TULUNGAGUNG - Perjalanan Jacob Cornelis van Leur dari Belanda menuju Tulungagung tidak bisa dikatakan mudah.
Dia tercatat meninggalkan pelabuhan Rotterdam menuju Kepulauan Hindia pada suatu hari di 1934.
Yakni setelah menyelesaikan disertasi doktoral di Universitas Leiden.
Baca Juga: Tulungagung Tercatat dalam Surat Orang Belanda Jacob Cornelis van Leur, Siapa Dia?
Saat itu dia mendapatkan penugasan sebagai pegawai pemerintah untuk wilayah jajahan Hindia-Belanda.
Dalam perjalanannya ke Hindia, Jacob Cornelis van Leur menyebutnya sebagai “sebuah rangkaian yang panjang”.
Karena perjalanan kapal memerlukan waktu beberapa bulan menuju ke Batavia.
Baca Juga: Wilayah di Tulungagung Ini Sudah Disebut Sejak Zaman Majapahit, Kitab Negarakertagama Menulis Begini
Perjalanan dari ke Tulungagung diawali dari Batavia dengan menggunakan kereta api menuju Surabaya.
Dan dari Surabaya kemudian tiba di Kediri pada 30 November 1934.
Perjalanan dari Kediri menuju Tulungagung ditempuh Jacob Cornelis van Leur menggunakan mobil.
Baca Juga: Inilah Arti Sebenarnya dari Malaise, Pemicu Matinya Jalur Kereta Api Tulungagung-Trenggalek
Selanjutnya dia mengawali karier sebagai Controleur Afdeeling Toeloengagoeng (Pengawas Kabupaten Tulungagung).
Ini merupakan jabatan di bawah asistensi residen yang hanya bisa diisi pejabat kulit putih Eropa.
Jacob Cornelis van Leur dalam catatannya menyebut Tulungagung memiliki wilayah topografi yang “khas” sebab “dikepung” pegunungan.
Di sebelah barat, terdapat Gunung Wilis setinggi 2.500 meter, sedangkan di sebelah timurnya ada Gunung Kelud.
Kemudian di sisi selatan terdapat gugusan pegunungan yang tidak beraturan disertai dataran rendah dengan rawa-rawa.
Tulungagung oleh Jacob Cornelis van Leur pada kurun waktu itu sudah memiliki infrastruktur transportasi darat kereta api
Jalur kereta api ini menghubungkan antara Kediri dengan Malang.
Jarak Tulungagung menuju kabupaten sekitar dalam area Karesidenan Kediri disebutkan dalam rentang 30-40 kilometer.
Pada 1935, Tulungagung memiliki penduduk sekitar 500 ribu jiwa. ***
Editor : Dharaka R. Perdana