TULUNGAGUNG - Ada hal menarik mengenai sejarah Tulungagung berdasarkan tulisan Jacob Cornelis van Leur.
Khususnya mengenai sejarah birokrasi di Tulungagung.
Dalam memorinya mengenai birokrasi Tulungagung, Jacob Cornelis van Leur menulis “gunung-gunung birokrasi lebih tinggi daripada gunung-gunung di Jawa yang membebani birokrasi negeri yang sulit dilewati.”
Kutipan tersebut menegaskan hierarki sistem birokrasi di Jawa sangat timpang secara kelas sosial.
Sistem pemerintahan Jawa (javaanesche bestuur) dianggap sebagai tingkat rendah dan pemerintahan Eropa (europees bestuur) di atasnya, tak terkecuali Tulungagung.
Hierarki oposisi yang mencerminkan kelas “penjajah” dan “terjajah” itu, persis dengan gambaran Pramodeya Ananta Toer dalam novel tekenalnya, Bumi Manusia.
Baca Juga: Tulungagung Tercatat dalam Surat Orang Belanda Jacob Cornelis van Leur, Siapa Dia?
Kemudian sistem pemerintahan di Tulungagung berubah setelah meletusnya perang Jawa (de Java Ooorlog) (1825-1830).
Hal ini membawa konsekuensi penyerahan wilayah mancanegara wetan kepada pemerintah kolonial dengan pembentukan dua karesidenan pada 1830.
Jacob Cornelis van Leur mencatat sistem pemerintahan Jawa di Tulungagung dalam urutan bupati-patih-wedana-asisten wedana-mantri dan yang terakhir adalah dewan desa sebagai struktur pemerintahan terbawah.
Baca Juga: Gunung Budheg Bagian Sumbu Filosofi Tulungagung, Begini Alasannya
Bupati Tulungagung pada saat itu bertanggung jawab secara langsung kepada Residen Kediri.
Sementara itu, terdapat pemerintahan Belanda yaitu asisten residen sebagai jabatan pegawai negeri tertinggi.
Yakni menjalankan tugas pemerintahan di wilayah afdeeling (kabupaten) yang membawahi berberapa jabatan seperti pengawas dan pegawai negeri.
Sama halnya dengan bupati, asisten residen Tulungagung bertanggung jawab secara langsung kepada Residen Kediri.
Jabatan asisten residen hanya bisa diisi oleh orang Belanda dan diangkat oleh residen setempat untuk berberapa tahun masa jabatan.
Dengan kata lain, asisten residen merupakan utusan residen kepada bupati dengan penggambaran semacam “atase diplomatik.”
Baca Juga: Wilayah di Tulungagung Ini Sudah Disebut Sejak Zaman Majapahit, Kitab Negarakertagama Menulis Begini
Selama berdinas di Tulungagung, orientalis yang mengulik Indonesia dengan kacamata Weber ini, menyoroti pentingnya penguasaan bahasa Jawa bagi siapa pun pejabat Belanda yang berdinas di Tulungagung.
Tanpa penguasaan bahasa Jawa yang memadai, menurut Jacob Cornelis van Leur, maka tidak akan bisa memahami persoalan dan menjalankan pemerintahan dengan cara yang bodoh. ***
Bulan-bulan awal Jacob Cornelis van Leur berdinas di Tulungagung belum menguasai bahasa Jawa dengan baik dan kesulitan menjalankan tugas sebagai pengawas pemerintahan. ***
Editor : Dharaka R. Perdana