TULUNGAGUNG – Jika berkesempatan berziarah ke kompleks makam Astana Pajimatan Imogiri Yogyakarta, pengunjung bakal menemukan sebuah anak tangga yang tidak rata.
Jangan mengira anak tangga Astana Pajimatan Imogiri ini rusak.
Anak tangga ini merupakan makam seorang pengkhianat Kerajaan Mataram Islam yang dihinakan hingga meninggal.
Baca Juga: Astana Pajimatan Imogiri Yogyakarta Dibagi Delapan Bagian, Berikut Rinciannya
Ceritanya begini.
Kerajaan Mataram Islam mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Agung.
Karena Kerajaan Mataram Islam mampu menguasai hampir seluruh tanah Jawa.
Selama masa pemerintahannya, Sultan Agung melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Baca Juga: Dikelola Dua Keraton Pecahan Mataram, Begini Sejarah Astana Pajimatan Imogiri Yogyakarta
Pada 1628 dan 1629, Mataram pernah menyerang markas VOC di Batavia walaupun pada akhirnya gagal.
Menurut cerita, kegagalan ini disebabkan adanya penggawa di Mataram yang sebelumnya membocorkan rencana penyerangan tersebut kepada Belanda.
Baca Juga: Medan Curam, Rating Tinggi! Pantai Ngelinci Jadi Primadona Baru Tulungagung
Penggawa Mataram tersebut menurut cerita adalah Tumenggung Endranata yang juga dikuburkan di Makam Imogiri.
Penghianatan tersebut menyebabkan tempat-tempat logistik berupa lumbung-lumbung padi sebagai persiapan perjalanan pasukan Mataram menuju Batavia dibakar Belanda.
Sehingga pasukan Mataram mudah dikalahkan.
Akhirnya Sultan Agung mengetahui adanya penghianatan yang dilakukan salah satu pasukannya.
Sultan Agung kemudian mengambil tindakan tegas dengan menangkap dan menghukum mati Tumenggung Endranata.
Baca Juga: Pantai Ngelinci Tulungagung, Medan Ekstrem, tapi Bikin Pengunjung Ketagihan
Kemudian kepala penghianat tersebut dipenggal, dan tubuh tanpa kepala itu ditanam di salah satu tangga di bawah pintu gerbang makam.
Para peziarah bisa menemukan makam penghianat tersebut berupa anak tangga dari batu yang memanjang.
Anak tangga tersebut merupakan peringatan bagi pengikut Sultan Agung agar tidak ada lagi penghianatan.
Editor : Dharaka R. Perdana