gambar yang konsisten. Fitur ini menjadi alasan utama mengapa perangkat tersebut masih layak digunakan untuk membuat konten.
Performa Harian Masih Andal
Secara performa, Exynos 1580 memang bukan chipset paling bertenaga di kelasnya. Namun, optimalisasi One UI membuat penggunaan media sosial, multitasking hingga proses editing video ringan di CapCut tetap berjalan lancar.
Game populer seperti Mobile Legends juga masih dapat dimainkan dengan nyaman. Hanya saja, refresh rate 120 FPS belum tersedia sehingga pengalaman bermain belum bisa dimaksimalkan sepenuhnya.
Menariknya, setelah pembaruan One UI 8, Samsung turut menghadirkan fitur Samsung DeX secara tersembunyi. Pengguna kini dapat menghubungkan Galaxy A56 ke laptop atau PC melalui Wireless Display sehingga pengalaman bekerja menjadi lebih fleksibel, meski proses pengaktifannya masih memerlukan beberapa langkah tambahan.
Baterai Awet dan Fast Charging 45 Watt
Walaupun kapasitas baterainya masih 5.000 mAh ketika banyak pesaing mulai menggunakan baterai lebih besar, daya tahan Galaxy A56 tetap tergolong baik.
Dalam penggunaan intensif dengan jaringan seluler aktif, screen-on-time dapat mencapai sekitar enam jam tanpa bermain game. Jika digunakan untuk gaming, daya tahan berkisar lima jam.
Keunggulan lain terdapat pada teknologi pengisian daya cepat 45 watt. Bahkan, kemampuan ini masih lebih unggul dibanding sejumlah seri flagship Samsung generasi lama yang masih mengandalkan fast charging 25 watt.
Build Quality Tetap Premium
Selama satu tahun pemakaian, kualitas fisik Galaxy A56 juga dinilai tetap terjaga. Cat bodi tidak mudah mengelupas, warna perangkat masih terlihat seperti baru, dan tidak muncul gradasi warna meski sering menggunakan casing.
Layarnya pun tetap responsif. Sensor sidik jari masih bekerja baik meski menggunakan tempered glass murah. Hingga saat ini juga tidak ditemukan masalah seperti green line, shadow, maupun kerusakan panel yang sering menjadi kekhawatiran sebagian pengguna smartphone.
Melihat keseluruhan pengalaman tersebut, Samsung Galaxy A56 masih menjadi pilihan menarik di kelas menengah. Performa yang stabil, kualitas kamera terutama video yang unggul, baterai cukup awet, pengisian daya cepat 45 watt, build quality premium, serta dukungan software yang panjang menjadi alasan kuat mengapa smartphone ini masih layak dibeli pada 2026, terutama ketika harga perangkat lain mengalami kenaikan cukup signifikan.
Editor : M. Helmi Nurhisam