Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Prasasti Sucen I asal Temanggung Jadi Catatan Tertua Gerhana Bulan Total di Indonesia, Ini Tanggalnya

Dharaka R. Perdana • Senin, 8 September 2025 | 15:57 WIB

Fase Penumbra Gerhana Bulan
Fase Penumbra Gerhana Bulan

RADAR TULUNGAGUNG -  Pencatatan gerhana bulan total pada zaman dahulu tidak hanya dimonopoli bangsa Eropa. 

Di Indonesia juga pernah ditemukan catatan tertua dalam sejarah yang membahas gerhana bulan total. yakni Prasasti Sucen I

Artefak berharga tersebut ditemukan di Desa Sucen, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, dan hingga kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor inventaris 3331/685a/A204. 

Baca Juga: 4 Lagu Bernuansa Hati yang Sendu Ini Terinspirasi Gerhana Bulan Total, Berikut Isi Lirik dan Musisinya

Prasasti Sucen I adalah salah satu peninggalan bersejarah penting yang mencatat peristiwa gerhana bulan total pada abad ke-9 Masehi.

Prasasti ini dipahatkan pada bagian dalam sebuah payung perak berdiameter 30,8 cm yang puncaknya dihiasi batu kristal lonjong dan dibalut lembaran emas.

Yang membuat prasasti Sucen I begitu istimewa adalah bagian titimangsa atau penanggalannya.

Baca Juga: Dibumbui Drama dan Komedi, Sinetron Gerhana Pernah Digemari Pemirsa Televisi di Akhir 90an, Begini Jalan Ceritanya

Di dalamnya disebutkan bahwa payung perak ini dibuat pada saat “candragrahana” atau gerhana bulan, tepatnya pada tahun Saka 765, bulan Caitra, yang bertepatan dengan 19 Maret 843 Masehi.

Catatan ini menjadikannya sebagai rekaman astronomis tertua di Indonesia yang menyebutkan fenomena gerhana bulan total.

Gerhana adalah peristiwa ketika benda angkasa terhalang bayangan benda langit lain, baik Matahari, planet, maupun satelit.

Baca Juga: Fenomena Gerhana Bulan Memasuki Fase Awal, Begini Penjelasan Ilmiahnya

Dalam konteks ini, gerhana bulan terjadi ketika posisi Bumi berada di antara Matahari dan Bulan pada saat purnama.

Bulan kemudian masuk ke dalam dua jenis bayangan Bumi, yakni penumbra (bayangan tambahan) dan umbra (bayangan inti).

Keseluruhan proses gerhana bulan total bisa berlangsung hingga ±5 jam. Namun, karena bidang edar Bulan miring sekitar 5°9´ terhadap bidang edar Matahari, tidak setiap bulan terjadi gerhana.

Dalam setahun, maksimal terjadi 3 kali gerhana bulan (penumbral, parsial, atau total) dan 4 kali gerhana matahari.

Baca Juga: Gerhana Bulan Pernah Dikaitkan dengan Kematian Tokoh Besar pada Zaman Jahiliyah, Berikut Beberapa Hadis Meriwayatkan

Penemuan prasasti Sucen I membuktikan bahwa leluhur Nusantara sudah sangat peka terhadap fenomena langit.

Gerhana bukan hanya dilihat sebagai peristiwa alam biasa, tetapi juga dicatat dalam prasasti sebagai momen penting yang layak diabadikan.

Fakta bahwa catatan ini berusia lebih dari 1.100 tahun menegaskan bahwa pengetahuan astronomi di Jawa kuno memiliki peran besar dalam sistem penanggalan dan ritual budaya. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#temanggung #Tertua #museum nasional #prasasti sucen I #gerhana bulan total