Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jangan Tertukar, Sama-sama Tujuh Pohon Beringin, Ini Perbedaan Waringin Pitu dan Waringin Sapta

Dharaka R. Perdana • Selasa, 25 Februari 2025 | 20:25 WIB

 

Ilustrasi peradaban di pinggir sungai era kerajaan Hindu-Budha di Jawa Timur (SEAART.AI)
Ilustrasi peradaban di pinggir sungai era kerajaan Hindu-Budha di Jawa Timur (SEAART.AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Nama Waringin Pitu terkadang menimbulkan kerancuan dengan nama Waringin Sapta.

Jika dilihat dari susunan maupun arti dari Waringin Pitu dan Waringin Sapta memiliki arti pohon beringin yang berjumlah tujuh.

Baca Juga: Warisan Kerajaan Mataram Kuno? Ini Nama Jabatan di Majapahit Sesuai Prasasti Waringin Pitu

Namun jika dicermati dengan seksama, ada perbedaan yang mendasar antara Waringin Pitu dan Waringin Sapta. Berikut ulasannya.

1. Waringin Pitu

Waringin Pitu merupakan prasasti yang diterbitkan pada masa Majapahit. Yakni pada masa pemerintahan Dyah Kertawijaya atau Brawijaya I.

Baca Juga: Prasasti Waringin Pitu Ajarkan Emansipasi Wanita, Buktinya Ada Raja Wanita di 9 Negara Bagian Majapahit, Ini Rinciannya

Prasasti Waringin Pitu berangka tahun 1369 Saka/ 1447 M (abad ke-15).

Bentuknya berupa piagam panjang dan berjumlah 14 lempeng (154 baris), serta pernah ditranskripsikan JG de Casparis.

Baca Juga: Bukan di Tulungagung, Prasasti Waringin Pitu Justru Ditemukan di Trenggalek, Ini Nama Lainnya

Karena ditemukan di Kelurahan Surodakan, Trenggalek, lempengan tembaga ini juga disebut Prasasti Surodakan.

Prasasti Waringin Pitu berisi penganugerahan status perdikan atau swatantra kepada wilayah yang sekarang bernama Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.

Baca Juga: Inilah Batas-batas Perdikan Waringin Pitu di Tulungagung Era Majapahit, Paling Barat di Kecamatan Ini

Bahkan dari Prasasti Waringin Pitu bisa diketahui kondisi politik di era akhir Majapahit.

2. Waringin Sapta

Waringin Sapta merupakan bangunan bendungan di wilayah Sidoarjo pada masa Raja Airlangga memerintah Kerajaan Kahuripan,

Hal ini diperkuat isi dari Prasasti Kamalagyan yang berangka tahun 959 Saka atau 1037 Masehi.

Baca Juga: Prasasti Lawadan Tulungagung Berhubungan Erat dengan Prasasti Kamulan Trenggalek, Benarkah Demikian?

Prasasti Kamalagyan dibuat untuk memperingati pembuatan bendungan di Waringin Sapta.

Di dalam prasasti itu dikatakan bahwa Raja Cri Maharaja Rake Hulu Cri Lokecwara Dharmmawanca Airlangganama Prasadottungadewa atau Airlangga telah menetapkan pengurangan pajak-pajak yang harus diserahkan ke kas kerajaan dari Desa Kamalagyan dan sekitarnya.

Baca Juga: Alasan Pemberian Sima pada Lawadan Masih Misteri, Benarkah Berhubungan dengan Perpolitikan Kadiri?

Pajak dari Desa Kamalagyan dan sekitarnya dialihkan untuk membangun bendungan Waringin Sapta.

Sejak saat itu, masyarakat di sekitar Desa Kamalagyan tidak lagi dihantui banjir yang setiap saat mengancam.

Baca Juga: Ekologi Tulungagung adalah Rawa, Prasasti Lawadan Menulis Begini

Bahkan roda perdagangan di Desa Kamalagyan bisa berkembang pesat, karena penduduk bisa berperahu menuju wilayah hulu.

Begitulah ulasan perbedaan antara istilah Waringin Pitu dan Waringin Sapta.

Baca Juga: Terungkap, Desa di Tulungagung Selatan Ini yang Menjadi Asal Prasasti Lawadan

Bahkan ada ahli yang berpendapat jika penamaan Waringin Pitu terinspirasi dari Waringin Sapta.

Mengingat letak Perdikan Waringin Pitu juga berada di dekat sebuah sungai, yakni Brantas. Benarkah demikian?

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #sidoarjo #Prasasti Waringin Pitu #waringin pitu #desa ringinpitu #Kahuripan #waringin sapta #airlangga