RADAR TULUNGAGUNG - Jalur Madiun-Ponorogo adalah jalur kereta api mati yang menghubungkan Stasiun Madiun dan Stasiun Ponorogo.
Jalur kereta api Madiun-Ponorogo pada zamannya untuk memperlancar arus pengangkutan penumpang dan barang dari Ponorogo menuju Madiun.
Selanjutnya dikirim ke berbagai jurusan di Pulau Jawa serta diekspor ke Eropa.
Berikut fakta jalur Madiun-Ponorogo:
1. Perencanaan Awal
Pada 1873, Pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan konsesi izin pembangunan jalur kereta api lintas Surabaya–Solo dan Madiun–Ponorogo.
Namun, dalam melaksanakan konsesi pembangunan jalur kereta api lintas Madiun–Ponorogo, ternyata mengalami penundaan.
Baca Juga: Fenomena Kesejahteraan Dosen di Tulungagung Jadi Mimpi Buruk Dunia Pendidikan
Alasannya Kota Madiun semakin ramai dengan bangunan dan permukiman penduduk pada akhir dasawarsa 1890-an.
Dengan berbagai pertimbangan, jalur ini pada akhirnya dibangun dengan rancangan berupa trem uap walaupun harus mengorbankan badan jalan raya.
2. Landasan Pembangunan
Pada 31 Desember 1904, pemerintah mengeluarkan peraturan sebagai landasan pembangunan jalur kereta api Madiun–Ponorogo beserta dua jalur cabangnya menuju Balong dan Sumoroto.
Jalur kereta api ruas Madiun–Mlilir resmi dibuka oleh Staatsspoorwegen (SS) sejauh 23,5 kilometer pada 15 Mei 1907.
Pengoperasian jalur dilanjutkan dengan pembukaan jalur ruas Mlilir–Ponorogo pada 1 September 1907 sepanjang 9 kilometer.
Sehingga jalur secara keseluruhan memiliki panjang sejauh 32,5 kilometer.
3. Ada 17 Pemberhentian
Pada zaman masih aktif, di sepanjang jalur Madiun-Ponorogo ada 17 pemberhentian, baik stasiun maupun halte.
Baca Juga: Ini Biang Kerok Matinya Jalur Kereta Api Tulungagung-Trenggalek, Dampaknya Luar Biasa pada 1930
Yakni Madiun - Madiun Pasar - Pasar Besar - Sleko - Rejosari - Kanigoro - Kepuh - Pagotan - Uteran - Sambur - Dolopo - Glonggong - Umbul - Mlilir - Keniten - Polorejo - Ponorogo
Namun pada saat ini hanya tersisa Stasiun Madiun yang masih aktif di jalur Madiun-Ponorogo.
4. Langganan Pedagang
Semasa masih aktif, sebagian besar pelanggan yang menggunakan jalur ini merupakan pedagang yang menjual hasil bumi ke pasar.
Selain itu jalur ini juga digunakan untuk mengangkut barang dari Pabrik Gula Kanigoro dan Pabrik Gula Pagotan.
Serta pengangkutan bahan bangunan seperti batu gamping dari Slahung serta kayu jati dari Parang, Magetan.
5. Penutupan
Jalur ini resmi ditutup pada 1984 karena kalah bersaing dengan mobil pribadi dan angkutan umum.
6. Wacana Reaktivasi
Berdasarkan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional, jalur ini menjadi salah satu jalur kereta api yang akan dilakukan pengaktifan ulang.
namun, tidak pernah dilaksanakan meskipun wacana tersebut terus mengemuka.
KAI tentu harus melakukan musyawarah terlebih dahulu dengan tiga atau empat pemerintah daerah apabila hendak mengaktifkan ulang jalur kereta api ini.
Hal ini terjadi karena sudah dibangun permukiman di atas bekas jalur tersebut. ****
Editor : Dharaka R. Perdana