Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dari Rotterdam ke Proklamasi, Mengingat Kembali Jejak Diplomasi Genius Mohammad Hatta untuk Kemerdekaan Indonesia

Zahrotul Afkarina • Rabu, 13 Agustus 2025 | 19:20 WIB

Di balik gegap gempita Proklamasi 17 Agustus 1945, ada sosok cerdas, tenang, dan penuh strategi: Mohammad Hatta. Sebagai wakil presiden pertama Indonesia dan salah satu proklamator kemerdekaan.
Di balik gegap gempita Proklamasi 17 Agustus 1945, ada sosok cerdas, tenang, dan penuh strategi: Mohammad Hatta. Sebagai wakil presiden pertama Indonesia dan salah satu proklamator kemerdekaan.

RADAR TULUNGAGUNG - Di balik gegap gempita Proklamasi 17 Agustus 1945, ada sosok cerdas, tenang, dan penuh strategi, Mohammad Hatta. Sebagai wakil presiden pertama Indonesia dan salah satu proklamator kemerdekaan. 

Hatta tidak hanya berjuang dengan orasi dan pidato, tetapi juga melalui strategi diplomasi tingkat tinggi yang membawa Indonesia menuju pengakuan dunia.

Perjalanan diplomasi Hatta dimulai jauh sebelum kemerdekaan, bahkan sejak ia menimba ilmu di Rotterdam, Belanda.

Dari kota inilah, ia merumuskan pemikiran, strategi, dan jaringan yang kelak menjadi senjata tanpa peluru untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Makna Mendalam Simbol Kemerdekaan: Merah Putih, Garuda, dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, pada 12 Agustus 1902. Ia melanjutkan pendidikan tinggi di Handels Hogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, Belanda, tahun 1921.

Di sanalah kecintaan Hatta pada politik dan nasionalisme Indonesia tumbuh subur. Apalagi dia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia (PI) dan menjadi ketuanya.

Mereka memperjuangkan perubahan orientasi PI dari organisasi kultural ke organisasi politik yang mendesak kemerdekaan Indonesia.

Dia berjuang dengan cara aktif menulis artikel dan menghadiri konferensi internasional untuk menyuarakan isu kolonialisme.

Baca Juga: Makna dan Semangat Kemerdekaan Indonesia: Sejarah, Arti, dan Cara Memperingatinya

"Kemerdekaan tidak diberikan, tetapi harus diperjuangkan melalui segala cara — termasuk diplomasi." – Mohammad Hatta

Diplomasi Sebagai Jalan Menuju Kemerdekaan. Hatta menyadari sejak awal bahwa kekuatan militer saja tidak akan cukup untuk meraih kemerdekaan.

Maka dia membangun strategi diplomasi jangka panjang, dengan tiga pilar utama:

1. Menggalang Dukungan Internasional

Baca Juga: Rekam Jejak Tandyo Budi Revita, Sosok Wakil Panglima TNI Era Presiden Prabowo

Hatta membangun opini publik global terhadap penderitaan rakyat Indonesia di bawah penjajahan Belanda.

Dia menyuarakan bahwa Indonesia berhak menentukan nasib sendiri, sesuai dengan prinsip demokrasi modern dan hak asasi manusia.

2. Membentuk Aliansi dengan Tokoh Dunia

Hatta membangun komunikasi dengan tokoh kemerdekaan India seperti Jawaharlal Nehru. Bahkan juga menjalin kedekatan dengan negara-negara Muslim seperti Mesir dan Pakistan.

Negara-negara di Asia-Afrika juga tak luput dari sasaran lobinya agar mendukung kemerdekaan Indonesia di forum internasional.

3. Strategi di Meja Perundingan.

Setelah Proklamasi, Hatta menjadi arsitek utama dalam perundingan-perundingan besar seperti Perjanjian Linggarjati (1946) dan Perjanjian Renville (1948).

Walaupun hasil perjanjian ini kontroversial, Hatta tahu bahwa waktu adalah senjata, dan diplomasi adalah jalan untuk memperkuat posisi Indonesia sambil menunggu momentum yang tepat.

Baca Juga: Presiden Prabowo Beri Tiga Kado Istimewa untuk Guru Jelang HUT ke-80 RI

 

Diplomasi Pasca-Proklamasi: Membawa Indonesia ke Peta Dunia. Setelah Indonesia merdeka, tantangan baru muncul, bagaimana membuat dunia mengakui kemerdekaan tersebut?

Negara Pertama yang Mengakui RI: Mesir. Berkat jaringan diplomatik Hatta, Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia secara de jure pada 1947.

Peran di Sidang PBB. Diplomasi Hatta mengantarkan Indonesia ke meja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tempat di mana kemerdekaan Indonesia akhirnya mendapatkan pengakuan lebih luas.

Di tahun 1948, Hatta merumuskan doktrin “politik luar negeri bebas aktif”, yang menjadi pijakan Indonesia dalam berelasi dengan negara lain dengan tidak memihak blok manapun, tetapi tetap aktif dalam menjaga perdamaian dan keadilan global. ****

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#Proklamasi #diplomasi #mohammad hatta #proklamator