TULUNGAGUNG - Fakta jika Desa Wateskroyo, Kecamatan Besuki, Tulungagung menjadi lokasi awal Prasasti Lawadan semakin menguat.
Desa ini sekarang dilintasi jalur wisata menuju kawasan jalur lintas selatan (JLS) Tulungagung-Trenggalek.
Baca Juga: Terungkap, Desa di Tulungagung Selatan Ini yang Menjadi Asal Prasasti Lawadan
Sekadar diketahui, Prasasti Lawadan hingga kini dianggap sebagai tonggak hari jadi Tulungagung yang diperingati setiap tahun.
Sejarawan UM Dwi Cahyono dalam catatan yang tercantum dalam Patembayan Citralekha juga pernah melakukan pelacakan ke Desa Wateskroyo, Kecamatan Besuki, Tulungagung.
Diperoleh informasi dari warga setempat bahwa semula (sebelum 1967) pada bentang lahan timur aliran sungai kecil dan selatan jalan desa terdapat sebuah prasasti batu.
Baca Juga: Lokasi Awal Prasasti Lawadan Tulungagung Masih Misteri, Benarkah dari Wates, Campurdarat?
Konon prasasti itu ditempatkan di suatu teras yang tersusun dari bata-bata kuno di bawah naungan cungkup beratap ijuk.
Sebagaimana menimpa banyak situs-situs lain, pasca G30S, khususnya jelang come back PKI 1967, situs Prasasti Lawadan mendapat pengrusakan.
Selain prasasti, di dalam cungkup terdapat ‘batu kala’ — warga sekitar menamai watu buta (batu raksasa).
Baca Juga: Status Pusat Keagamaan Perbukitan Walikukun Tulungagung Makin Tegas, Candi Ini Jadi Bukti
Prasasti yang semula dalam posisi berdiri dirobohkan dan bata-bata kuno pembentuk bangunan berteras.
Sayangnya serakannya dijadikan sebagai penguruk jalan dan pondasi bangunan lain.
Beruntung, sekitar 1970 sejumlah perangkat desa dan pekerja PT IMIT memindahkan prasasti itu ke dalam pabrik.
Pada saat ini (perlu diperjelas lagi) di situs masih tersisa fragmen kepala kala dan bata-bata kuno.
Prasasti Lawadan ini sekarang menjadi koleksi berharga dari Museum Wajakensis Tulungagung.
Apalagi pada 2023 silam, Prasasti Lawadan berhasil dipindahkan ke Museum Wajakensis Tulungagung, setelah puluhan tahun menghuni PT IMIT di Desa Besole, Kecamatan Besuki.
Editor : Dharaka R. Perdana