JAKARTA – Review iPhone Air setelah digunakan sebagai ponsel utama selama sekitar 4–6 bulan menunjukkan pengalaman yang cukup memuaskan, terutama dari sisi desain dan layar. Namun, sejumlah kekurangan pada sektor kamera membuat perangkat ini dinilai kurang cocok bagi pengguna yang gemar membuat konten atau mengeksplorasi kemampuan fotografi dan videografi.
Meski demikian, penurunan harga dibanding saat peluncuran membuat iPhone Air kembali menjadi salah satu pilihan yang menarik untuk dipertimbangkan.
Desain Tipis dan Layar Besar Jadi Nilai Jual Utama
Dalam pengalamannya, Erwin mengaku sebelumnya menggunakan beberapa generasi iPhone Pro, mulai dari iPhone 15 Pro, iPhone 16 Pro hingga iPhone 17 Pro. Namun, saat beralih ke iPhone Air, ia justru merasa mendapatkan pengalaman penggunaan yang lebih menyenangkan.
Menurutnya, layar iPhone Air hampir sebesar varian Pro Max, tetapi tetap hadir dalam bodi yang jauh lebih tipis dan ringan sehingga nyaman digunakan sehari-hari.
"Buat gua dari segi experience ketika digunakan itu enggak ada masalah sama sekali. Benar-benar terasa upgrade dari versi Pro," ujarnya.
Selain ukuran layar, kualitas panel juga dinilai setara dengan lini Pro karena sudah mendukung ProMotion dan Always-On Display. Hal itu membuat aktivitas seperti menonton video, membaca naskah, hingga mengedit foto terasa lebih nyaman.
Baca Juga: XOS 16 Punya Fitur Baru, Lock Screen AI hingga Live Photo Bikin HP Infinix Makin Mirip iPhone
Erwin juga mengaku kini menggunakan iPhone Air tanpa casing karena merasa bobotnya yang ringan tetap memberikan rasa aman saat dipakai sebagai perangkat harian.
Untuk daya tahan baterai, ia tidak menemukan perbedaan berarti dibanding iPhone Pro yang sebelumnya digunakan. Meski memiliki kebiasaan mengisi daya secara tidak teratur, performa baterainya dinilai tetap memadai.
Namun, ia mencatat bahwa suhu perangkat relatif lebih cepat meningkat saat digunakan untuk konsumsi media atau pekerjaan yang cukup berat.
Kamera Jadi Kekurangan Paling Terasa
Meski puas dengan desain dan pengalaman penggunaan, Erwin menilai sektor kamera menjadi kelemahan terbesar iPhone Air.
Perangkat ini hanya dibekali satu kamera utama 48 MP tanpa lensa ultra-wide. Awalnya ia mengira hal tersebut tidak akan menjadi masalah, tetapi setelah beberapa bulan digunakan, absennya kamera ultra-wide justru sangat terasa.
Menurutnya, saat merekam aktivitas perjalanan, membuat Instagram Story, Reels, hingga vlog singkat, sudut pandang kamera terasa jauh lebih sempit dibanding iPhone Pro.
"Itu adalah minus yang sangat signifikan," katanya.
Ia menilai kekurangan tersebut akan lebih dirasakan oleh pengguna yang aktif di media sosial karena kamera ultra-wide menjadi salah satu fitur yang paling sering digunakan untuk membuat konten.
Selain itu, iPhone Air juga tidak mendukung Apple Log, yaitu mode perekaman video dengan profil warna datar (flat color profile) yang biasa dimanfaatkan kreator konten untuk proses color grading.
Selama menggunakan iPhone Pro, Erwin mengaku sering memanfaatkan Apple Log untuk menghasilkan video yang warnanya mendekati kamera profesional.
"Yang penting bukan preset-nya, yang penting adalah Apple Log-nya," ujarnya.
Karena keterbatasan tersebut, kini ia memilih membawa kamera tambahan seperti DJI Osmo Nano atau DJI Pocket 3 ketika bepergian agar tetap bisa merekam footage berkualitas tinggi.
Masih Layak Dibeli, tetapi Perlu Menyesuaikan Kebutuhan
Selain kamera, Erwin juga menyoroti sistem audio iPhone Air yang hanya mengandalkan satu speaker sehingga pengalaman menonton video dalam posisi horizontal terasa kurang maksimal jika tanpa AirPods.
Meski begitu, ia menilai kekurangan speaker tidak sebesar keterbatasan kamera.
Secara keseluruhan, pengalaman menggunakan iPhone Air tetap dinilai positif berkat kombinasi layar besar, bodi tipis, bobot ringan, serta performa yang masih sangat memadai untuk editing ringan menggunakan aplikasi seperti DJI Mimo, VN Editor maupun Lightroom Mobile.
Untuk kebutuhan gaming, ia tidak memberikan penilaian khusus karena tidak memainkan game di perangkat tersebut. Namun, menurutnya performanya masih cukup untuk menjalankan game kelas menengah.
Menjelang akhir ulasannya, Erwin mengaku mulai khawatir apabila Apple tidak melanjutkan lini iPhone Air seperti yang pernah terjadi pada iPhone Mini.
Baca Juga: Cara Cepat Atasi Handphone yang Terkena Air Agar Tidak Rusak Parah
Pasalnya, ia sudah terbiasa menggunakan layar besar, tetapi tetap enggan beralih ke seri Pro Max yang menurutnya terlalu berat untuk penggunaan sehari-hari.
Dengan harga yang kini jauh lebih rendah dibanding saat pertama kali dirilis, iPhone Air dinilai masih layak dibeli bagi pengguna yang mengutamakan desain tipis, layar luas, dan kenyamanan penggunaan harian. Sebaliknya, bagi kreator konten yang mengandalkan kamera ultra-wide dan Apple Log, seri Pro masih menjadi pilihan yang lebih sesuai.
Source Estecchmedia
Editor : Valentyo Samuel Putra Widodo