RADAR TULUNGAGUNG - Kurang seminggu lagi, etnis Tionghoa khususnya di Tulungagung akan merayakan Imlek.
Imlek merupakan hari raya yang identik dengan kebudayaan etnis Tionghoa, tak terkecuali di Tulungagung.
Baca Juga: Ketua Umum IKSPI Kera Sakti Buka Suara Soal Konflik di Polsek Watulimo
Etnis Tionghoa di Tulungagung pun selalu bersukacita menyambut datangnya Imlek.
Etnis Tionghoa diduga sudah bermukim di Tulungagung sejak satu bad yang lalu.
Tulungagung sebuah daerah yang begitu luas pada saat ini, meskipun dulu hanyalah sebatas kota kecil yang berada di pusat pemerintahan.
Baca Juga: Ketua PC Pagar Nusa Trenggalek Tegaskan Tidak Terlibat Kasus Penyerangan Polsek Watulimo
Berbagai bentuk kebudayaan dan sistem kemanusiaannya, memiliki andil besar didalam membangun peradaban di daerah Tulungagung.
Tulungagung pun memiliki ragam jejak sejarah menjadi bagian penting diketahui, salah satunya mengenai etnis Tionghoa.
Baca Juga: Mencengangkan, Segini Omzet Sehari Penjual Baju Imlek di Tulungagung
Etnis Tionghoa di daerah Tulungagung setidaknya juga patut untuk diperhatikan jejak-jejak sejarahnya, dikarenakan menjadi bagian perkembangan perekonomian, hal tersebut sudah tidak asing lagi diketahui.
Daerah Tulungagung memang luas keberadaan kajian sejarahnya, apalagi terkait dengan etnis Tionghoa.
Salah satu titik yang menunjukkan eksistensi etnis Tionghoa di Tulungagung adalah di sepanjang Jalan WR Soepratman.
Di sini ada Klenteng Tjoe Tik Kiong yang berada di tepi jalur jalan raya utama, dan di seberang klenteng terdapat aliran Sungai Ngrowo yang dulunya sebagai sarana transportasi perdagangan menuju Pasar Wage.
Daerah Pasar Wage hingga ke jalur Klenteng Tjoe Tik Kiong memang kawasan pemukiman dan perdagangan orang Tionghoa.
Bahkan menurut catatan sejarah pun keberadaan daerah tersebut merupakan pemukiman perdagangan bagi orang-orang Tionghoa, yang awalnya sebagai pedagang yang akhirnya menetap di kawasan tersebut.
Selain itu, juga jalan depan Klenteng Tjoe Tik Kiong merupakan jalur menuju ke Pasar Wage yang menjadi pusat perdagangan di daerah Tulungagung.
Klenteng Tjoe Tik Kiong merupakan pusat peribadatan bagi orang-orang Tionghoa atau keturunan Tionghoa yang berada di daerah Tulungagung.
Keberadaan orang-orang Tionghoa sendiri menurut catatan tulisan sejarah dan babad Tulungagung (1971), menerangkan bahwa keberadaan mereka awalnya sebagai pedagang pada 1846.
Baca Juga: Peminat Tes IVA di Tulungagung Minim, Persentasenya Mencengangkan!
Orang Tionghoa memperoleh kebebasan berdagang memasuki kota-kota Karesidenan dan Kabupaten.
Bahkan akhirnya mereka telah menetap di daerah-daerah, khususnya di daerah Tulungagung.
Keberadaan orang Tionghoa di Tulungagung berawal dari adanya sistem perdagangan.
Menurut sumber data inventaris 2003 Balai Pelestarian Cagar Budaya (Balai Pelestarian Kebudayaan) Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, bahwasanya Klenteng Tjoe Tik Kiong didirikan pada 1865.
Baca Juga: Desa Tasikmadu Watulimo Sering Jadi Arena Kericuhan Perguruan Silat, Kades Wignyo: Kami Menyayangkan
Pada mulanya Klenteng Tjoe Tik Kiong berada di dekat Pasar Wage.
Kemudian pada 1866 keberadaan Klenteng Tjoe Tik Kiong pindah ke sebelah selatan, yang saat ini berdiri dan menjadi pusat peribadatan bagi orang Tionghoa.
Sehingga keberadaan Klenteng Tjoe Tik Kiong yang ada di daerah Tulungagung selain sebagai tempat peribadatan, merupakan sebagai simbolisasi keberadaan orang-orang Tionghoa dalam urusan perdagangan pada awal mulanya.
Pendirian klenteng sendiri secara umum yang terdapat di Indonesia dekat dengan pasar, atau sentral perekonomian masyarakat.
Selain itu, juga dekat dengan perkampungan etnis Tionghoa yang sehari-harinya menjalani aktivitas perekonomian maupun berdagang.
Sehingga sudah sewajarnya bangunan Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung berdekatan dengan Pasar Wage.
Mengingat daerah tersebut dulu hingga sekarang menjadi sentral perdagangan bagi masyarakat Tulungagung dan sekitarnya. ***
Editor : Dharaka R. Perdana