Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pertempuran Surabaya 10 November 1945, Kisah Heroik yang Diabadikan Sebagai Hari Pahlawan

Iqbal Pangestu • Senin, 10 November 2025 | 19:25 WIB

Sosok Bung Tomo, orator ulung yang berhasil membakar semangat rakyat Surabaya dengan pekikan
Sosok Bung Tomo, orator ulung yang berhasil membakar semangat rakyat Surabaya dengan pekikan

RADAR TULUNGAGUNG - Setiap tahun, Indonesia memperingati Hari Pahlawan tepat pada tanggal 10 November. Ini adalah momen untuk mengenang pengorbanan para pahlawan yang gugur demi kemerdekaan bangsa.

Tanggal ini dipilih sebagai pengingat salah satu pertempuran paling berdarah dalam sejarah Revolusi Nasional. Peristiwa heroik tersebut dikenal sebagai Pertempuran Surabaya tahun 1945.

Penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan bertujuan menjaga ingatan kolektif. Tanggal ini menjadi simbol keteguhan rakyat menolak upaya kembalinya penjajahan.

Baca Juga: Istana Pastikan Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Gelar Kehormatan Bakal Diberikan Langsung Presiden Prabowo

Sejarah pertempuran ini dimulai beberapa minggu setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Saat itu terjadi kekosongan kekuasaan menyusul kekalahan Jepang.

Pasukan Inggris yang tergabung dalam AFNEI mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Dalih kedatangan mereka adalah untuk melucuti tentara Jepang yang ada di Indonesia.

Di balik misi tersebut, Inggris ternyata membawa serta NICA, lembaga Belanda. NICA berambisi mengembalikan Indonesia sebagai jajahan Hindia Belanda.

Ketegangan memuncak melalui Insiden Hotel Yamato pada 18 September 1945. Sekelompok warga Belanda mengibarkan bendera Belanda tanpa izin pemerintah Indonesia.

Tindakan provokatif itu memicu kemarahan para pemuda Surabaya. Para pemuda menyerbu hotel, merobek bagian biru, dan mengibarkan kembali Merah Putih.

Insiden ini menandai awal perlawanan besar Arek-Arek Suroboyo terhadap pihak asing. Perlawanan tersebut menjadi salah satu perang terbesar dan paling heroik dalam sejarah.

Setelah insiden bendera, serangkaian pertempuran kecil mulai terjadi. Kontak senjata terjadi antara pejuang Indonesia dan pasukan Inggris di bawah Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby.

Baca Juga: 10 Puisi Pendek Bertema Hari Pahlawan yang Menggetarkan Jiwa, Cocok untuk Jadi Unggahan di Media Sosial

Upaya gencatan senjata yang ditengahi Presiden Soekarno pun gagal total. Brigjen Mallaby tewas secara misterius pada 30 Oktober 1945 dalam baku tembak di dekat Jembatan Merah.

Kematian jenderal ini menyulut amarah besar dari pihak Inggris. Pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Robert Mansergh, segera mengeluarkan ultimatum keras.

Ultimatum itu dikeluarkan pada 9 November 1945 dan berisi tuntutan yang berat. Pejuang Indonesia diperintahkan menyerahkan seluruh senjata dan menyerah tanpa syarat.

Batas waktu yang diberikan Inggris adalah pukul 06.00 pagi keesokan harinya. Tanggal tersebut adalah tepat 10 November 1945.

Ultimatum tersebut sama sekali tidak membuat gentar rakyat Surabaya. Gubernur Jawa Timur saat itu, R.M.T.A. Soerjo, menolaknya dengan tegas melalui siaran radio.

Peran besar kemudian dimainkan oleh orator ulung bernama Sutomo atau Bung Tomo. Ia membakar semangat rakyat lewat siaran radio pemberontakan.

Pidato Bung Tomo sangat legendaris dan penuh semangat. Orasinya diakhiri sorak "Merdeka atau Mati!" dan pekikan takbir.

Tepat pukul 06.00 pagi 10 November 1945, pertempuran besar pun meletus. Inggris menggempur Surabaya dari darat, laut, dan udara dengan kekuatan penuh.

Serangan Inggris melibatkan kapal perang, tank, dan pesawat tempur yang superior. Mereka mengira perlawanan rakyat akan selesai dalam waktu tiga hari saja.

Baca Juga: 50 Caption yang Bisa Dipakai untuk Status WhatsApp dan Instagram Bertema Hari Pahlawan

Namun, Arek-Arek Suroboyo melawan dengan gagah berani. Mereka terdiri dari TKR, laskar pejuang, hingga rakyat sipil bersenjata seadanya.

Pertempuran Surabaya yang brutal ini berlangsung selama tiga minggu penuh. Akibat gempuran dahsyat tersebut, kota Surabaya hancur lebur.

Diperkirakan puluhan ribu pejuang dan rakyat sipil Indonesia gugur dalam peristiwa ini. Kerugian jiwa yang sangat besar ini menunjukkan pengorbanan rakyat yang luar biasa.

Insiden heroik ini memiliki makna simbolis yang luar biasa bagi bangsa. Peristiwa ini membuktikan keseriusan Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Untuk mengenang pengorbanan tersebut, Presiden Soekarno menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional. Penetapan resmi ini tertuang dalam Keppres Nomor 316 Tahun 1959.

Oleh karena perjuangan ini, Kota Surabaya selamanya dikenang sebagai "Kota Pahlawan". Peringatan ini menjadi pengingat abadi tentang harga mahal sebuah kemerdekaan.

Perjuangan gigih Arek-Arek Suroboyo telah mengubah jalannya sejarah Indonesia. Hari Pahlawan Nasional adalah momentum penting untuk selalu menghargai jasa mereka. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#hari pahlawan #pertempuran surabaya #bung tomo #10 November 1945 #kota pahlawan