RADAR TULUNGAGUNG - Lawang Sewu, yang berarti “seribu pintu” dalam bahasa Jawa, berdiri megah di pusat Kota Semarang, Jawa Tengah.
Tepatnya di timur Simpang Lima Semarang atau Alun-alun Jawa Tengah.
Dibangun pada 1904 oleh pemerintah kolonial Belanda, bangunan ini awalnya berfungsi sebagai kantor Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), perusahaan kereta api Hindia Belanda.
Baca Juga: Simak 4 Stasiun Kereta Api Aktif di Ngawi, Nomor 3 dan 4 Tak Layani Naik Turun Penumpang
Arsitekturnya bergaya kolonial Eropa dengan dominasi jendela besar, pintu tinggi, dan lorong luas yang membuatnya ikonik hingga kini.
Gedung Lawang Sewu sempat berubah fungsi, khususnya pada 1942 saat Jepang mengambil alih Indonesia.
Bangunan ini dijadikan markas militer dan pusat logistik tentara Jepang. Sebagian ruang bawah tanah difungsikan sebagai penjara dan tempat interogasi, terutama bagi para pejuang dan tahanan politik.
Baca Juga: Yuk Kenalan dengan 4 Stasiun Kereta Api di Madiun Raya, Nomor 2 dan 4 Hanya untuk Persilangan
Banyak kisah kelam yang beredar dari masa ini, termasuk cerita bahwa ruang bawah tanahnya digunakan untuk menahan para tawanan dalam kondisi yang sangat buruk.
Cerita inilah yang kemudian menambah aura misteri Lawang Sewu hingga sekarang.
Menjelang akhir pendudukan Jepang, pada Oktober 1945, terjadilah Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Baca Juga: Jalur Percabangan Kepanjen dan Dampit, Begini Potret Stasiun Gondanglegi Malang
Pertempuran ini pecah setelah ketegangan antara pemuda Indonesia dan tentara Jepang memuncak. Lawang Sewu menjadi salah satu titik strategis karena posisinya yang berada di pusat kota.
Pertempuran berlangsung sengit. Para pejuang berusaha merebut Lawang Sewu yang dijadikan markas Jepang.
Banyak korban jatuh di pihak Indonesia, namun keberanian mereka menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Semarang.
Keunikan Arsitektur Lawang Sewu
Lawang Sewu dikenal dengan desain arsitektur kolonialnya yang megah. Meski namanya berarti “seribu pintu”, jumlah sebenarnya sekitar 429 pintu dan ratusan jendela tinggi.
Baca Juga: Hilang Dicabut Jepang, Dulu di Jalur Gondanglegi - Kepanjen Malang Ada 14 Pemberhentian Kereta Api
Jendela besar dan tinggi memungkinkan sirkulasi udara yang baik, sehingga ruangan tetap sejuk meski tanpa pendingin udara.
Lawang Sewu memiliki dinding tebal dan lantai marmer membuat bangunan ini awet lebih dari satu abad.
Bangunan ini terdiri dari beberapa sayap dan halaman tengah yang luas, menjadikannya salah satu kompleks gedung kolonial terbesar di Jawa Tengah.
Cerita Mistis dan Daya Tarik Wisata
Selain nilai sejarahnya, Lawang Sewu juga terkenal karena cerita mistisnya. Konon, beberapa ruangan terutama di lantai bawah dan ruang penjara memiliki “penunggu” yang sering disebut wisatawan maupun pemandu lokal.
Hal ini justru menjadi daya tarik tersendiri, apalagi bagi wisatawan yang tertarik dengan wisata horor.
Namun, cerita mistis ini tidak mengurangi minat pengunjung. Justru, banyak turis datang untuk merasakan sensasi menjelajahi bangunan bersejarah yang dipenuhi legenda tersebut.
Kini Lawang Sewu terlihat megah dan sedap dipandang mata. Khususnya setelah mengalami renovasi besar-besaran oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI), Lawang Sewu kini berfungsi sebagai museum perkeretaapian.
Di dalamnya terdapat koleksi foto sejarah pembangunan kereta api di Indonesia, artefak dan peralatan perkeretaapian kuno, miniatur lokomotif dan rel kereta.
Kegiatan wisata edukasi ini menjadikan Lawang Sewu tak hanya sebagai destinasi foto, tapi juga pusat pembelajaran sejarah transportasi Indonesia. ****
Editor : Dharaka R. Perdana