TULUNGAGUNG - Prasasti Lawadan yang menjadi tonggak hari jadi Tulungagung memiliki isi yang menarik untuk disimak.
Prasasti Lawadan yang sekarang menjadi koleksi berharga Museum Wajakensis Tulungagung ini akan dibahas sebagai berikut mengenai pokok isinya.
Pokok isi Prasasti Lawadan adalah anugerah raja Srengga terhadap duwan ri Lawadan tkeng wisaya.
Berupa pembebasan dari setoran pajak ke pemerintahan pusat dan sejumlah hak istimewa terhadapnya.
Baca Juga: Berikut Sederet Fakta Prasasti Lawadan, Tonggak Hari Jadi Tulungagung
Yang dimaksud dengan ‘duwan’ adalah bagian dari desa (Zoetmulder, 1995:241).
Adapun ‘wisaya’ adalah himpunan dari sejumlah desa.
Nampaknya, anugerah status perdikan (sima) ini diberikan kepada pejabat di suatu anak thani (bagian dari suatu desa) di wilayah Thani (Desa) Lawadan.
Konsep ‘wisayapumpunan’, menurut Edi Sedyawati (1994: 273) bermula pada masa Kadiri.
Baca Juga: Bata Kuno di Lokasi Awal Prasasti Lawadan Musnah, Ujungnya Justru Dibuat Urukan Jalan di Tulungagung
Lebih lanjut dikatakan olehnya bahwa raja-raja Kadiri memusatkan perhatiannya terhadap pemantapan tata wilayah di dalam negari.
Yakni dengan memberikan penghargaan yang besar kepada para pemimpin daerah di tingkat wisaya maupun thani.
Baca Juga: Terungkap, Desa di Tulungagung Selatan Ini yang Menjadi Asal Prasasti Lawadan
Selain terhadapnya status perdikan juga dianugerahkan kepada pimpinan di desa-desa lain yang sehimpunan (se-wisaya) dengan thani Lawadan.
Seperti thani: (1) Pamwatan – kata ‘wwat’ berarti jembatan, sehingga daerah ini dapat ditafsirkan berada di Kelurahan Treteg (Tertek) sekarang, sebab wwat = treteg = jembatan;
(2) Jjang, mengingatkan kita dengan unsur nama dari suatu desa pada DAS Kali Ngrowo, yaitu ‘Ngu+Jang (Ngujang)’;
(3) Wanwa Tengah, yang beralasan dilokasikan di Desa Karang Tengah, Kecamatan Durenan, Trenggalek sebab kata ‘karang’ yang berarti: tempat permukiman, bersinonim arti dengan ‘wanwa (desa)’;
(4) Tanggul, yang dapat dilokasikan di wilayah Kecamatan Besuki, terdapat desa/dusun dengan unsur nama ‘tanggul’, seperti Tanggul Turus, Tanggul Welahan, dan Tanggul Kundung
Baca Juga: Lokasi Awal Prasasti Lawadan Tulungagung Masih Misteri, Benarkah dari Wates, Campurdarat?
(5) Herasih, (6) Kunda, mungkin kini menjadi Desa Kendal di Kec. Pakel, (7) Glang, (8) Turun Asih.
Ditambah dengan Thani Lawadan, wisaya tersebut terdiri atas sembilan thani, yang menggambarkan formula ‘(2 x 4) + 1’.
Kiranya keberadaan Thani Lawadan adalah pada posisi tengah, yang dikelilingi oleh thani-thani lainnya pada penjuru mata angin.
Baca Juga: Status Pusat Keagamaan Perbukitan Walikukun Tulungagung Makin Tegas, Candi Ini Jadi Bukti
Menurut pelokasian tersebut, desa-desa tetangga Lawadan berada di wilayah Kecamatan Besuki, Kecamatan Pakel, Kecamatan Tulungagung, Kecamatan Kedungwaru maupun Kecamatan Durenan, Trenggalek.
Yang menarik untuk dicermati, letaknya di sekitar rawa-rawa purba pada sub-area selatan Tulungagung dan DAS Kali Ngrowo.
Dengan demikian, konteks ekologis yang khas dari thani Lawadan dan thani-thani lain di sekitanya adalah ekologi rawa. ***
Editor : Dharaka R. Perdana