RADAR TULUNGAGUNG - Sejarah mencatat bahwa perhelatan akbar Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27 hingga 28 Oktober 1928, yang menghasilkan ikrar keramat Sumpah Pemuda, bukanlah ajang yang didominasi oleh laki-laki semata.
Di balik pidato-pidato heroik dan perumusan naskah bersejarah tersebut, tersimpan peran krusial dari sejumlah tokoh perempuan yang aktif dalam pergerakan.
Kehadiran mereka menegaskan bahwa semangat persatuan dan perjuangan kemerdekaan sudah digaungkan oleh seluruh elemen bangsa sejak awal, termasuk kaum perempuan yang sadar akan pentingnya pendidikan dan cinta tanah air.
Kehadiran perempuan dalam Kongres Pemuda II di Jakarta kala itu menjadi simbol kesadaran akan kesetaraan dan peran strategis kaum putri dalam membangun fondasi bangsa.
Menurut catatan sejarah, dari ribuan pemuda yang hadir, Kongres Pemuda II dihadiri oleh sedikitnya sepuluh perempuan.
Meskipun diperkirakan lebih dari 700 orang hadir, hanya 82 orang yang tercatat sebagai peserta kongres, dan dari jumlah tersebut, enam di antaranya adalah perempuan.
Bahkan, menurut kesaksian Wage Rudolf Supratman, setidaknya ada sepuluh perempuan yang hadir di tengah Kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda ini.
Tokoh-tokoh ini, meskipun tidak banyak arsip yang menjelaskan detail asal muasal dan peran masing-masing, aktif dalam pergerakan di daerahnya untuk mencapai persatuan bangsa.
Kontribusi mereka dalam pembahasan isu-isu penting seperti pendidikan dan peran wanita dalam persatuan bangsa memperkuat semangat yang kemudian diikrarkan dalam Sumpah Pemuda.
Berikut adalah profil beberapa tokoh perempuan utama yang tercatat di balik peristiwa historis tersebut.
1. Poernomowulan: Prioritas Pendidikan Tertib dan Disiplin
Salah satu tokoh perempuan yang paling menonjol adalah Poernomowulan. Ia dikenal sebagai tokoh pendidikan dan bahkan menjadi pembicara pertama di mimbar Kongres Pemuda II setelah dua pembicara utama (Ki Hajar Dewantara dan Jokosarwono) berhalangan hadir.
Poernomowulan membacakan prasarannya tentang pentingnya pendidikan. Dalam pidatonya di rapat yang membahas masalah pendidikan ini, ia menyatakan bahwa usaha mencerdaskan bangsa haruslah disertai usaha menciptakan suasana tertib dan disiplin dalam pendidikan.
Ia juga berpendapat bahwa anak harus mendapatkan pendidikan kebangsaan yang seimbang, baik di sekolah maupun di rumah, dan harus dididik secara demokratis.
Poernomowulan diketahui adalah salah satu perwakilan pemuda Taman Siswa, sebuah kelompok yang lantang menyuarakan pendidikan untuk pribumi.
Ia sangat bersemangat mengajarkan baca tulis kepada anak-anak yang tidak dapat menerima pendidikan dasar.
Baca Juga: Jelang Hari Jadi ke-820, Pemkab Tulungagung Launching Logo dan Rangkaian Acara Peringatan
2. Siti Sundari: Menanamkan Cinta Tanah Air Sejak Dini
Tokoh perempuan lain yang memiliki peran signifikan adalah Siti Sundari. Ia adalah adik bungsu dari dr Sutomo.
Siti Sundari merupakan seorang perempuan dari kalangan elit Jawa yang berhasil menempuh pendidikan tinggi dan meraih gelar Meester in de Ritchen (Sarjana Hukum) dari Universitas Leiden, Belanda, pada tahun 1934. Ia bahkan menjadi perempuan kedua yang berhasil meraih gelar tersebut saat itu.
Dalam Kongres Pemuda II, Siti Sundari berpidato mengenai rasa cinta Tanah Air. Dia menekankan bahwa rasa cinta tanah air harus ditanamkan pada perempuan sejak kecil, tidak hanya pada laki-laki saja.
Menariknya, saat itu Siti berpidato dalam bahasa Belanda, sehingga pidatonya diterjemahkan oleh Muhammad Yamin yang menjabat sebagai Sekretaris Kongres.
3. Emma Poeradiredja dan Inisiasi Pergerakan
Emma Poeradiredja juga tercatat sebagai salah satu tokoh perempuan kunci. Ia merupakan pendiri organisasi perempuan Istri Pasundan (PASI) dan aktif dalam gerakan Jong Java dan Jong Islaminten Bond.
Karena keteguhan dan dedikasinya, Emma terpilih sebagai Ketua Umum PASI selama sekitar 40 tahun hingga akhir hayatnya.
Baca Juga: Refleksi Hari Santri dan Fenomenanya
Di Kongres Pemuda II, Emma Poeradiredja berpidato mengenai peran para perempuan agar terlihat tidak hanya dalam pembicaraan pergerakan, tetapi juga melalui perbuatan nyata.
Emma adalah salah satu perempuan yang gencar memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan kesetaraan bagi kaum perempuan.
Tokoh perempuan lain yang hadir di Kongres Pemuda II termasuk Johanna Masdani Tumbuan, Suwarni Pringgodigdo (pendiri Istri Sedar dan anggota DPR pasca-kemerdekaan), Dien Pantouw (istri Sunario Sastrowardoyo), dan Nona Tumbel (perwakilan Jong Celebes).
Peran mereka yang minim terekam dalam literatur tidak mengurangi fakta bahwa Sumpah Pemuda lahir dari semangat persatuan yang didukung oleh pemuda dan pemudi Indonesia. ****
Editor : Dharaka R. Perdana