Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Menilik Kembali Sejarah Kelam G30SPKI, Upaya Kudeta dan Pengkhianatan Terbesar Bangsa

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Selasa, 30 September 2025 | 19:15 WIB

Monumen Pancasila Sakti dibangun untuk mengenang para pahlawan revolusi yang gugur dalam tragedi G30S PKI.
Monumen Pancasila Sakti dibangun untuk mengenang para pahlawan revolusi yang gugur dalam tragedi G30S PKI.

RADAR TULUNGAGUNG - Indonesia kembali mengenang tragedi kelam yang dikenal sebagai G30SPKI, atau Gerakan 30 September/PKI.

Peristiwa G30SPKI adalah sebuah sejarah pahit yang menimpa pemerintahan Indonesia, menorehkan luka mendalam dan perpecahan hingga kini. Tragedi ini merupakan salah satu momen paling kelam dalam sejarah nasional.

Secara singkat, peristiwa G30SPKI adalah agenda percobaan kudeta yang dilancarkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Penting bagi masyarakat untuk memahami kembali sejarah ini, sebagai pengingat betapa pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Tujuan utama dari gerakan G30SPKI adalah menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno yang sah dan mengubah Republik Indonesia menjadi negara yang menerapkan sistem komunis.

PKI, yang menganut ideologi komunis, berusaha memperkuat pengaruhnya untuk merebut kekuasaan dari militer dan mengganti landasan negara.

Baca Juga: Kamp Konsentrasi di Dachau Jadi Saksi Kekejaman Nazi, Begini Sejarah Singkatnya

Bahkan, pada puncaknya, PKI disebut sebagai salah satu partai tertua dan terbesar di Indonesia, yang pernah meraih suara terbesar keempat dalam pemilihan umum dengan persentase 16,4 persen.

Gerakan pengkhianatan terbesar bangsa ini dipimpin langsung oleh Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit, yang saat itu menjabat sebagai ketua PKI.

DN Aidit, yang menurut pakar sejarah pada masa rezim Presiden Soeharto merupakan dalang utama, gencar memberikan hasutan kepada masyarakat dengan iming-iming Indonesia akan lebih maju dan sentosa.

Baca Juga: Mengenal Warisan Tradisi Mengerikan Rampogan Macan di Blitar, Diduga Jadi Andil Penyebab Punahnya Harimau Jawa

Aksi keji G30SPKI dilancarkan pada Kamis malam, tepatnya pada 30 September 1965, menjelang pergantian ke tanggal 1 Oktober 1965 dini hari.

Gerakan ini melibatkan Pasukan Cakrabirawa dan anggota PKI. Operasi di lapangan dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung Syamsuri, yang merupakan Komandan Batalyon I Cakrabirawa.

Untung memimpin pasukan yang dianggap setia atau loyal kepada PKI. Gerakan ini secara spesifik mengincar para Perwira Tinggi TNI AD, yang dikenal sebagai Dewan Jenderal, dengan tujuan melemahkan pertahanan militer Indonesia.

Kronologi Singkat Peristiwa

Gerakan yang dimulai di Jakarta dan juga menyebar hingga ke Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta ini, diawali ketika Letkol Untung menunjuk Lettu Dul Arief sebagai ketua pelaksanaan penculikan para jenderal.

Pukul 03.00 WIB, pasukan Cakrabirawa dan anggota PKI bergerak dari Halim Perdanakusuma menuju rumah para perwira tinggi militer.

Mereka menculik enam orang perwira tinggi. Terdapat tiga perwira yang langsung dibunuh di rumahnya, sementara yang lainnya dibawa paksa menuju Lubang Buaya.

Para perwira yang menjadi sasaran utama G30S/PKI meliputi: Letjen Ahmad Yani, Mayjen M.T. Haryono, dan Brigjen D.I. Panjaitan, yang semuanya dibunuh di rumah masing-masing.

Selain itu, terdapat juga perwira yang ditangkap, yaitu Mayjen S. Parman dan Brigjen Sutoyo. Dalam peristiwa tersebut, Brigadir Polisi Ketua Karel Satsuit Tubun juga meninggal dunia di rumahnya.

Meskipun Jenderal AH Nasution merupakan salah satu sasaran utama, beliau berhasil kabur dan meloloskan diri dengan melewati dinding yang berbatasan dengan taman di Kedutaan Besar Irak.

Namun, keberhasilan pelarian beliau harus dibayar mahal: putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, meninggal dunia karena tertembak dalam kejadian ini.

