Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ekologi Tulungagung adalah Rawa, Prasasti Lawadan Menulis Begini

Dharaka R. Perdana • Kamis, 7 November 2024 | 18:23 WIB

Prasasti Lawadan sekarang sudah berada di Museum Daerah Tulungagung, setelah belasan tahun berada di PT IMIT.
Prasasti Lawadan sekarang sudah berada di Museum Daerah Tulungagung, setelah belasan tahun berada di PT IMIT.

TULUNGAGUNG - Prasasti Lawadan yang menjadi tonggak hari jadi Tulungagung memiliki isi yang menarik untuk disimak.

Prasasti Lawadan yang sekarang menjadi koleksi berharga Museum Wajakensis Tulungagung ini akan dibahas sebagai berikut mengenai pokok isinya.

Pokok isi Prasasti Lawadan adalah anugerah raja Srengga terhadap duwan ri Lawadan tkeng wisaya.

Berupa pembebasan dari setoran pajak ke pemerintahan pusat dan sejumlah hak istimewa terhadapnya.

Baca Juga: Berikut Sederet Fakta Prasasti Lawadan, Tonggak Hari Jadi Tulungagung

Yang dimaksud dengan ‘duwan’ adalah bagian dari desa (Zoetmulder, 1995:241).

Adapun ‘wisaya’ adalah himpunan dari sejumlah desa.

Nampaknya, anugerah status perdikan (sima) ini diberikan kepada pejabat di suatu anak thani (bagian dari suatu desa) di wilayah Thani (Desa) Lawadan.

Konsep ‘wisayapumpunan’, menurut Edi Sedyawati (1994: 273) bermula pada masa Kadiri.

Baca Juga: Bata Kuno di Lokasi Awal Prasasti Lawadan Musnah, Ujungnya Justru Dibuat Urukan Jalan di Tulungagung

Lebih lanjut dikatakan olehnya bahwa raja-raja Kadiri memusatkan perhatiannya terhadap pemantapan tata wilayah di dalam negari.

Yakni dengan memberikan penghargaan yang besar kepada para pemimpin daerah di tingkat wisaya maupun thani.

Baca Juga: Terungkap, Desa di Tulungagung Selatan Ini yang Menjadi Asal Prasasti Lawadan

Selain terhadapnya status perdikan juga dianugerahkan kepada pimpinan di desa-desa lain yang sehimpunan (se-wisaya) dengan thani Lawadan.

Seperti thani: (1) Pamwatan – kata ‘wwat’ berarti jembatan, sehingga daerah ini dapat ditafsirkan berada di Kelurahan Treteg (Tertek) sekarang, sebab wwat = treteg = jembatan;

(2) Jjang, mengingatkan kita dengan unsur nama dari suatu desa pada DAS Kali Ngrowo, yaitu ‘Ngu+Jang (Ngujang)’;

(3) Wanwa Tengah, yang beralasan dilokasikan di Desa Karang Tengah, Kecamatan Durenan, Trenggalek sebab kata ‘karang’ yang berarti: tempat permukiman, bersinonim arti dengan ‘wanwa (desa)’;

(4) Tanggul, yang dapat dilokasikan di wilayah Kecamatan Besuki, terdapat desa/dusun dengan unsur nama ‘tanggul’, seperti Tanggul Turus, Tanggul Welahan, dan Tanggul Kundung

Baca Juga: Lokasi Awal Prasasti Lawadan Tulungagung Masih Misteri, Benarkah dari Wates, Campurdarat?

(5) Herasih,  (6) Kunda, mungkin kini menjadi Desa Kendal di Kec. Pakel, (7) Glang, (8) Turun Asih.

Ditambah dengan Thani Lawadan, wisaya tersebut terdiri atas sembilan thani, yang menggambarkan formula ‘(2 x 4) + 1’.

Kiranya keberadaan Thani Lawadan adalah pada posisi tengah, yang dikelilingi oleh thani-thani lainnya pada penjuru mata angin.

Baca Juga: Status Pusat Keagamaan Perbukitan Walikukun Tulungagung Makin Tegas, Candi Ini Jadi Bukti

Menurut pelokasian tersebut, desa-desa tetangga Lawadan berada di wilayah Kecamatan Besuki, Kecamatan Pakel, Kecamatan Tulungagung, Kecamatan Kedungwaru maupun Kecamatan Durenan, Trenggalek.

Yang menarik untuk dicermati, letaknya di sekitar rawa-rawa purba pada sub-area selatan Tulungagung dan DAS Kali Ngrowo.

Dengan demikian, konteks ekologis yang khas dari thani Lawadan dan thani-thani lain di sekitanya adalah ekologi rawa. ***

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #sejarah #prasasti lawadan #lawadan #Hari jadi tulungagung