RADAR TULUNGAGUNG - Kesuksesan pemerintah kolonial Belanda membuka jalur Madiun-Ponorogo membuat mereka melanjutkan pembangunan jalur kereta api.
Staatsspoorwegen pun akhirnya melanjutkan kembali jalur Madiun-Ponorogo hingga wilayah selatan.
Baca Juga: Langganan Pedagang, Ini Sekelumit Sejarah Jalur Kereta Api Madiun-Ponorogo
Yakni memperpanjang jalur Madiun-Ponorogo menuju tambang batu gamping di Slahung Ponorogo.
Awalnya, pemerintah merencanakan Stasiun Balong sebagai titik terminus dari perpanjangan jalur Madiun-Ponorogo.
Baca Juga: Tak Hanya Jalur Tulungagung-Trenggalek, Berikut 13 Jalur Mati Lain di Wilayah Daop 7 Madiun
Hal ini dibuktikan dengan dibukanya jalur kereta api Ponorogo–Balong pada 1 November 1907 sejauh 17 kilometer.
Seiring meningkatnya pengangkutan batu gamping ke Slahung, maka dilanjut dengan Balong–Slahung pada 1 Agustus 1922.
Alhasil, panjang jalur kereta api sejauh 25,5 km selesai dibangun.
Baca Juga: Ini Biang Kerok Matinya Jalur Kereta Api Tulungagung-Trenggalek, Dampaknya Luar Biasa pada 1930
Pada zamannya, jalur Ponorogo-Slahung memiliki 13 pemberhentian.
Yakni Ponorogo - Surodikraman - Siman - Brahu - Grageh - Demangan - Jetis - Ngasinan - Balong - Nailan - Banggel - Broto - Slahung.
Sekadar diketahui, berdasarkan surat SS Nomor 3639 tertanggal 8 Maret 1902, diwacanakan akan dibangun jalur kereta dari Stasiun Jetis menuju Stasiun Tugu Trenggalek.
Hal ini jika terealisasi bakal menghubungkan jalur kereta api Ponorogo–Slahung dengan jalur kereta api Tulungagung–Trenggalek-Tugu.
Namun kenyataan berkata lain, krisis malaise 1930 membuat ambisi itu buyar di tengah jalan.
Jalur Tulungagung-Trenggalek-Tugu sudah hilang dari peredaran dan menyisakan beberapa tanda saja. ****
Editor : Dharaka R. Perdana
Sumber : Peta dan Sejarah Jalur Kereta Api di Indonesia