Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Walaupun Tanpa AC, Rumah Loji Peninggalan Belanda Terasa Lebih Dingin, Ternyata Dipicu Hal Ini

M Filzaa Aulia N • Selasa, 19 Agustus 2025 | 17:40 WIB

Rahasia rumah kolonial tetap sejuk tanpa AC, desain arsitektur dan materialnya mampu meredam panas tropis secara alami.
Rahasia rumah kolonial tetap sejuk tanpa AC, desain arsitektur dan materialnya mampu meredam panas tropis secara alami.

RADAR TULUNGAGUNG - Banyak orang bertanya mengapa rumah zaman kolonial Belanda atau rumah loji terasa lebih dingin meski tanpa pendingin ruangan modern.

Sebagian mengaitkannya dengan hal mistis, namun penjelasan ilmiah membuktikan bahwa arsitektur era Belanda dirancang khusus untuk beradaptasi dengan iklim tropis.

Bangunan peninggalan kolonial, seperti Lawang Sewu di Semarang, Gedung BI Yogyakarta, hingga Gereja Katedral Jakarta, selalu terasa sejuk saat dimasuki.

Suasana adem ini lahir dari desain arsitektur yang memperhatikan faktor sirkulasi udara, dinding, atap, hingga penggunaan material bangunan.

Menurut akademisi UGM, Ashar Saputra, faktor utama yang membuat rumah zaman kolonial terasa lebih dingin adalah konstruksinya.

Mulai dari dinding bata yang tebal, atap tinggi dengan sudut lebih dari 50 derajat, hingga sistem ventilasi yang baik. Semua elemen ini menciptakan ruang udara luas yang mampu meredam panas.

Tidak hanya itu, bangunan kolonial juga menggunakan tembok setinggi empat meter lebih. Semakin tinggi dinding, semakin sejuk suhu ruangan di dalamnya.

Konsep ini terbukti efektif membuat udara panas tertahan di bagian atas ruangan, sehingga bagian bawah tetap terasa nyaman.

Baca Juga: Bukan dari Asia Tenggara, Negara Ini yang Pertama Mengakui Kemerdekaan Indonesia

Ciri Ciri Rumah Kolonial yang Membuat Sejuk

Rumah kolonial memiliki sejumlah ciri khas yang membuatnya terasa lebih sejuk meski tanpa bantuan pendingin ruangan.

Cat dinding berwarna putih atau krem digunakan karena mampu memantulkan panas matahari sehingga suhu ruangan tetap stabil.

Jendela berlapis dirancang untuk menjaga sirkulasi udara tetap lancar sekaligus membiarkan cahaya masuk tanpa menambah panas.

Selain itu, pintu dilengkapi lubang angin yang berfungsi sebagai ventilasi alami agar udara segar terus mengalir ke dalam rumah.

Atap berbentuk perisai atau limasan juga memberikan ruang antara plafon dan atap yang efektif meredam panas matahari.

Dinding bata yang tebal mampu menahan panas lebih lama sebelum masuk ke dalam ruangan.

Sementara itu, lantai rumah biasanya menggunakan ubin teraso atau PC yang dapat menyerap panas sehingga ruangan tetap terasa dingin dan nyaman.

Detail Arsitektur Rumah Kolonial

Rumah bergaya Indis, hasil perpaduan arsitektur Belanda dan Jawa, memiliki ciri warna cat putih atau krem.

Warna ini berfungsi memantulkan panas sehingga suhu ruangan tidak meningkat drastis. Warna mencolok jarang digunakan karena dianggap tidak sesuai dengan fungsi tropis.

Selain itu, rumah zaman kolonial terasa lebih dingin berkat jendela besar berlapis dua. Lapisan luar menggunakan jalusi atau krepyak, sementara bagian dalam memakai kaca patri. Kombinasi ini menjaga cahaya masuk tanpa menambah panas.

Baca Juga: Prasasti Horren: Kontroversi Sejarah Sunda dan Jawa di Tulungagung, dari Era Majapahit atau Airlangga?

Material dan Struktur Penunjang

Ciri lain yang membuat rumah kolonial lebih sejuk adalah penggunaan pintu dengan ventilasi kayu di bagian atas.

Udara segar bisa keluar masuk tanpa hambatan. Atap berbentuk perisai yang tinggi juga memberikan ruang sirkulasi udara lebih luas.

Dinding bata tebal dengan ketebalan 15–30 cm menjadi faktor utama penahan panas. Selain itu, lantai rumah kolonial biasanya dilapisi ubin PC atau teraso.

Material ini menyerap panas dengan baik sehingga ruangan tetap dingin meski cuaca di luar terik. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#kolonial #Rumah Loji #belanda #Rumah Peninggalan Belanda