RADAR TULUNGAGUNG - Pohon-pohon beringin yang berada di alun-alun Kota Tulungagung, ternyata memiliki cerita panjang. Bahkan menurut cerita babad, salah satu dari pohon tersebut telah berhasil digunakan untuk menghentikan banjir di Tulungagung sejak zaman dahulu.
Keberadaan pohon-pohon beringin di alun-alun Kota Tulungagung, dalam cerita rakyat dan Babad Tulungagung, sangat erat kaitannya dengan Desa Ringinpitu (sekarang berada di wilayah Kecamatan Kedungwaru).
Konon pohon-pohon beringin di alun-alun itu, satu berasal dari Kerajaan Mataram. Tujuh pohon lagi pindahan dari Desa Ringinpitu. Pohon-pohon beringin itu digunakan menyumbat sumber air di alun-alun, agar Tulungagung terhindar dari banjir.
Cerita ini berawal ketika Tulungagung masih bernama Kadipaten Ngrowo dengan ibu kotanya di wilayah Kalangbret. Waktu itu Ngrowo di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram di Ngayogyakarta. Kerajaan Mataram ingin memindahkan pusat ibu kota Ngrowo, ke tempat yang lebih strategis. Dipilihlah wilayah di sebelah utara Wajak, yang sekarang berupa alun-alun Tulungagung.
Sayangnya di lokasi yang baru itu, ada sumber air yang sangat besar dan sering menimbulkan banjir. Kerajaan lantas mengirim satu pohon beringin untuk ditanam di tempat yang akan dijadikan sebagai pusat ibu kota Ngrowo. Selain sebagai identitas wilayah kekuasaan Mataram, pohon beringin itu juga dimaksudkan untuk menyumbat sumber air tersebut.
Perkara menyumbat sumber air di alun-alun bukan hal yang mudah. Satu pohon beringin kiriman dari Mataram, masih kurang. Sehingga dirasa perlu mencari pohon beringin lain untuk ditanam di sekitar lokasi itu.
Ketika itu di bumi Ngrowo ada seorang tokoh masyarakat yang juga tokoh Agama Islam dari Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru, yang sangat disegani. Dia adalah Kiai Abu Mansyur.
Kiai Abu Mansyur lantas turun tangan. Sang Kiai lantas mencari pohon-pohon beringin lain yang dianggap bisa menyumbat sumber air. Didapatlah kabar keampuhan pohon-pohon beringin di Desa Ringinpitu.
Sesuai dengan namanya Ringinpitu, ternyata pohon beringin yang berada di daerah bekas perdikan Majapahit, itu jumlahnya ada tujuh pohon.
Dengan mengerahkan kekuatan batin, Kiai Mansyur dibantu oleh murid-muridnya berhasil memindahkan pohon beringin ke alun-alun Tulungagung.
Pohon beringin tersebut kemudian ditanam di mata air yang berada di alun-alun, sekaligus untuk menyumpat mata air tersebut.
Konon saat itu banjir berhasil ditanggungi dan Ibu Kota Tulungagung berhasil dipindahkan ke tempat yang baru.
Sumber: Buku Sejarah Kecil Perdikan Rajasa Kusumanpura.
Editor : Sandy Sri Yuwana