TULUNGAGUNG - Prasasti Lawadan Tulungagung diduga kuat berhubungan erat dengan Prasasti Kamulan yang menjadi dasar hari jadi Trenggalek. Benarkah demikian?
Prasasti Lawadan merupakan prasasti dari era Kadiri yang diberikan kepada masyarakat Lawadan.
Baca Juga: Hasil Negoisasi, Pemkab Tulungagung dapat Hadiah Replika Prasasti Kamulan dari Pemkab Trenggalek
Meskipun tidak diketahui secara pasti mengenai alasan penganugerahan sima, namun tampaknya itu dijelaskan melalui Prasasti Kamulan, Trenggalek.
Pada masa akhir pemerintahan Srengga situasi politik Kerajaan Kadiri dalam kondisi krusial, yakni ancaman bagi terjadinya pemberontakan-pemberontakan daerah.
Baca Juga: Alasan Pemberian Sima pada Lawadan Masih Misteri, Benarkah Berhubungan dengan Perpolitikan Kadiri?
Hal inilah yang mendorong Srengga untuk mencari dan mendapatkan pengaruh politik dari daerah-daerah terdekat.
Utamanya dari warga di daerah Tulungagung, Blitar, dan Trenggalek.
Salah satu bentuk upaya untuk mendapat dukungankan darinya adalah melalui pemberian anugerah (waranugraha).
Baca Juga: Ekologi Tulungagung adalah Rawa, Prasasti Lawadan Menulis Begini
Berupa status sima dan hak-hak istimewa kepada para elit di sejumlah desa di kawasan rawa rawa purba, yang berada di sebelah selatan kadatwan Kadiri.
Gambaran tentang adanya ancaman pemberontakan tersebut didapati dalam Prasasti Kamulan (1194 M.).
Prasasti ini memberitakan tentang kesetian para Samya Haji Katanda Sakapat, sebagaimana layaknya sikap para hamba raja.
Baca Juga: Terungkap, Desa di Tulungagung Selatan Ini yang Menjadi Asal Prasasti Lawadan
Mereka berhasil mengembalikan raja ke singgasana di Bhumi Kadiri, setelah sebelumnya terpaksa meninggalkan istananya di Katang-Katang lantaran serangan musuh dari sebelah timur (Soemadio, 1984:273).
Mengingat bahwa lokasi Lawadan, yakni sekitar Wateskroyo sekarang yang tidak terlampau jauh dari Kamulan di Kecamatan Durenan, Trenggalek.
Maka boleh jadi dalam konteks ini warga Desa Lawadan turut berjasa dalam upaya menghadapi serangan musuh tersebut.
Sehingga raja Srengga yang terpaksa eksodus tinggalkan istana dapat dikembalikan ke singgasananya.
Editor : Dharaka R. Perdana