RADAR TULUNGAGUNG - Agustus merupakan bulan yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena di dalamnya memperingati HUT Kemerdekaan RI yang juga dirayakan masyarakat Tulungagung.
Di Tulungagung sendiri berdiri beberapa monumen yang menjadi penanda perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan.
Setiap monumen di kabupaten ini menyimpan kisah heroik yang patut dikenang oleh generasi penerus.
Berikut 5 monumen di Tulungagung yang bisa menjadi wisata sejarah pada bulan kemerdekaan ini:
Baca Juga: Sungai di Tulungagung Ini Sempat Menjadi Tempat Pembuangan Mayat Korban Penjajahan Belanda
1. Monumen PETA
Monumen PETA terletak di Jalan Ahmad Yani Timur Tulungagung, di sebelah barat Gereja Katolik Santa Maria dengan Tidak Bernoda Asal.
Dibangun pada 1989, monumen ini berada di lokasi bekas markas Batalyon I Karesidenan Kediri, Tentara Pembela Tanah Air (PETA) pada masa pendudukan Jepang (1942–1945).
Tentara PETA dibentuk untuk mempertahankan wilayah dari serangan Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya.
Kini, monumen ini menjadi pengingat semangat sukarelawan dalam mempertahankan tanah air.
Baca Juga: Transformasi Tempat Angker Pabrik Gula Bekas Penjajahan di Tulungagung
2. Monumen Sersan Soeharto
Berlokasi di Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tulungagung, Monumen Sersan Soeharto berdiri gagah di depan Terminal Gayatri, tepat di sebelah timur Kantor Dinas Perhubungan Tulungagung.
Diresmikan pada 20 April 1976 oleh Pangdam VIII/Brawijaya Mayjen Witarmin, monumen ini mengenang Sersan Soeharto, pemimpin gerakan TRIP di Tulungagung yang lahir pada 1928 dan gugur pada 1949.
Patungnya menggambarkan sosok pria bersenjata, simbol keteguhan melawan penjajah.
3. Monumen TRIP
Monumen TRIP atau Monumen Mastrip terletak di Dusun Talun, Desa Beji, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung di sebelah selatan Pasar Burung.
Monumen ini mengenang perjuangan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), yang beranggotakan pelajar usia 13–18 tahun dari Barisan Keamanan Rakyat.
Dibentuk resmi pada 22 September 1945, pasukan ini berjuang mempersenjatai diri demi kemerdekaan.
Dua prasasti di lokasi ini memuat pesan bahwa perjuangan para pelajar adalah perjuangan seluruh rakyat Indonesia.
Baca Juga: Berikut Nama 14 Dam yang Mengamankan Aliran Sungai di Tulungagung, Nomor 5 Jadi Monumen Pengairan
4. Monumen Sikatan
Di Desa Ngujang, Kecamatan Kedungwaru, tepatnya di timur Jembatan Ngujang 1 Tulungagung, berdiri Monumen Sikatan.
Diresmikan pada 28 April 1986, monumen ini mengenang kemenangan Mobile Batalyon Sikatan melawan Belanda dalam Agresi Militer II pada awal 1949.
Pertempuran sengit semalam suntuk ini berhasil menggagalkan upaya Belanda meledakkan jembatan strategis.
Baca Juga: Dam Cluwok Ditetapkan sebagai Monumen Pengairan
Nama “Sikatan” diambil dari burung kecil yang gesit dan cepat, mencerminkan karakter pasukan tersebut.
3. Monumen Yonif 505 Mliwis
Di Dusun Krajan, Desa Beji, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung tepat di depan SMA Negeri 1 Boyolangu, berdiri Monumen Yonif 505 Mliwis.
Diresmikan pada 27 Desember 1986 oleh Pangdam V/Brawijaya Mayor Jenderal TNI Saiful Sulun, monumen ini merekam sejarah empat periode batalyon yang bermarkas di Tulungagung dan sekitarnya sejak 1945 hingga 1966.
Tulisan di monumen ini menegaskan bahwa Yonif 505 Mliwis selalu mengabdi bersama rakyat demi mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.
Mengunjungi monumen di Tulungagung bukan hanya soal wisata sejarah, tapi juga cara menghargai jasa para pahlawan.
Setiap monumen mengajarkan nilai keberanian, pengorbanan, dan persatuan yang relevan hingga kini.
Jadi, jika berkunjung ke Tulungagung, sempatkanlah menyusuri jejak heroik ini untuk meneladani semangat juang para pendahulu.
Editor : Dharaka R. Perdana