TULUNGAGUNG - Prasasti Lawadan sudah ditetapkan sebagai dasar hari jadi Tulungagung yang diperingati pada 18 November setiap tahun.
Hal ini berdasarkan penganugerahan sima dari Raja Srnggga dari Kadiri untuk masyarakat Tulungagung tempo dulu.
Baca Juga: Ekologi Tulungagung adalah Rawa, Prasasti Lawadan Menulis Begini
Sayang sekali tak diperoleh gambaran yang gamblang mengenai alasan (sambanda) mengapa Desa Lawadan dan thani-nanik lain yang se-wisaya dengan itu ditetapkan sebagai sima.
Pada umumnya, dasar pertimbangan penetapannya adalah jasa dari warga desa bersangkutan terhadap pihak kerajaan.
Berdasarkan paparan mengenai sebaran prasasti-prasasti raja Srengga di atas, tergambar bahwa pada masa pemerintahannya terdapat sejumlah tempat dalam wilayah Tulungagung yang berada di bawah pengaruh kekuasaan Srengga.
Baca Juga: Berikut Sederet Fakta Prasasti Lawadan, Tonggak Hari Jadi Tulungagung
Oleh karena itu cukup alasan untuk memprakirakan bahwa alasan penetapan sima Lawadan berkenaan dengan jasa warganya terhadap Raja Srengga.
Pada masa akhir pemerimtahan Srengga situasi politik Kerajaan Kadiri dalam kondisi krusial, yakni ancaman bagi terjadinya pemberontakan-pemberontakan daerah.
Hal inilah yang mendorong Srengga untuk mencari dan mendapatkan pengaruh politik dari daerah-daerah terdekat, utama dari warga di daerah Tulungagung, Blitar, dan Trenggalek.
Baca Juga: Bata Kuno di Lokasi Awal Prasasti Lawadan Musnah, Ujungnya Justru Dibuat Urukan Jalan di Tulungagung
Salah satu bentuk upaya untuk mendapat dukungankan darinya adalah melalui pemberian anugerah (waranugraha).
Berupa status sima dan hak-hak istimewa kepada para elit di sejumlah desa di kawasan rawa rawa purba, yang berada di sebelah selatan kadatwan Kadiri.
Gambaran tentang adanya ancaman pemberontakan tersebut didapati dalam Prasasti Kamulan (1194 M.).
Prasasti ini memberitakan tentang kesetian para Samya Haji Katanda Sakapat, sebagaimana layaknya sikap para hamba raja.
Mereka berhasil mengembalikan raja ke singgasana di Bhumi Kadiri, setelah sebelumnya terpaksa meninggalkan istananya di Katang-Katang lantaran serangan musuh dari sebelah timur (Soemadio, 1984:273).
Baca Juga: Terungkap, Desa di Tulungagung Selatan Ini yang Menjadi Asal Prasasti Lawadan
Mengingat bahwa lokasi Lawadan, yakni sekitar Wateskroyo sekarang yang tidak terlampau jauh dari Kamulan di Kecamatan Durenan, Trenggalek, maka boleh jadi dalam konteks ini warga Desa Lawadan turut berjasa dalam upaya menghadapi serangan musuh tersebut.
Sehingga Raja Srengga yang terpaksa eksodus tinggalkan istana dapat dikembalikan ke singgasananya.
Editor : Dharaka R. Perdana