RADAR TULUNGAGUNG — Beberapa hari belakangan nama Ponpes Lirboyo di Kota Kediri mendadak menjadi pembicaraan hangat.
Hal ini tak lepas sebuah program di televisi nasional TRANS7 yang dianggap menyinggung kiai sepuh Ponpes Lirboyo.
Tak ayal seluruh keluarga besar dan alumnus Ponpes Lirboyo menjadi geram dan muncul tagar #BoikotTRANS7
Baca Juga: Boikot Trans7 Menggema Usai Diduga Singgung Kiai Sepuh Lirboyo Kediri, Netizen Geram!
Namun seperti apa sejarah pondok pesantren yang berada sisi barat Kota Kediri ini?
Berdiri sejak awal abad ke-20, Lirboyo bukan sekadar bangunan berderet kamar dan ruang pengajian—ia adalah cerita tentang transformasi sosial, dedikasi para kiai, dan jaringan alumni yang menyebar ke penjuru Nusantara.
Jejak Lirboyo dimulai pada tahun 1910, ketika KH Abdul Karim yang akrab dikenal sebagai Mbah Manab memutuskan menetap dan mendirikan pesantren di Desa Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Pada masa itu, Lirboyo masih tergolong terpencil; masyarakat setempat bahkan melibatkan kiai sebagai penawar keresahan sosial dan keamanan. Kehadiran KH Abdul Karim lalu menjadi titik awal transformasi desa menjadi pusat pendidikan agama.
Perjalanan pesantren ini bukan tanpa tantangan. Seiring berjalannya waktu, Lirboyo mengembangkan institusi-institusi pendidikan internal yang formal dan nonformal untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan santri.
Kehadiran madrasah serta pola pengajaran klasik membuat pesantren ini menjadi rujukan bagi keluarga yang ingin menuntut ilmu agama secara intensif.
Tokoh-Tokoh Penentu dan Warisan Kepemimpinan
Peran KH Abdul Karim sebagai pendiri tentu tak tergantikan dalam memahat arah awal pesantren. Setelah wafatnya pada pertengahan abad ke-20, kepemimpinan dilanjutkan oleh tokoh-tokoh penting seperti KH Marzuqi Dahlan dan KH. Machrus Aly.
Masing-masing memberi kontribusi dalam pengembangan kurikulum, tata kelola pesantren, dan jaringan sosial keagamaan.
Lebih dari sekadar pimpinan, para kiai Lirboyo menjadi magnet bagi santri dari berbagai daerah—membentuk jaringan alumni yang kelak menjadi ulama, pendidik, dan pimpinan pesantren lain di Indonesia.
Nama-nama alumni Lirboyo sering muncul di barisan organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, dan kehidupan publik Islam di tanah air.
Salah satu langkah penting dalam sejarah Lirboyo adalah pendirian Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) sekitar 1925.
Madrasah ini menjadi wadah formal bagi pengajaran mata pelajaran agama yang sebelumnya lebih banyak berlangsung dalam bentuk halaqah dan pengajian kitab kuning.
Meski sempat mengalami masa vakum pada awal 1930-an (kurun 1931–1933), MHM dihidupkan kembali oleh para kyai seperti KH Jauhari, KH Kholil, dan KH Faqih As’yari—menandai sifat dinamis pesantren dalam merespons tantangan zaman.
Secara metodologis, Lirboyo memadukan tradisi pengajian klasik (halaqah, sorogan, bandongan) dengan upaya pembentukan kelembagaan pendidikan yang lebih terstruktur.
Hal ini memungkinkan pesantren mempertahankan warisan keilmuan sambil menyesuaikan diri terhadap tuntutan administrasi dan kebutuhan pembelajaran yang lebih modern.
Peran Sosial dan Kiprah Nasional
Lirboyo bukan hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan. Sejak masa penjajahan sampai era kemerdekaan dan seterusnya, para kiai dan santrinya berperan aktif dalam kehidupan sosial dan politik lokal.
Kontribusi para santri dalam peristiwa-peristiwa besar nasional menegaskan bahwa pesantren ini berakar kuat pada realitas sosial masyarakat dan tak sekadar mengurusi ritual keagamaan.
Jejak-jejak pengaruh Lirboyo juga terlihat dari banyaknya alumnus yang menduduki posisi strategis di organisasi Islam, dunia pendidikan, hingga pemerintahan.
Dengan jaringan tersebut, nilai-nilai dan tradisi Lirboyo menyebar luas, memberi sumbangan nyata pada pembentukan peta dakwah dan pendidikan Islam di Indonesia.
Memasuki abad ke-2 keberadaannya, Ponpes Lirboyo terus menegaskan identitasnya. Hingga hari ini tetap menjadi simbol kontinuitas—menghubungkan generasi pendiri yang bertumpu pada kitab kuning dan tarekat pengajian, dengan generasi baru santri yang hidup di era digital.
Tantangan tentu ada: modernisasi kurikulum, manajemen, serta hubungan dengan dunia luar—tetapi akar tradisi dan kepemimpinan ulama membuat Lirboyo terus bertahan dan relevan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana