Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Wadah Kaum Tradisionalis, Berikut Sejarah Nahdlatul Ulama, Ternyata Diawali Pembentukan Komite Ini

Dharaka R. Perdana • Kamis, 30 Januari 2025 | 22:57 WIB

Lambang Nahdlatul Ulama (Wikipedia)
Lambang Nahdlatul Ulama (Wikipedia)

RADAR TULUNGAGUNG - Setiap 31 Januari merupakan hari istimewa bagi anggota Nahdlatul Ulama (NU) atau warga Nahdliyin.

Pasalnya pada 31 Januari merupakan hari lahir Nahdlatul Ulama yang pada 2025 ini tepat berusia 99 tahun atau 102 berdasarkan kalender Hijriyah.

Baca Juga: Dampak Libur Panjang Imlek-Isra Mikraj, Penumpang Bus di Terminal Tulungagung Naik 40 Persen

Nahdlatul Ulama merupakan organisasi massa (ormas) Islam terbesar di Indonesia yang kerap disebut bercorak tradisionalis.

Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya oleh beberapa ulama terkemuka saat itu.

Terutama KH Hasyim Asy'ari (Tebuireng, Jombang), KH Abdul Wahab Hasbullah  (Tambakberas, Jombang), dan KH Bisri Syansuri (Denanyar, Jombang).

Baca Juga: Pola Pembangunan di Tulungagung Harus Secara Bertahap, DPRD: Jangan Sporadis

Sesuai namanya, berdirinya NU memang menandai kebangkitan para ulama dengan menguatnya jaringan tradisional pimpinan pesantren, termasuk di dalamnya jaringan guru-murid.

Meski demikian, proses tersebut berlangsung di tengah menguatnya persaingan dengan kelompok reformis, khususnya Muhammadiyah (berdiri pada 1912).

Yang berakar pada perubahan politik-keagamaan di tanah suci menyusul berkuasanya rezim Ibnu Sa’ud yang beraliran Wahabi.

Baca Juga: Terjaring Ribuan Pelanggar Lalu Lintas di Tulungagung, Angka Pelanggar Pelajar Masih Tinggi

Maka, selain mengritik dominasi reformis pada Komite Khilafat, para ulama pesantren menyerukan pesan kepada Ibnu Sa’ud agar praktik keagamaan tradisional dipertahankan.

Hal ini disebabkan karena salah satu kebijakan yang diambil dinasti Sa’udi adalah melarang berbagai tradisi keagamaan, seperti tasawuf, tarekat, dan ziarah kubur, yang ketika itu berkembang di Mekah.

Termasuk menghancurkan Maulidah Sayyidah Fatimah dan menutup Dar Khaizuran.

Perubahan politik di Hijaz berpengaruh kuat dalam meningkatkan rivalitas antara kelompok reformis dan tradisionalis di Indonesia.

Konflik semakin mengemuka ketika pemerintah Saudi mengundang perwakilan umat Islam Indonesia untuk menghadiri Kongres Khilafah. 

Namun tidak ada perwakilan dari kelompok tradisionalis dalam delegasi Indonesia.

Baca Juga: Kasus Kiai Diduga Hamili Santriwati, Terdakwa dan Kuasa Hukumnya Tolak Restitusi, Begini Respon Kuasa Hukum Korban

Karena kekecewaan itu, KH Wahab Hasbullah, dengan restu dari KH Hasyim Asy’ari, mendirikan Komite Hijaz di Surabaya pada pertengahan Januari 1926. 

Komite inilah yang menjadi cikal bakal NU.

Sebagaimana tertuang dalam Pasal 3 ayat a dan b (Statuten Perkoempulan Nadlatoel Oelama 1926, HBNO, Soerabaja), NU bertujuan membina masyarakat Islam berdasarkan paham Ahlusunnah wa al-Jama’ah. 

Baca Juga: Duh, Talud Sungai Ngasinan di Kecamatan Pogalan Ambrol, Ancam Jalan Raya

Dalam teks asli tertulis ”Mengadakan perhoeboengan di antara oelama-oelama jang bermadzhab” dan “memeriksa kitab-kitab sebeloemnya dipakai oentoek mengadjar, soepaja diketahoei apakah itoe dari pada kitab-kitab Ahli Soennah wal Djama’ah atau kitab Ahli Bid’ah.” 

Teks ini menegaskan bahwa dalam pandangan keagamaan, NU mengikuti paham ahlus sunnah wal jamaah yang dalam lingkungan Nahdliyyin sering disingkat menjadi Aswaja.

Paham ini merujuk ke beberapa karakter, yaitu al-tawassut (moderat), al-i’tidal (adil), dan al-tawazun (keseimbangan).

Baca Juga: Puluhan Wisatawan Terjebak Tanah Longsor di Ranu Gumbolo Tulungagung

Pilihan untuk mengambil paham ini menjadi pembeda Nu dengan organisasi Islam lainnya.

Dengan didirikannya NU, kaum tradisionalis mempunyai organisasi sendiri yang dikelola secara modern, mempersatukan para ulama di sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Melalui NU, berbagai aspirasi dan kepentingan para ulama dibahas dengan cara yang terkoordinasi.

Dalam upaya memperluas jaringan, NU membuka diri kepada masyarakat muslim di luar Pulau Jawa.

Tahun 1930, sebuah cabang NU didirikan di Kalimantan, membawa lembaga ulama setempat, Hidajatul Islamiyah, bergabung dengan NU pada tahun 1936.

Dalam kongres Malang tahun 1937, NU telah memiliki 71 cabang, yang kemudian berkembang hingga 120 di tahun 1942. ****

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#nahdlatul ulama #jombang #KH Hasyim Asy'ari #KH Wahab Hasbullah #ulama #pesantren #nu #pondok pesantren #kh bisri syansuri #surabaya