Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ini Nama Asli Kitab Negarakertagama dari Era Majapahit, Lokasi Penemuannya Bukan di Pulau Jawa

Dharaka R. Perdana • Sabtu, 2 November 2024 | 16:24 WIB

Lontar kitab Negarakertagama (majapahit1478.blogspot.com)
Lontar kitab Negarakertagama (majapahit1478.blogspot.com)

TULUNGAGUNG - Wilayah Tulungagung, terkhusus Boyolangu sudah disebut sejak zaman Majapahit.

Hal ini tercantum dalam Kitab Negarakertagama yang masyur dan telah diakui UNESCO sebagai memori dunia pada 2008.

Kitab Negarakertagama merupakan peninggalan yang sangat berharga dari Kerajaan Majapahit dan telah terbukti keabsahannya.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa kitab ini sebenarnya berjudul Desawarnana atau yang berarti sejarah desa-desa.

Baca Juga: Ini Bangunan Bersejarah di Boyolangu Selain Candi Gayatri, Nomor 3 Punya Relief Seperti Petirtan Jolotundo Mojokerto

Tapi sejak ditemukan kembali para arkeolog, maka naskah ini lalu dinamakan dengan Negarakertagama atau yang berarti kisah pembangunan negara.

Sesuai dengan keterangan yang ada, maka naskah ini selesai ditulis pada bulan Aswina tahun 1287 Saka (September-Oktober 1365 Masehi).

Di dalamnya berisikan kakawin (puisi, syair) dalam bahasa Kawi (bahasa Jawa kuno) sebagai tanda penghormatan dan pengagungan terhadap Sri Rajasanagara atau Hayam Wuruk.

Kisah penemuan kembali dari kitab ini cukup dramatis, sebab awalnya kitab ini adalah benda koleksi dari Kerajaan Karangasem yang tersimpan di Puri Cakranegara sebagai warisan dari Kerajaan Majapahit.

Sejarahnya dibawa oleh keluarga kerajaan dari Kadiri pada masa kekuasaan mereka di Karangasem, ujung timur Pulau Bali, sekitar akhir abad ke-17-18 Masehi.

Baca Juga: Wilayah di Tulungagung Ini Sudah Disebut Sejak Zaman Majapahit, Kitab Negarakertagama Menulis Begini

Lombok sendiri merupakan wilayah kekuasaan raja Karangasem, dan sebelumnya ada beberapa kerajaan yang berada di sana seperti Selaparang dan Pejanggik.

Isi dari naskah Negarakeragama itu diterapkan di Lombok demi membangun sistem ketatanegaraan dan sekaligus sebagai sebuah pertahanan yang menyerupai Majapahit.

Ini juga ditunjukkan demi menjadikan Lombok sebagai benteng dalam mempertahankan ajaran Hindu di Bali, menyusul masuk dan berkembangnya ajaran agama Islam di tanah Jawa.

Lalu pada sekitar 1890-an, pihak VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) Belanda menggempur habis-habisan puri atau istana Cakranegara itu dan mengakibatkan kediaman raja Karangasem, sang penguasa wilayah Lombok luluh lantak.

Sehari sebelum Puri Cakranegara jatuh ke tangan VOC-Belanda, pada sekitar 19 November 1894, dilaporkan ada sebuah temuan naskah sastra yang ditulis di atas lembaran daun lontar di antara puing-puing reruntuhan itu.

Prof Slamet Muljana pernah menyebutkan sedikitnya sudah ditemukan empat naskah lain yang serupa di beberapa Geriya (kediaman pendeta Hindu) di Bali.

Namun naskah-naskah itu diduga merupakan turunan dari naskah Negarakertagama yang ditemukan di Puri Cakranegara, Lombok.

Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, Ternyata Ada Enam Eks Kawedanan di Tulungagung, Di Mana Saja Mereka?

Sewindu kemudian naskah Negarakertagama yang berbahasa Kawi itu diterbitkan dalam aksara Bali dan bahasa Belanda oleh Dr JLA Brandes pada 1902, namun hanya sebagiannya saja.

Disusul kemudian oleh Dr JHC Kern pada 1905-1914 yang dilengkapi dengan komentar-komentarnya.

Barulah pada 1919, Dr. NJ Krom menerbitkan secara utuh isi dari lontar Negarakertagama ini sekaligus dengan catatan historisnya.

Sementara itu, naskah Negarakertagama ini akhirnya diterjemahkan secara lengkap ke dalam bahasa Indonesia oleh Prof Slamet Muljana yang disertai dengan tafsir sejarahnya. ***

Editor : Dharaka R. Perdana
#karangasem #majapahit #sejarah tulungagung #boyolangu #Cakranegara #negarakertagama #desawarnana