Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Durasi Gerhana Bulan Total di Prasasti Sucen I Capai 5 Jam 11 Menit, Jadi Tontonan Luar Biasa Masyarakat Jawa Kuno,

Dharaka R. Perdana • Senin, 8 September 2025 | 16:37 WIB

Sosok Dang Hyang Guru yang menulis Prasasti Sucen I.
Sosok Dang Hyang Guru yang menulis Prasasti Sucen I.

RADAR TULUNGAGUNG – Prasasti Sucen I, peninggalan abad ke-9 Masehi, tidak hanya mencatat peristiwa keagamaan dan budaya, tetapi juga menuliskan detail astronomi tentang gerhana bulan total yang terjadi pada 843 Masehi.

Catatan ini dipahatkan oleh seorang tokoh spiritual bernama Dang Hyang Guru, sosok penting yang diyakini sebagai penulis prasasti tertua yang mencatat gerhana bulan total ini.

Berdasarkan isi prasasti, fenomena yang terjadi pada 19–20 Maret 843 itu adalah gerhana bulan total.  Jika dikonversi dengan waktu modern (WIB), prosesnya dapat digambarkan dalam linimasa berikut:

Baca Juga: Prasasti Sucen I asal Temanggung Jadi Catatan Tertua Gerhana Bulan Total di Indonesia, Ini Tanggalnya

Pukul 00:17 Bulan mulai memasuki penumbra Bumi, cahaya purnama tampak meredup.

Pukul 02:22  Bulan memasuki umbra Bumi, menandai dimulainya gerhana bulan total.

Pukul 02:56 Puncak gerhana bulan total, Bulan tampak merah gelap di langit Jawa kuno.

Pukul 05:28 Bulan sepenuhnya keluar dari bayangan Bumi, menandai berakhirnya peristiwa.

Secara keseluruhan, gerhana berlangsung selama 5 jam 11 menit  sebuah tontonan langit yang luar biasa bagi masyarakat Jawa Kuna.

Sosok Dang Hyang Guru

Sosok Dang Hyang Guru dalam Prasasti Sucen I memang menarik karena namanya disebut sebagai pihak yang menulis atau memahatkan prasasti tersebut. Namun, hingga kini identitas detailnya masih belum jelas sepenuhnya.

Berdasarkan kajian epigrafi dan sejarah:

Dang Hyang adalah gelar keagamaan atau spiritual yang lazim dipakai dalam tradisi Jawa Kuna, Bali, hingga masa Majapahit.

Gelar ini biasanya diberikan kepada seorang pendeta Siwa-Buddha, resi, atau guru spiritual yang dihormati masyarakat.

Guru dalam konteks prasasti kemungkinan berarti “pengajar” atau “resinya”, bukan nama pribadi. Jadi, Dang Hyang Guru bisa berarti pendeta agung atau guru rohani yang berperan dalam ritual dan penulisan prasasti.

Dalam Prasasti Sucen I, ia berperan sebagai penulis yang mengabadikan fenomena gerhana bulan total tahun 843 Masehi sekaligus pencatat bahwa payung perak itu dipersembahkan kepada dewa di wilayah Sima.

Dia bisa dikatakan penting pada lingkup lokal dan spiritual. Ia adalah perantara antara fenomena kosmik (gerhana bulan total) dengan makna religius dalam kehidupan masyarakat Jawa Kuna.

Baca Juga: Dibumbui Drama dan Komedi, Sinetron Gerhana Pernah Digemari Pemirsa Televisi di Akhir 90an, Begini Jalan Ceritanya

Namun, ia bukan tokoh politik atau raja besar yang tercatat dalam sejarah Jawa seperti Rakai Pikatan atau Rakai Kayuwangi.

Sosoknya lebih sebagai pemuka agama/pendeta kerajaan yang dipercaya memiliki otoritas untuk menulis, memimpin ritual, dan menghubungkan manusia dengan dewa.

Jadi, Dang Hyang Guru adalah tokoh penting dalam konteks spiritual dan budaya Jawa Kuna, tetapi tidak tercatat sebagai tokoh politik besar.

Namanya tetap abadi karena tercantum dalam salah satu prasasti astronomis paling tua di Nusantara.

Baca Juga: Fenomena Gerhana Bulan Memasuki Fase Awal, Begini Penjelasan Ilmiahnya

Prasasti Sucen I bukan sekadar laporan astronomi, tetapi juga sebuah persembahan spiritual. Dang Hyang Guru, sang penulis, mencatat bahwa payung perak yang menjadi media prasasti dipersembahkan kepada dewa di wilayah Sima.

Dengan demikian, peristiwa alam langka ini dipandang memiliki makna sakral yang erat kaitannya dengan kosmologi dan kepercayaan masyarakat Jawa pada masa itu.

Kecermatan Dang Hyang Guru dalam mencatat fenomena langit menunjukkan bahwa para leluhur Nusantara telah memiliki pemahaman mendalam tentang astronomi.

Lebih dari sekadar mitos, gerhana bulan total dianggap layak diabadikan sebagai bagian dari perjalanan spiritual, budaya, sekaligus ilmu pengetahuan. ****

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#temanggung #prasasti sucen I #gerhana bulan total