Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ini Bangunan Bersejarah di Boyolangu Tulungagung Selain Candi Gayatri, Nomor 3 Punya Relief Seperti Petirtan Jolotundo Mojokerto

Dharaka R. Perdana • Sabtu, 2 November 2024 | 01:09 WIB

Gua Selomangleng Tulungagung (Facebook Kandang Kebo Menapak Jejak Leluhur Nusantara)
Gua Selomangleng Tulungagung (Facebook Kandang Kebo Menapak Jejak Leluhur Nusantara)

TULUNGAGUNG - Boyolangu tidak hanya terkenal dengan Candi Gayatri atau Candi Boyolangu tentu bukan nama yang asing bagi masyarakat Tulungagung.

Candi tempat pendharmaan Ratu Rajapadni Gayatri dari Majapahit ini merupakan satu dari sekian tempat bersejarah di Tulungagung, khususnya di Kecamatan Boyolangu.

Ternyata selain Candi Gayatri masih ada lagi tempat bersejarah di Boyolangu. Berikut paparannya.

1. Candi Sanggrahan

Candi ini berada di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung.

Candi peninggalan era Majapahit berlatar agama Budha memiliki ciri sebagai tempat suci pada zamannya.

Candi Sanggrahan merupakan perwujudan sebagai candi tunggal dengan bahan dasar batu andesit, selain itu keberadaan candi tunggal tersebut dikelilingi pagar dan terdapat pintu gerbang utama berbahan bata.

Dikutip dari muqoddimahngrowo.wordpress.com, melekatnya folklor yang menyatakan Candi Sanggrahan adalah tempat peristirahatan para pengiring jenazah Ratu Tribhuwana Tunggadewi untuk disemayamkan di Candi Boyolangu (Candi Gayatri) yang menyiratkan makna penting pada situs itu.

Dengan demikian dari segi kebudayaan, Candi Sanggrahan cukup memiliki nilai penting (Anonim, 1995: 89).

Didasarkan pada aspek seni rupa objek ini, khususnya cara penggambaran relief pada kaki candi, diduga kuil suci ini dibangun pada masa Majapahit sekitar abad XIV Masehi.

Meskipun jelas benar nama raja dan peristiwa yang melatarbelakanginya. Situs ini (Candi Sanggrahan) memiliki nilai penting yang cukup dari segi kesejarahan (Anonim, 1995: 88).

Dari segi bahan, yakni pemanfaatan bahan batu untuk kulit luar dan bata untuk isian, objek ini sangat penting bagi studi sejarah arsitektur.

Objek ini juga memiliki nilai penting bagi pengembangan studi sejarah seni rupa, khususnya masa Majapahit sekitar abad XIII-XIV Masehi.

Sebagaimana tampak pada beberapa relief binatang dengan stilasi sulur-suluran dan bunga.

Bagi kajian ikonografi, arca-arca Budhis di kompleks candi tersebut dapat menyumbangkan pengetahuan tersendiri, khususnya menyangkut masalah keagamaan yang berkembang pada masa itu (Anonim, 1995: 88).

2. Candi Dadi

Candi Dadi Terletak di atas bukit dekat Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu pada ketinggian 900 m di atas permukaan laut.

Tahun pembangunan candi ini sampai sekarang tidak diketahui.

Keindahan alam yang berada di puncak bukit kapur dapat dinikmati dari Candi Dadi dengan memandang pergunungan Wilis, kota Tulungagung dan tanah darat di sekitarnya.

Untuk mencapai ke candi ini harus berjalan kaki selama setengah jam tetapi perjalanan ini sangat menyenangkan lewat perkebunan dan hutan alam.

Candi Dadi berada di tengah areal kehutanan di lingkungan RPH Kalidawir.

Candi ini merupakan candi tunggal yang tidak memiliki tangga termasuk hiasan maupun arca. Candi tersebut berdiri tegak pada puncak sebuah bukit di lingkungan Pegunungan Walikukun.

Denah Candi berbentuk bujursangkar dengan ukuran panjang 14 meter lebar 14 meter dan tinggi 6,5 meter.

Bangunan berbahan batuan andesit itu terdiri atas batur dan kaki candi. Berbatur tinggi dan berpenampilan setiap sisinya.

Bagian atas batur merupakan kaki candi yang berdenah segi delapan, pada permukaan tampak bekas tembok berpenampang bulat yang kemungkinan berfungsi sebagai sumuran.

Diameter sumuran adalah 3,35 meter dengan kedalaman 3 meter.

3. Gua Selomangleng

Kompleks Gua Selomangleng yang menempati areal kehutanan di lingkungan BKPH Kalidawir, atau tepatnya di Dusun Sanggrahan Kidul, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, merupakan lereng Jurang Sanggrahan yang cukup terjal.

Secara khusus tidak dijumpai keterangan yang dapat diacu untuk mengenal lebih dalam lagi latar belakang sejarah situs tersebut.

Menghubungkan kesamaan relief yang terdapat di Gua Selomangleng dengan yang dijumpai di Petirtan Jolotundo, AJ Bernet Kempers menduga bahwa situs tersebut dibuat dan digunakan pada akhir abad X.

Sebaliknya, berdasarkan cara pemahatan dan penataan rambut tokoh-tokohnya, Satyawati Suleiman, berpendapat bahwa goa tersebut berasal dari masa awal Majapahit.

Di Tulungagung, relief yang dipahatkan mengambil cerita bagian dari Arjunawiwaha, khususnya pada episode penggodaan bidadari terhadap Arjuna yang sedang menjalankan tapa.

Ini mencerminkan kedekatan mereka akan wiracarita gubahan para pujangga sejak zaman Kerajaan Kadiri.

Sekaligus untuk mengingatkan mereka akan laku yang sedang ditekuninya, serta harapan bahwa kekuatan yang terkandung dalam kisah cerita tersebut dapat terwujud. ***

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#candi sanggrahan #gua selomangleng #sejarah tulungagung #boyolangu #candi dadi