Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pernah Jadi Partai Politik, Peran Nahdlatul Ulama Tak Bisa Disepelekan di Indonesia

Dharaka R. Perdana • Kamis, 30 Januari 2025 | 23:09 WIB

Lambang Nahdlatul Ulama (Wikipedia)
Lambang Nahdlatul Ulama (Wikipedia)

RADAR TULUNGAGUNG - Peran Nahdlatul Ulama tidak bisa disepelekan dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Sejak berdiri, Nahdlatul Ulama melancarkan berbagai program kegiatan yang menyasar di berbagai bidang kehidupan, mencakup ekonomi kerakyatan, keilmuan, sosial, budaya, dan kebangsaan.

Baca Juga: Wadah Kaum Tradisionalis, Berikut Sejarah Nahdlatul Ulama, Ternyata Diawali Pembentukan Komite Ini

Bersama berbagai ormas Islam di Indonesia, pada tahun 1937 Nahdlatul Ulama bergabung dalam MIAI (Majlis Islam A’laa Indonesia).

Namun, setelah Jepang datang di Indonesia, organisasi ini diubah menjadi Masjumi (Madjlis Sjuro Muslimin Indonesia).

Nahdlatul Ulama terus terlibat dalam Masjumi setelah kemerdekaan ketika lembaga ini berubah menjadi partai politik.

Baca Juga: Hilang Kendali Mobil Pick Up Hantam Ruko di Desa Pojok Ngantru Tulungagung

Namun berbagai konflik yang terjadi antara pimpinan Nahdlatul Ulama dan pimpinan Masyumi membuat Nahdlatul Ulama memutuskan untuk memisahkan diri dan membentuk partai sendiri pada 1952.

Pada Pemilu 1955, Partai Nahdlatul Ulama menjadi salah satu dari empat partai yang memenangkan pemilu pertama yang diadakan di Indonesia, dengan 45 kursi di MPR.

Tiga pilar penting keberhasilan Partai Nahdlatul Ulama saat itu adalah ulama, pesantren, dan politisi.

Baca Juga: Dampak Libur Panjang Imlek-Isra Mikraj, Penumpang Bus di Terminal Tulungagung Naik 40 Persen

Kiprah Nahdlatul Ulama dalam politik praktis cukup diperhitungkan, khususnya setelah menjadi elemen penting Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Namun dengan berbagai pertimbangan, pada Muktamar Nahdlatul Ulama 1984 di Situbondo memutuskan untuk kembali ke Khittah 1926.

Yakni dengan mengembalikan peran utama Nahdlatul Ulama sebagai organisasi sosial keagamaan.

Dengan posisi ini, Nahdlatul Ulama bergerak dalam berbagai aktivitas sosial-keagamaan.

Dalam kaitannya dengan persoalan hukum/fikih, Nahdlatul Ulama memiliki lembaga yang disebut dengan Lajnah Bahtsul Masail.

Baca Juga: Pola Pembangunan di Tulungagung Harus Secara Bertahap, DPRD: Jangan Sporadis

Lembaga ini turut mengambil keputusan dalam pengkajian hukum Islam mencakup persoalan fikih, tauhid, dan tasawuf yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Nahdlatul Ulama juga menaruh perhatian pada pengembangan pendidikan Islam yang dipandang sebagai pilar utama perwujudan masyarakat mandiri.

Melalui Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama yang berdiri pada 1929, NU mengelola berbagai lembaga pendidikan Islam, seperti pesantren, majelis taklim, diniyyah, madrasah/sekolah dan perguruan tinggi.

Baca Juga: Terjaring Ribuan Pelanggar Lalu Lintas di Tulungagung, Angka Pelanggar Pelajar Masih Tinggi

Di tahun yang sama, Nahdlatul Ulama juga membentuk Hoofd Bestuur Nahdlatul Oelama (HBNO) yang diarahkan sebagai lokomotif pembaharuan pendidikan Islam.

Sebagai sebuah organisasi, Nahdlatul Ulama berkontribusi dalam pembangunan dan kemajuan bangsa.

Selain memperkuat intelegensia muslim, Nahdlatul Ulama juga turut memperkuat demokratisasi, sistem birokrasi dan pemerintahan, serta kesejahteraan sosial-ekonomi umat. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#islam #nahdlatul ulama #partai nahdlatul ulama #miai #ulama #pesantren #partai politik #nu #ormas islam #masyumi