TULUNGAGUNG – Astana Pajimatan Imogiri Yogyakarta merupakan kompleks makam bagi raja-raja Mataram dan keturunannya.
Saat ini, Astana Pajimatan Imogiri dikelola Keraton Yogyakarta dan Surakarta sebagai pewaris Keraton Mataram Islam.
Secara keseluruhan kompleks Astana Pajimatan Imogiri dibagi menjadi delapan bagian yang disebut dengan Astana/Kedhaton.
Baca Juga: Dikelola Dua Keraton Pecahan Mataram, Begini Sejarah Astana Pajimatan Imogiri Yogyakarta
Yakni Astana Sultan Agungan, Astana Paku Buwanan, Astana Kaswargan Yogyakarta, Astana Besiyaran, Astana Saptorenggo, Astana Kaswargan Surakarta, Astana Kapingsangan, dan Astana Girimulya.
Dalam Astana Sultan Agungan dan Astana Paku Buwanan terdapat makam raja-raja yang memerintah Mataram sebelum kerajaan dibagi menjadi dua.
Di dalam Astana Sultan Agungan terdapat makam Sultan Agung dan Susuhunan Amangkurat II (Amral).
Baca Juga: Medan Curam, Rating Tinggi! Pantai Ngelinci Jadi Primadona Baru Tulungagung
Pada Astana Pakubawanan terdapat makam Susuhunan Paku Buwana I (Pangeran Puger), Susuhunan Amangkurat IV, dan Susuhunan Paku Buwana II.
Sedangkan keenam astana lainnya dibedakan menjadi dua yaitu untuk raja-raja Surakarta yang berada di sayap barat dan untuk raja-raja Yogyakarta di sayap timur.
Astana untuk Kasunanan Surakarta adalah Astana Kaswargan yang terdapat makam Susuhunan Paku Buwana III, IV, dan V.
Baca Juga: Pantai Ngelinci Tulungagung, Medan Ekstrem, tapi Bikin Pengunjung Ketagihan
Di dalam Astana Kapingsangan terdapat makam Susuhunan Paku Buwana VI, VII, VIII, dan IX.
Di dalam Astana Girimulya terdapat makam Susuhunan Paku Buwana X, XI, dan XII.
Sedangkan astana untuk Kasultanan Yogyakarta adalah Astana Kaswargan Yogyakarta yang di dalamnya terdapat makam Sultan Hamengku Buwana I dan III.
Adapun di dalam Astana Besiyaran terdapat makam Sultan Hamengku Buwana IV, V, dan VI.
Di Astana Saptorenggo terdapat makam Sultan Hamengku Buwana VII, VIII, dan IX.
Baca Juga: Parah, Tanah Losngor di Desa Nglebeng Kecamatan Panggul Timpa SDN 5 Nglebeng
Antara astana satu dengan yang lainnya dibatasi dengan tembok dengan pintu masuk berbentuk gapura.
Selain ada tembok keliling yang memisahkan antar astana di dalam astana juga terdapat tembok yang berfungsi untuk membagi halaman astana.
Pembagian halaman ini bertujuan untuk memisahkan area sakral dan non sakral.
Setiap astana dibagi menjadi beberapa halaman dengan halaman paling belakang (paling atas) merupakan halaman paling sakral karena terdapat makam-makam raja.
Antar halaman dihubungkan dengan anak tanggak dan gerbang paduraksa dan candi bentar. ***