RADAR TULUNGAGUNG - Trowulan di kalangan masyarakat dianggap sebagai pusat atau ibu kota Kerajaan Majapahit.
Namun benarkah Trowulan yang sekarang hanya sekadar kecamatan di Kabupaten Mojokerto ini ibu kota Majapahit?
Baca Juga: Masih Diperdebatkan para Ahli, Begini Tata Kota Majapahit Menurut Maclaine Pont
Di manakah batas-batas ibu kota Majapahit di Trowulan pada zamannya?
Upaya untuk mengetahui batas-batas kawasan Trowulan telah dilakukan dengan cara survei sistematis pada 1991-1993 oleh tim Indonesian Field School of Archaeology (IFSA).
Penelitian IFSA bertitik tolak dari beberapa asumsi. Asumsi pertama, luas ruang kota secara horizontal dicerminkan kekerapan (frequency) dan kepadatan (density) tinggalan arkeologis di permukaan.
Gradasi kekerapan atau bahkan tidak adanya tinggalan arkeologi di suatu areal, pada radius tertentu dari pusat kota menandai keberadaan batas atau tepi kota.
Asumsi kedua, pola pemukiman dan jenis-jenis pengelompokan masyarakat dicerminkan oleh variabilitas, kekerapan, serta kerapatan dan distribusi tinggalan arkeologis di permukaan.
Baca Juga: Nama Asli Penulis Kitab Negarakertagama Mencengangkan, Ternyata Dia Pejabat di Majapahit
Akumulasi tinggalan arkeologis secara mencolok pada areal-areal tertentu sangat potensial untuk menandai kemungkinan adanya pengelompokan masyarakat kuna pemukim Situs Trowulan (Faisaliskandiar, 1995).
Survei sistematis dilakukan dengan menerapkan strategi pencuplikan jalur (systematic transect sampling).
Baca Juga: Ini Nama Asli Kitab Negarakertagama dari Era Majapahit, Lokasi Penemuannya Bukan di Pulau Jawa
Wilayah ditentukan seluas 9 X 11 km yang memanjang utara selatan.
Daerah yang disurvei adalah 11 jalur yang telah ditetapkan, masing-masing jalur berukuran 0,1 km X 9 km.
Berbagai jenis keramik dan tembikar yang berada dalam jalur dikumpulkan untuk dianalisis lebih lanjut.
Dari hasil survei disimpulkan bahwa ternyata batas-batas situs sukar dipastikan.
Baca Juga: Wilayah di Tulungagung Ini Sudah Disebut Sejak Zaman Majapahit, Kitab Negarakertagama Menulis Begini
Rupanya situs Trowulan tidak dapat dipisahkan secara mutlak dari tanah di sekitarnya.
Sebaliknya peralihan dari pusat situs kepada tapak yang berada di luar situs tidak dapat diperincikan.
Nampak pola pemukiman Situs Trowulan memang tidak terdiri dari suatu kelompok bangunan yang utuh, melainkan sejumlah pusat yang dipisahkan satu dari yang lain oleh tanah lapang (Miksic 1992).
Selain itu dari kepadatan dan kekerapan temuan keramik terlihat adanya pemusatan di sekitar Kolam Segaran.
Semakin jauh dari lokasi itu temuannya cenderung menipis. Artefak keramik di sekitar Kolam Segaran cenderung relatif tua.
Sementara itu semakin jauh dari Kolam Segaran ke arah barat, artefak keramik cenderung berasal dari period yang lebih muda (Faisaliskandiar, 1995). ****
Editor : Dharaka R. Perdana