Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sekelumit Kisah Meriam Banteng Blorok, Pernah Dibawa Gerilya Melintasi Wilayah Tulungagung, Ini Rutenya

Dharaka R. Perdana • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 20:43 WIB

Meriam Banteng Blorok pernah terlibat pertempuran di Tulungagung. (FACEBOOK F
Meriam Banteng Blorok pernah terlibat pertempuran di Tulungagung. (FACEBOOK F

RADAR TULUNGAGUNG - Meriam Banteng Blorok merupakan salah satu senjata perang yang cukup legendaris di kalangan pejuang.

Siapa sangka, meriam Banteng Blorok yang termasuk kategori senjata artileri medan ini pernah terlibat pada tiga pertempuran yang melibatkan TRIP dan Belanda di Tulungagung.

Baca Juga: Berikut Nama Rumah Dinas Kepala Daerah di Bakorwil 1 Madiun, Nomor 11 Pernah Dibakar Saat Agresi Militer Belandda

Apalagi saat Agresi Militer II pada 1949, meriam Banteng Blorok buatan Bofors Swedia melewati beberapa wilayah di Tulungagung. Karena ada instruksi membawa meriam ini dari Surakarta menuju Malang.

Penulis buku dan pemerhati sejarah Tulungagung, Agus Ali Imron Al Akhyar pada 2023 silam menjelaskan, kisah meriam Banteng Blorok dimulai saat Belanda kembali ke Tulungagung dan melakukan lagi gencatan senjata saat Agresi Militer II yang dimulai 19 Desember tahun 1948.

Saat itu, Belanda pertama kali menyerang dan merebut Jogjakarta (Ibu Kota Indonesia waktu itu) serta daerah kekuasaan Republik Indonesia lainnya.

Baca Juga: Sungai di Tulungagung Ini Sempat Menjadi Tempat Pembuangan Mayat Korban Penjajahan Belanda

Dengan mengerahkan kekuatan besar Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) atau tentara Hindia Belanda serta serangan taktis yang dilakukan, dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan dari serangan pertama itu,

Belanda berhasil menguasai pusat-pusat kota di Pulau Jawa yang berada di utara Sungai Brantas.

“Jadi yang dikuasai Belanda saat Agresi Militer II itu adalah pusat-pusat kota. Secara umum, mereka (Belanda) menguasai wilayah utara Sungai Brantas, tapi sebelah selatan Sungai Brantas secara umum masih dikuasai tentara Indonesia,” jelas Agus saat itu.

Baca Juga: Modernisasi Peninggalan Era Penjajahan, Tiwul Instan Demuk Tulungagung Laku Hingga Kalimantan

Di tengah-tengah agresi militer itu, ada instruksi agar membawa meriam Banteng Blorok dari wilayah Surakarta ke Malang yang dikawal batalion TRIP.

Dengan melalui wilayah selatan Sungai Brantas yang saat itu masih belum sepenuhnya dikuasai Belanda.

Tujuan dikirimkannya meriam itu adalah untuk memperkuat pertahanan serta memukul mundur perlawanan militer Belanda.

Berdasarkan buku Peranan Meriam Gempur Banteng Blorok dalam Perang Kemerdekaan R.I, meriam itu juga melewati beberapa wilayah Tulungagung.

Rutenya mulai dari Desa Gamping – Campurdarat - Pojok – Boyolangu – Sanggrahan – Tanjung (Tanjungsari, red) - Domasan – Panjer (Panjerejo) – Ngunut.

Setelah sampai di Ngunut, menyeberangi Sungai Brantas ke arah utara melalui sebelah barat Srengat untuk selanjutnya masuk ke daerah gerilya yang ditentukan. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #gerilya #trip #banteng blorok #meriam