TEMPO DOELOE - Sejarah kolonialisme Belanda dan Jepang masih bersemayam di Tulungagung.
Kabupaten yang dikenal pemrodusen olahan Marmer terbesar di Indonesia ini menyimpan mitos dari kisah heroik penduduk pribumi semasa kolonialisme.
Salah satunya tak lain Bok Plengkung. Bok Plengkung adalah istilah dari Bahasa Jawa yang memiliki arti Jembatan Plengkung.
Jembatan ini berada di Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung.
Disebut Jembatan Plengkung karena jembatan ini memiliki pembatas berbentuk melengkung.
Di tiap sisinya, ada tiga pembatas yang berbentuk melengkung, sehingga total ada enam pelengkungan di jembatan tersebut.
Dari kilas sejarah, Jembatan Plengkung punya istilah lain. Pertama Bok Plengkung, kedua adalah Jembatan Grobokan.
Jembatan ini dibangun di bawah kolonialisme Belanda sekitar 1925. Diakumulasikan, usia jembatan ini sudah mencapai 99 tahun, tersisa satu tahun lagi sebelum jadi satu abad.
Jembatan Plengkung Tulungagung tidak dibangun cuma-cuma oleh kolonialisme Belanda.
Sebelum jembatan ini dibangun, mitos pembangunan jembatan ini bermula dari sayembara yang diselenggarakan kolonialisme Belanda.
Sayembara itu berisikan janji kolonialisme Belanda untuk membangun jembatan.
Namun sebelum merealisasikannya, mereka minta penduduk pribumi untuk menyeberangi sungai Ngrowo.
Padahal sungai adalah sungai dengan arus deras dengan lebar sekitar 45 meter.
Tak sedikit penduduk pribumi enggan mengikuti sayembara karena nyawa jadi taruhannya.
"Konon, banyak yang mengikuti sayembara ini dan banyak orang mati karena gagal menyeberangi sungai Ngrowo," dikutip Radar Tulungagung dari YouTube @MOTOMIDEO pada Kamis, 10 Oktober 2024.
Kolonialisme Belanda sengaja mengadakan sayembara tersebut, karena menurut mereka, siapapun orang yang bisa mengarungi sungai Ngrowo bukanlah orang biasa.
Hingga muncul sosok Kiai Haji (KH) Raden Abdul Fattah, seorang penduduk pribumi yang berhasil memenangkan sayembara.
Tanpa rasa takut, ia berhasil menerjang derasnya aliran sungai hingga mencapai sisi lain sungai Ngrowo selebar 45 meter itu.
Keberhasilan KH R Abdul Fattah dalam sayembara itu menjadi cikal-bakal pembangunan jembatan Plengkung.
KH R Abdul Fattah, usai pembangunan jembatan, sempat mendoakan agar jembatan kokoh dan bertahan lama.
Kekokohan Jembatan Plengkung Tulungagung terbukti. Hampir berusia satu abad, jembatan ini tetap menjadi andalan masyarakat.
Bahkan dalam sejarahnya, jembatan ini pernah dibom oleh Belanda semasa kolonialisme Jepang.
Momen itu terjadi ketika Belanda menyerahkan kekuasannya kepada Jepang melalui perjanjian Kalijati.
Namun pihak Belanda tidak serta-merta kekuasaan Jepang. Mereka pun mencoba mengebom Jembatan Plengkung Tulungagung sebelum meninggalkan tanah air.
Upaya pengeboman yang dilakukan Belanda ternyata tidak membuat jembatan ini roboh.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra