RADAR TULUNGAGUNG - Juru pelihara (jupel) situs di Tulungagung resah. Pasalnya, banyak lingkungan situs yang sudah rusak dan memerlukan perbaikan.
Namun justru ketika mengajukan dana ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tulungagung terkait perbaikan situs yang rusak tidak pernah ada tanggapan.
Baca Juga: Candi Prambanan Yogyakarta Miliki Pesona Alami saat Malam Hari: Seindah Lukisan Alam
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Jupel Situs Cagar Budaya Lokal Tulungagung, Sholihul Hamid. Dia mengungkapkan bahwa upaya merawat puluhan situs purbakala di Kota Marmer ini terkendala oleh minimnya anggaran dan belum jelasnya status pengelola situs.
Meskipun sudah berkali-kali mengajukan bantuan ke pemerintah daerah hingga DPRD, pengajuan tersebut terhambat oleh tidak adanya nomor faktur sebagai syarat administratif anggaran.
Baca Juga: Warisan Arkeologis Candi Dadi Tulungagung, Jejak Sejarah di Atas Perbukitan
Maka dari itu, puluhan situs cagar budaya lokal di Tulungagung saat ini terancam rusak akibat minimnya perhatian dari pemerintah.
Sholihul Hamid menyebutkan bahwa hingga saat ini sekitar 45 hingga 50 situs telah terdata. Namun, sebagian besar perawatannya masih mengandalkan swadaya masyarakat.
“Sudah tiga tahun saya ajukan, dari bupati sampai DPRD, tapi tidak pernah ada jawaban jelas. Baru-baru ini saja mulai ada titik terang, meski belum pasti,” ungkap Sholihil.
Menurut dia, salah satu kendala utama adalah tidak adanya semacam kode administratif yang diperlukan agar pengajuan anggaran bisa diproses oleh dinas terkait, terutama disbudpar.
Baca Juga: Mengenal Candi Gayatri di Boyolangu Tulungagung: Jejak Sejarah Kerajaan Majapahit
Meski sejumlah anggota DPRD menyatakan siap membantu, mereka juga terkendala karena syarat tersebut belum dipenuhi.
Jupel-jupel makam dan situs purbakala, seperti di Makam Gunung Cilik dan Surontani 2, menjadi contoh nyata dari kondisi ini.
Di sana, beberapa bagian pagar telah rusak dan bahkan pohon tumbang belum tertangani akibat tak adanya dana pemeliharaan rutin.
“Harapan kami, pemerintah lebih memperhatikan. Karena para jupel juga manusia, punya keluarga, tapi kesejahteraannya minim. Hanya 750 ribu per bulan,” tandasnya.
Baca Juga: Candi Sirah Kencong Blitar Tarik Perhatian Peserta Kopdar Pegiat Aksara Kawi #4 2025
Dia mengaku sebagian situs yang rusak tersebut telah dibenahi sendiri oleh masyarakat sekitar. Bahkan, dinas terkait tidak andil apa pun dalam perbaikan tersebut.
"Beberapa sudah saya konfirmasi, ternyata ada yang kerusakannya sudah dibenahi oleh swadaya masyarakat. Dan dinas sama sekali tidak ikut dalam upaya berbaikan dan perawatan tersebut," pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana