RADAR TULUNGAGUNG – Sebuah makam megah di kawasan Pantai Popoh, Kecamatan Besuki, Tulungagung, menarik perhatian wisatawan dan pencinta sejarah lokal.
Makam tersebut dikenal sebagai Makam Bos Rokok Retjo Pentung Tulungagung, milik almarhum Mbah Sumiran Karsodiwiryo, pendiri perusahaan rokok legendaris Retjo Pentung yang sempat berjaya di era 1980–1990-an.
Bangunan makam ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir.
Dikenal pula dengan nama Reco Sewu, kompleks ini memadukan unsur spiritualitas Jawa, kejawen, dan simbolisme mistik Pantai Selatan.
Lokasinya berdiri di atas lahan luas, dikelilingi ribuan arca, relief, dan ornamen yang memancarkan nuansa misterius.
Ribuan Arca dan Simbol Angka 9
Begitu memasuki gerbang utama, pengunjung langsung disambut deretan arca Dwarapala di sisi kanan dan kiri.
Menurut penjaga makam, terdapat sekitar 2.999 arca yang menghiasi area tersebut jumlah yang diyakini memiliki makna spiritual karena bila dijumlahkan menjadi angka 9, melambangkan Wali Songo dan kesempurnaan dalam tradisi Jawa.
Tangga menuju makam pun terdiri dari sembilan anak tangga, dan ukuran relief terkecilnya 9 sentimeter.
Seluruh detail ini bukan kebetulan, melainkan mencerminkan keyakinan almarhum Mbah Sumiran terhadap filosofi angka sembilan yang erat kaitannya dengan spiritualitas Jawa.
“Bangunan ini mulai dikerjakan tahun 1990 dan selesai sekitar 1995. Beliau wafat pada tahun 1997,” ujar salah satu penjaga situs yang ditemui di lokasi.
Makam tersebut kini menjadi saksi kejayaan Bos Rokok Retjo Pentung Tulungagung, sosok pengusaha lokal yang sukses di masa jayanya.
Dibangun Sebagai Makam Pribadi dan Tempat Doa
Reco Sewu awalnya dibangun sebagai makam pribadi Mbah Sumiran dan istrinya, yang kemudian dimakamkan berdampingan di area utama.
Namun seiring waktu, lokasi ini juga menjadi tempat ziarah dan doa bagi keluarga serta masyarakat sekitar.
Menariknya, di sisi lain kompleks terdapat bangunan berwarna biru yang disebut sebagai Paleman Nyai Roro Kidul.
Konon, tempat itu menjadi lokasi bagi peziarah yang melakukan ritual kejawen atau sekadar memohon keselamatan dan berkah.
“Dulu ramai sekali, banyak yang datang malam Jumat Legi atau Jumat Kliwon. Sekarang agak sepi, tapi tetap ada yang berdoa,” tutur penjaga tersebut.
Pesanggrahan Nirwana dan Air Awet Muda
Di sekitar makam juga terdapat area bernama Pesanggrahan Madya Nirwana, tempat yang diyakini masyarakat setempat sebagai punden desa.
Di bawah pepohonan bambu kuning, ada sumber air yang disebut “Cuci Pak Surya”, dipercaya membawa berkah dan membuat awet muda bagi yang mencuci muka di sana.
Air itu mengalir melalui pancuran arca naga yang menghiasi empat penjuru kompleks makam.
“Kalau airnya dibuka, bisa keluar sendiri. Dulu banyak orang yang mengambil air untuk pengobatan,” kata penjaga tersebut.
Warisan Budaya dan Kejawen
Meski kental nuansa mistis, penjaga menegaskan bahwa aktivitas di Reco Sewu bukan bentuk pemujaan, melainkan pelestarian budaya dan penghormatan terhadap alam.
“Kami hanya memelihara, bukan menyembah. Ini bagian dari nguri-uri budaya Jawa,” ujarnya.
Sosok Mbah Sumiran dikenal sebagai tokoh yang taat beragama Islam, namun juga menjunjung tinggi tradisi Kejawen.
Hal itu tampak dari bangunan makam yang sarat simbol-simbol spiritual dan filosofi hidup orang Jawa.
Kini, makam tersebut menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan spiritual di Tulungagung.
Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga menikmati arsitektur unik dan kisah misterius di baliknya.
Dengan panorama Pantai Selatan sebagai latar belakang, Reco Sewu menjadi tempat yang memadukan keindahan, sejarah, dan legenda Jawa Timur.
Meski tak setenar objek wisata lainnya, Makam Bos Rokok Retjo Pentung Tulungagung tetap menyimpan daya tarik tersendiri bagi mereka yang mencari jejak masa lalu dan kekayaan budaya lokal.
Editor : Anggi Septian A.P.