Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pondok Lali Djiwa Gunung Arjuno Begitu Populer hingga Eropa, Letak Pastinya Belum Ketahuan

Dharaka R. Perdana • Sabtu, 18 Januari 2025 | 16:24 WIB

Perjalanan menuju pondok Lali Djiwa yang menggunakan kuda (javapost.nil)
Perjalanan menuju pondok Lali Djiwa yang menggunakan kuda (javapost.nil)

RADAR TULUNGAGUNG - Pondok Lali Djiwa (Lali Jiwo) di Gunung Arjuno nyatanya cukup populer pada zaman dahulu.

Tak sedikit perusahaan dan media di Eropa mengupas kepopuleran resort di Gunung Arjuno, termasuk Lali Djiwa.

Baca Juga: Status PPPK Paruh Waktu Disoal Guru Honorer Tulungagung, Ini Permasalahannya!

Contohnya pada 1903, Koninklijke Paketvaart Maatschappij - sebuah perusahaan biro perjalanan Belanda - menulis;

"Kami menunggang kuda ke Lali Djiwa, sekitar empat jam jalan kaki dari Tretes. Dari sana kami berjalan kaki mendaki ke kawah Gunung Arjuno. Perjalanan kembali tidak butuh waktu lama, sehingga kami bisa mencapai hotel di Prigen sebelum gelap. Jika banyak waktu, datanglah dan menginap di Lali Djiwa sebelum sore dan nikmati indahnya matahari terbenam. pada dini hari jam tiga pagi, naiklah ke puncak gunung diterangi cahaya bulan dan obor untuk menikmati indahnya matahari terbit."

Baca Juga: Hujan Deras, Longsor Ancam Badan Jalan Desa Bogoran, Kecamatan Kampak

Sebelumnya, Prigen dan Tretes cukup sulit untuk dicapai, namun hal ini berubah pada awal abad ke 20.

Adanya pembangunan jalan baru dan maraknya kepemilikan mobil pribadi membuat jarak dari Surabaya ke Prigen dan Tretes semakin dekat dan mudah di akses.

De Indische Courant, koran berbahasa Belanda terbitan 1928, menulis;

Baca Juga: KPU Trenggalek Siapkan Rekam Kinerja, Ternyata Ini Alasannya

"Banyak pekerja Belanda yang pensiun dan ingin menghabiskan waktu bersantai, serta semakin banyak pula janda-janda dengan harta tinggalan suami mereka membuat Tretes semakin ramai dengan villa-villa baru. Lambat laun hutan belantara tersebut berubah menjadi desa kecil yang penuh dengan pondokan, hotel, penginapan untuk orang kulit putih berlibur."

Villa-villa itu disewakan ke orang-orang kaya, atau digunakan sendiri setiap pekan.

Baca Juga: Tak Punya SIM, Pelajar di Bandung Tulungagung Nekat ke Sekolah Bawa Motor

Pengunjung yang tidak kebagian villa akan memadati pondokan dan peginapan.

Warga lokal banyak yang menjadi pekerja di villa dan penginapan, menyewakan kuda kuda mereka, atau menjadi pemandu anak-anak kulit putih berkuda.

Koran-koran Belanda banyak menulis tentang Tretes dan Prigen sebagai verrukkelijke, atau resor pegunungan, dan menyerukan kepada pemerintah Belanda untuk membangun akses jalan yang lebih baik.

Baca Juga: Terima 10.500 Dosis Vaksin PMK, Puskeswan di Tulungagung Berikut yang Didrop!

Lali Djiwa juga kian populer sebagai resort terfavorit, tetapi sayangnya MacLennan tidak sempat menyaksikannya. McLennan meninggalkan Istri dan ahli warisnya yang terus tinggal di Lali Djiwa sampai meninggal pada 1929.

Kepopuleran Lali Djiwa dan MacLennan sampai ke pers Austria pada tahun-tahun sejak kematian istrinya, Kovacic.

Dua wisatawan ditemani penduduk lokal hendak menuju pondok Lali Djiwa (javapost.nl)
Dua wisatawan ditemani penduduk lokal hendak menuju pondok Lali Djiwa (javapost.nl)

Salah satu tulisan di media Austria mengimbau perlunya pelacakan ahli waris MacLennan-Kovacic.

Pelacakan tersebut membutuhkan waktu lama, dan melibatkan banyak orang, namun sayang tidak membuahkan hasil.

Pers Belanda menulis, bahwa ahli waris MacLennan-Kovacic kemungkinan telah menjual Lali Djiwa ke pemerintah Belanda, setelah bertahun-tahun tinggal di pondok itu.

Baca Juga: Sedang Musim Demam Berdarah Dengue, Stok Darah di PMI Tulungagung Aman

Memasuki 1940-an, beredar kabar bahwa akan dibangun sebuah jalan mobil menuju pondokan Lali Djiwa.

Situasi ini mengkhawatirkan sebagian penduduk Hindia-Belanda.

Seorang pembaca De Indische Courant menulis; "Saya yakin siapa pun setuju dengan saya bahwa Lali Djiwa tidak akan bisa lagi disebut Lali Djiwa ketika mobil dapat dengan mudah mencapai tempat ini. Lereng gunung tidak lagi sepi, tapi bising oleh klakson mobil.

Baca Juga: Mau Olahraga Petualangan, Jangan Lupakan Mandatory Gear, Apa Itu?

Lali Djiwa bukan lagi tempat yang membuat orang lupa diri, bukan lagi menjadi jiwa yang terlupa.

Satu-satunya resor gunung yang terisolasi akan hilang, dan menjadi kawasan wisata yang biasa-biasa saja"

Rencana pembangunan jalan tersebut di urungkan oleh Pemerintah Belanda karena situasi perang kemerdekaan.

Lali Djiwa sebagai resor yang menawarkan keindahan alam benar-benar tidak terdengar lagi kabarnya setelah Belanda hengkang dari Indonesia.

Baca Juga: Ini Lho Biang Kerok Berkurangnya Tangkapan Ikan Nelayan di Trenggalek

Tahun 1960, Hein Buitenweg menulis di Moonsoon; "Saya bertanya-tanya apakah pondok dengan nama puitis, dikelilingi pohon cemara, dan pohon mawar di halamannya, masih ada."

Perlahan-lahan, seiring berlalunya waktu, hutan disekitar pondokan tersebut dikenal dengan nama Hutan Lali Jiwo.

Dari yang dulunya terkenal sebagai sebuah resort terpencil dengan keindahan wisata alamnya, sekarang berubah jadi tempat mistis yang penuh dengan cerita misteri.

Sampai sekarang belum ditemukan bekas pondokan Lali Djiwa tersebut, apakah sudah hancur atau masih tersembunyi dalam lebatnya hutan dan terlupakan dari ramainya peradaban serta ingatan orang-orang, seperti namanya, 'Lali Jiwo'. ***

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#resort #Alas Lali Jiwo #eropa #belanda #hutan lali jiwo #lali djiwa #Gunung Arjuno