RADAR TULUNGAGUNG - Meriam Banteng Blorok menjadi saksi bisu perjuangan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) saat mempertahankan kemerdekaan di Tulungagung.
Dalam perjalanan panjangnya menuju Malang, meriam Banteng Blorok tidak hanya sekadar diangkut, tetapi juga digunakan dalam pertempuran melawan pasukan Belanda.
Bahkan, meriam Banteng Blorok ikut terlibat dalam tiga pertempuran besar yang pecah di wilayah Tulungagung.
Pertempuran pertama terjadi di Kecamatan Campurdarat. Di wilayah ini, TRIP berhadapan langsung dengan pasukan Belanda yang berusaha menghadang perjalanan meriam tersebut.
Baca Juga: Gedung Lawang Sewu Semarang, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah dari Belanda hingga Indonesia Merdeka
Dengan strategi gerilya dan dukungan meriam, pasukan pelajar Indonesia mampu menahan serangan dan tetap melanjutkan perjalanan.
Lanjut ke pertempuran kedua di Kecamatan Rejotangan, suasana menjadi semakin tegang. Belanda yang terus memburu menyadari pentingnya artileri medan buatan Bofors Swedia ini.
Baca Juga: Sungai di Tulungagung Ini Sempat Menjadi Tempat Pembuangan Mayat Korban Penjajahan Belanda
Namun, TRIP berhasil memanfaatkan meriam Banteng Blorok untuk melawan balik, sehingga pasukan Belanda kesulitan menembus pertahanan.
Pertempuran terakhir di Tulungagung pecah di Kecamatan Ngunut. Di sinilah bentrokan paling berat terjadi.
Pasukan TRIP harus mempertahankan meriam seberat satu ton itu sekaligus mencari cara agar bisa menyeberangi Sungai Brantas.
Dengan keberanian luar biasa, mereka tidak hanya mampu menghalau Belanda, tetapi juga berhasil mengangkut meriam tersebut melewati sungai.
Bahkan, demi mempercepat perjalanan, meriam itu sempat dibawa dengan cikar atau kereta lembu.
Meski menghadapi tiga kali pertempuran, TRIP akhirnya sukses membawa meriam Banteng Blorok hingga ke tempat tujuannya, yaitu Malang.
Kisah heroik ini menjadi bukti bahwa semangat perjuangan para pelajar Indonesia di Tulungagung tidak pernah surut.
Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi memastikan senjata berat itu tetap berada di tangan Republik, bukan direbut kembali oleh Belanda. ****
Editor : Dharaka R. Perdana