Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asal Usul Tulungagung: Dari Ngerowo hingga Kota Seribu Warung Kopi, Ternyata Ini Makna di Balik Namanya!

Khoinatul fitriyah • Rabu, 12 November 2025 | 05:00 WIB

Ngopi bukan sekadar kebiasaan, tapi budaya yang menyatukan. Dari kopi ijo hingga tradisi nyethe, beginilah hangatnya Tulungagung  Kota Seribu Warung Kopi. ( Ilustrasi )
Ngopi bukan sekadar kebiasaan, tapi budaya yang menyatukan. Dari kopi ijo hingga tradisi nyethe, beginilah hangatnya Tulungagung Kota Seribu Warung Kopi. ( Ilustrasi )
RADAR TULUNGAGUNG – Kabupaten Tulungagung di Jawa Timur menyimpan sejarah panjang yang belum banyak diketahui masyarakat luas.

Berdiri lebih dari delapan abad lalu, wilayah ini memiliki kisah menarik tentang perubahan nama, kejayaan masa kerajaan, hingga julukan unik sebagai “kota seribu warung kopi”.

 

 

Awal Mula Tulungagung di Masa Kerajaan Daha

Hari jadi Kabupaten Tulungagung ditetapkan pada 18 November 1205 Masehi.

Penetapan itu merujuk pada prasasti Lawadan bukti penghargaan Raja Kertajaya dari Kerajaan Daha (Kadiri) kepada rakyat di wilayah selatan Tulungagung karena kesetiaan mereka kepada sang raja.

Dalam prasasti tersebut tertulis sengkala Sukra Suklapaksa juga Siram Masa, yang menandai tanggal bersejarah itu.

Sebagai daerah yang telah berusia lebih dari 800 tahun, Tulungagung telah menjadi saksi kejayaan berbagai kerajaan besar, mulai dari Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram Islam.

Tak heran jika peninggalan sejarah di wilayah ini sangat kaya, termasuk makam Gayatri Rajapatni istri keempat Raden Wijaya dan nenek dari Raja Hayam Wuruk yang terletak di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu.

 

 

Dari Ngerowo ke Tulungagung: Tiga Versi Asal Nama

Sebelum dikenal dengan nama Tulungagung, daerah ini bernama Kabupaten Ngerowo.

Dahulu pusat pemerintahannya berada di Kalangbret, sebelum akhirnya dipindahkan ke wilayah yang kini menjadi Kecamatan Tulungagung sekitar sebelum tahun 1824.

Perubahan nama dari Ngerowo menjadi Tulungagung terjadi sekitar tahun 1901, saat wilayah ini dipimpin oleh Bupati Raden Tumenggung Partowijoyo.

 

 

Ada tiga versi yang diyakini menjadi asal-usul nama Tulungagung.

Versi pertama menyebut bahwa kata Tulungagung berasal dari bahasa Sanskerta, di mana tulung berarti “sumber air” dan agung berarti “besar”.

Dikisahkan, di area yang kini menjadi alun-alun Tulungagung dahulu terdapat sumber air besar yang kemudian dikeringkan untuk dijadikan pusat pemerintahan.

Pengeringan itu dilakukan oleh pemuda sakti dari Gunung Wilis bernama Joko Baru, yang dalam legenda rakyat dipercaya berubah menjadi ular Baruklinting.

 

 

Versi kedua menjelaskan bahwa Tulungagung berarti “pitulungan agung” atau pertolongan besar.

Cerita ini muncul karena sebelum menjadi kabupaten, wilayah Tumenggungan Ngerowo mendapat banyak bantuan wilayah dari daerah sekitar seperti Blitar, Ponorogo, Trenggalek, dan Pacitan.

Bantuan besar inilah yang disebut sebagai pitulungan agung, dan lama-kelamaan berubah penyebutannya menjadi Tulungagung.

Versi ketiga, yang lebih jarang disebut, mengaitkan nama Tulungagung dengan keberadaan banyak mata air besar di kawasan ini, menegaskan karakter geografis wilayahnya yang subur dan kaya air.

 

 

Perjalanan Pemerintahan Kabupaten Tulungagung

Pemerintahan Kabupaten Tulungagung dimulai sejak era Ngerowo di Kalangbret dengan penguasa pertama Kyai Ngabehi Mangundirono.

Setelah masa Kalangbret berakhir, pusat pemerintahan dipindah ke Tulungagung, dipimpin oleh Raden Mas Tumenggung Pringgodiningrat pada periode 1824–1830.

Kini, Kabupaten Tulungagung terdiri dari 19 kecamatan, 257 desa, dan 14 kelurahan.

Meski telah modern, nuansa tradisi dan sejarah masih terasa kuat di kehidupan masyarakatnya.

 

 

Kota Seribu Warung Kopi dan Tradisi Nyethe

Selain sejarah panjang, Tulungagung juga terkenal dengan julukannya sebagai Kota Seribu Warung Kopi.

Sebutan ini bukan tanpa alasan.

Hampir di setiap sudut kota terdapat warung kopi yang selalu ramai pengunjung.

Salah satu desa yang paling terkenal dengan kepadatan warung kopinya adalah Desa Bolorejo di Kecamatan Kauman.

 

 

Di sini, deretan warung kopi seperti Warung Kopi Maktin, Warung Kopi Waris, dan Warung Kopi Pak Yun menjadi tempat nongkrong favorit warga.

Keunikan lainnya, Tulungagung memiliki minuman khas bernama kopi ijo, yakni kopi yang digiling bersama kacang hijau sehingga menghasilkan aroma dan cita rasa yang khas.

Menariknya, masyarakat Tulungagung memiliki tradisi unik saat menikmati kopi, yaitu nyethe—mengoles ampas kopi ke permukaan rokok agar lebih harum dan awet.

Tradisi ini bahkan berkembang menjadi ajang lomba kreativitas, di mana peserta melukis gambar di batang rokok menggunakan ampas kopi.

 

 

Warisan Sejarah dan Kearifan Lokal yang Terjaga

Dari sejarah berdirinya hingga kebiasaan ngopi yang unik, Tulungagung membuktikan bahwa daerah ini bukan sekadar kota industri dan marmer.

Ia juga menjadi saksi perjalanan panjang peradaban di Jawa Timur yang terus lestari hingga kini.

Dengan hari jadinya yang diperingati setiap 18 November, Tulungagung tidak hanya merayakan usia kabupaten, tetapi juga merawat identitas sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang menjadi kebanggaan warganya.

 

 

 

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#Kota Seribu Warung Kopi #asal usul Tulungagung #kopi ijo tulungagung #tulungagung #sejarah tulungagung