RADAR TULUNGAGUNG - Orang-orang Jawa tiba di Suriname pertama kali pada tanggal 9 Agustus 1890.
Mereka dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda ke Suriname untuk dipekerjakan pabrik pengolahan gula di Kota Marienburg, Suriname.
Gelombang pengiriman orang jawa sebagai pekerja kontrak pabrik pengolahan gula di Suriname berlangsung sampai tahun 1939.
Artinya hampir selama 50 tahun orang-orang jawa secara bergelombang dikirim ke Suriname.
Baca Juga: Rahmad Setyo Jadmiko, Berkecimpung Di Dunia Siaran Hingga Ke Suriname
Diperkirakan, orang-orang Jawa yang “Dipindahkan” oleh pemerintah kolonialisme Belanda ke Suriname berjumlah 33 ribu jiwa.
Masyarakat Jawa yang dipindahkan ke Suriname tetap menjaga tradisi, bahasa dan identitasnya sebagai orang Jawa.
Orang-orang Jawa yang dikirim ke Suriname pada awalnya masih berharap ingin pulang ke tanah Jawa.
Meski pada akhirnya, diantara mereka lebih banyak memilih menetap dan membangun keluarga di Suriname.
Baca Juga: Bahasa Jawa Terancam Hilang di Suriname, Hal Ini Yang Jadi Penyebabnya
Di Kota Marienburg, pabrik pengolahan gula yang menjadi saksi kedatangan orang jawa pertama kali ke Suriname masih ada.
Meski tidak lagi digunakan, bangunan itu menjadi saksi sejarah adanya komunitas Jawa di Suriname, negara yang terpaut jauh dari Indonesia.
Setelah ratusan tahun sejak pertama kali Bahasa Jawa Masuk ke Suriname, kini Bahasa Jawa di negara itu terancam hilang.
Berbagai faktor menjadi latar belakang kenapa kemungkinan itu bisa terjadi.
Baca Juga: Tahukah Kalian Berapa Jumlah Pantai di Tulungagung? Simak Untuk Tahu Jawabannya
Saat ini mayoritas pemuda komunitas Jawa di Suriname tidak menggunakan Bahawa Jawa lagi.
Lantas siapa lagi yang akan mempertahankan keberadaan Bahasa Jawa di Suriname dimasa yang akan datang?
Baca Juga: Terpantau sejak Awal 2025, MinyaKita Lampaui HET Pemerintah
Duta besar Indonesia Untuk Suriname, Julang Pujianto mengungkapkan di Suriname tidak semua komunitas Jawa memakai secara aktif bahasa Jawa.
“Rupanya tidak semua komunitas Jawa di Suriname menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa komunikasi di keluarga,” ungkap Julang Pujianto.
Itulah yang menjadi kendala utama dalam mempertahankan Bahasa Jawa di Suriname.
Para pemuda komunitas jawa di Suriname lebih senang menggunakan bahasa Belanda atau bahasa lokal Suriname dalama berkomunikasi sehari-hari.
Orang tua komunitas Jawa di Suriname juga tidak membiasakan anak mereka menggunakan Bahasa Jawa di Keluarga.
Mereka lebih memilih mengajarkan anak mereka dengan Bahasa Belanda karena bahasa itu yang dijadikan bahasa saat di sekolah.
Baca Juga: Tahukah Kamu Perbukitan Walikukun Tulungagung? Fakta yang Terkandung Cukup Mencengangkan
“Saya kurang tahu kenapa ini bisa terjadi, ada yang mengatakan oh Bahasa Jawa dinilai tertinggal atau seperti apa. Satu dua keluarga komunitas Jawa menganggap demikian,” katanya.
Julang mengatakan untuk melestarikan Bahasa Jawa di Suriname tidak ada cara lain selain menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita juga berusaha agar bahasa jawa menjadi bahasa sehari-hari minimal untuk keluarga mereka (komunitas jawa),” katanya.
Baca Juga: Lampu Son-T Akan Diganti Dengan Lampu LED Untuk Jalanan Tulungagung, Manakah Yang Lebih Terang?
Julang menambahkan pihaknya telah menyebar tempat-tempat kursus Bahasa Jawa di Suriname.
Itu menjadi bagian penting dalam usaha mempertahankan Bahasa Jawa di Suriname. ***
Editor : Mukhamad Zainul Fikri