Ajudan AH Nasution, Lettu Pierre Andreas Tendean, juga diculik dan ditembak di Lubang Buaya, setelah pasukan mengira dia adalah Jenderal AH Nasution.

Baca Juga: Prasasti Sucen I asal Temanggung Jadi Catatan Tertua Gerhana Bulan Total di Indonesia, Ini Tanggalnya

Setelah penculikan dan pembunuhan, pasukan Cakrabirawa membawa jenazah para perwira tinggi militer ke Lubang Buaya, tempat ketiga perwira lainnya juga dibunuh.

Keenam jenazah perwira tinggi militer tersebut kemudian dimasukkan ke dalam sumur di Lubang Buaya yang memiliki diameter 75 sentimeter dan kedalaman 12 meter.

Tak hanya melakukan penculikan, PKI juga menguasai gedung Radio Republik Indonesia (RRI) dan menyiarkan Dekrit No. 01.

Dekrit tersebut menyatakan G30S sebagai upaya penyelamatan negara dari ancaman Dewan Jenderal yang dituduh ingin mengambil alih kekuasaan.

Baca Juga: Lingkungan SItus Purbakala di Tulungagung Mayoritas Rusak, Begini Curahan Hati Juru Pelihara Kota Marmer

Pahlawan Revolusi dan Penumpasan Gerakan

Setelah melakukan serangkaian pencarian, pada tanggal 3 Oktober 1965, keenam perwira tinggi militer berhasil ditemukan di sumur Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Keenam perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang gugur dan Lettu Pierre Andreas Tendean kini ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi. Gelar tersebut sudah diakui sebagai Pahlawan Nasional sejak diresmikannya UU Nomor 20 tahun 2009.

Daftar Perwira Tinggi yang Gugur (Pahlawan Revolusi):

  1. Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani (Meninggal di rumahnya).
  2. Mayor Jenderal Raden Soeprapto.
  3. Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono.
  4. Mayor Jenderal Siswondo Parman.
  5. Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan.
  6. Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo.
  7. Lettu CZI Pierre Andreas Tendean.

Selain korban di Jakarta, Kolonel Katamso Darmokusumo dan Letnan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto juga menjadi korban G30S/PKI di Yogyakarta.

Militer, yang saat itu dipimpin oleh Jenderal Soeharto sebagai Panglima Kostrad, memainkan peran penting dalam menumpas gerakan G30S dan mengendalikan situasi.

Setelah gerakan berhasil ditumpas, Soeharto memimpin operasi pembersihan terhadap PKI dan para pendukungnya.

Baca Juga: Asal Usul dan Sejarah Badminton, Olahraga Populer yang Bikin Indonesia Disegani Dunia

Dampak dan Pembubaran PKI

Akibat kejadian yang melukai bangsa Indonesia ini, rakyat menuntut Presiden Soekarno agar segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pada 12 Maret 1966, PKI secara resmi dibubarkan setelah dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 1/3/1966.

Sebelumnya, Soekarno memberikan mandat pembersihan semua struktur pemerintahannya kepada Mayor Jenderal Soeharto melalui Surat Perintah 11 Maret 1966.

Sementara itu, DN Aidit ditangkap pada 22 November 1965 di Desa Sambeng, Solo, dan dieksekusi mati keesokan harinya.

Baca Juga: Yuk Bernostalgia dengan Monopoli, Mainan Anak Jadul Favorit Generasi 90-an Ternyata Menyimpan Banyak Manfaat

Peristiwa G30S/PKI menyebabkan dampak yang sangat besar, termasuk terjadinya pembersihan massal terhadap orang-orang yang dianggap terlibat dengan PKI.

Ribuan orang dibunuh, dipenjara, dan diasingkan. Secara politik, militer semakin kuat dan mengambil peran penting dalam pemerintahan.

Tragedi ini meninggalkan trauma dan perpecahan di masyarakat Indonesia; kepercayaan antar kelompok masyarakat terkikis, dan rasa curiga serta ketakutan masih terasa hingga saat ini.

Tragedi 30 September 1965 ini mengingatkan kita semua akan pentingnya toleransi, dialog, dan musyawarah dalam menyelesaikan perbedaan, serta pentingnya belajar dari masa lalu agar kejadian serupa tidak terulang kembali, demi membangun Indonesia yang damai, adil, dan sejahtera. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#gerakan 30 semptember #g30spki #pki