RADAR TULUNGAGUNG - Malang Raya tak hanya memilik jalur kereta api uap atau tram antara Kota Malang - Dampit yang mati.
Ternyata wilayah utara Malang juga ada jalur tram Stasiun Jagalan - Singosari yang sekarang tinggal cerita.
Baca Juga: Terminus di Jalur Kereta Api Malang - Dampit, Ternyata Begini Suasana Stasiun Dampit Tempo Dulu
Kendati demikian, beberapa sisa bangunan yang menjadi saksi jalur tram di Malang utara ini masih bisa ditemukan.
Menurut catatan sejarah, jalur tram dari Malang menuju Blimbing sejauh 6 kilometer dibuka pada tanggal 15 Februari 1903.
Baca Juga: Kontur Jalur Gondanglegi - Dampit di Malang Berbukit-bukit, Ternyata di Sini Letak Halte Turen
Selain untuk mendukung aktivitas masyarakat Kota Malang pada waktu itu, jalur ini juga terhubung dengan jalur kereta utama milik SS yaitu Stasiun Blimbing SS dan Stasiun Singosari SS.
Hal ini bertujuan untuk memudahkan arus distribusi barang terutama hasil industri gula yang banyak berdiri di Kota Malang kala itu.
Dari Stasiun Jagalan hingga Stasiun Singosari sendiri terdapat 11 pemberhentian tram.
Di antaranya Jagalan – Alun-alun – Zigweg Naar Batu (pertigaan menuju Batu di Celaket) – Rampal – Lowokwaru – Glintung – Blimbing MS – Arjosari – Karanglo – Mondoroko – Singsari SS – Singasari Pasar – Singasari MS.
Baca Juga: Hilang Dicabut Jepang, Dulu di Jalur Gondanglegi - Kepanjen Malang Ada 14 Pemberhentian Kereta Api
Di daerah Blimbing sendiri sebenarnya terdapat dua buah stasiun yakni Stasiun Blimbing SS dan Stasiun Blimbing MS yang berdekatan.
Stasiun Blimbing SS kini masih aktif digunakan untuk melayani penumpang kereta api lokal dengan tujuan Surabaya maupun Blitar.
Sementara untuk Stasiun Blimbing MS menurut info bekas bangunannya disewakan sebagai tempat tinggal.
Stasiun Blimbing MS sendiri dahulu memiliki tiga percabangan, yakni ke Stasiun Jagalan, Stasiun Tumpang, dan Stasiun Singosari.
Di sekitar area Stasiun Blimbing bekas jalur tram sudah tidak dijumpai. Konon bekas jalur tram dari Blimbing hingga Singosari memang sudah dicabut pascakemerdekaan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana