Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asal Usul Kabupaten Tulungagung: Dari Hunian Manusia Purba hingga Pusat Spiritualitas Majapahit

Khoinatul fitriyah • Rabu, 12 November 2025 | 06:40 WIB
Arca Gayatri di Boyolangu, Tulungagung, menjadi bukti kejayaan Majapahit sekaligus simbol spiritualitas tinggi yang masih dihormati hingga kini. ( Ilustrasi)
Arca Gayatri di Boyolangu, Tulungagung, menjadi bukti kejayaan Majapahit sekaligus simbol spiritualitas tinggi yang masih dihormati hingga kini. ( Ilustrasi)

RADAR TULUNGAGUNG – Kabupaten Tulungagung di Jawa Timur menyimpan jejak sejarah panjang yang membentang dari masa prasejarah hingga era kerajaan besar Nusantara.

Wilayah ini bukan sekadar kota modern dengan ribuan warung kopi, tetapi juga menjadi saksi hidup perkembangan budaya, kepercayaan, dan sistem pemerintahan sejak ribuan tahun lalu.

 

 

Jejak Manusia Purba di Pegunungan Selatan

Bukti awal keberadaan manusia di Tulungagung ditemukan di sejumlah gua di kawasan pegunungan selatan seperti Gua Songgentong, Song Terus, dan Song Banyu Urip.

Di lokasi ini, arkeolog menemukan alat-alat batu seperti kapak genggam dan serpihan batu, serta sisa tulang binatang yang menunjukkan aktivitas berburu dan meramu.

Temuan tersebut menegaskan bahwa sejak masa prasejarah, Tulungagung telah menjadi tempat hunian manusia purba yang hidup nomaden dan bergantung pada alam.

Selain itu, peninggalan masa Neolitikum dan Megalitikum seperti menhir, dolmen, dan sarkofagus yang tersebar di Kecamatan Campurdarat dan Kalidawir membuktikan bahwa masyarakat kala itu sudah mengenal sistem spiritual dan praktik penguburan yang kompleks.

Temuan ini menjadi bukti bahwa wilayah Tulungagung telah memiliki struktur sosial dan budaya yang maju jauh sebelum kerajaan besar berdiri di Jawa Timur.

 

 

Pengaruh Kerajaan Hindu-Buddha Awal

Memasuki abad ke-8 Masehi, Tulungagung mulai tercatat dalam peta kekuasaan Kerajaan Kanjuruhan yang berpusat di Malang.

Meskipun tidak menjadi pusat pemerintahan, pengaruh Kanjuruhan menjangkau hingga Lembah Sungai Brantas bagian selatan.

Sistem irigasi kuno dan peninggalan budaya di wilayah ini menunjukkan adanya kehidupan agraris yang mapan serta masuknya ajaran Hindu Siwa.

Pada abad ke-10, wilayah ini masuk dalam pengaruh Kerajaan Medang di bawah pemerintahan Mpu Sindok, yang memindahkan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Prasasti Lawadan yang ditemukan di Desa Boyolangu menjadi bukti penting eksistensi Tulungagung dalam sejarah Jawa Timur.

Prasasti berangka tahun 921 Masehi itu menunjukkan bahwa Boyolangu telah menjadi pusat aktivitas keagamaan dan pemerintahan sejak masa Mpu Sindok.

 

 

Masa Kejayaan Kediri dan Singhasari

Ketika Kerajaan Kediri berkuasa pada abad ke-11 hingga ke-13, Tulungagung berkembang menjadi lumbung pangan utama bagi kerajaan.

Letaknya di lembah subur Sungai Brantas menjadikan daerah ini kaya akan hasil bumi, terutama padi dan palawija.

Selain peran ekonomi, pengaruh budaya Hindu Siwa juga kuat terasa.

Berbagai arca dan situs pemujaan di desa-desa sekitar menunjukkan kehidupan spiritual yang aktif.

Pada masa Kerajaan Singhasari, Tulungagung mulai lebih terintegrasi dalam sistem administrasi kerajaan.

Raja Ken Arok hingga Wisnuwardhana memperkuat pengawasan terhadap hasil pertanian dan keamanan wilayah.

Ciri khas masa Singhasari adalah perpaduan antara ajaran Hindu Siwa dan Buddha Mahayana yang juga ditemukan dalam peninggalan arca di Tulungagung.

 

 

Tulungagung di Era Majapahit

Puncak kejayaan Tulungagung terjadi pada masa Kerajaan Majapahit (1293 M).

Daerah ini menjadi wilayah penyangga ibu kota kerajaan di Trowulan.

Dengan lahan pertanian yang subur di selatan Sungai Brantas, Tulungagung berperan penting dalam memasok logistik kerajaan.

Lebih dari sekadar pusat ekonomi, Tulungagung juga memiliki makna spiritual tinggi bagi Majapahit.

Di Boyolangu ditemukan Arca Gayatri, yang dipercaya sebagai perwujudan Sri Rajapatni, permaisuri Raden Wijaya sekaligus ibu dari Hayam Wuruk.

Arca ini menandakan bahwa Boyolangu menjadi lokasi perabuan tokoh penting kerajaan, sekaligus simbol kehormatan dan spiritualitas tinggi di masa Majapahit.

Hingga kini, situs tersebut masih dijaga masyarakat sebagai warisan sejarah dan tempat ziarah budaya.

 

 

Islamisasi dan Pengaruh Mataram Islam

Setelah Majapahit runtuh, pengaruh Islam mulai masuk ke Tulungagung pada abad ke-15 melalui dakwah para ulama dan pedagang dari utara Jawa.

Islamisasi berlangsung damai dan perlahan melalui jalur budaya dan perkawinan.

Masjid-masjid tua seperti Masjid Tegalsari menjadi bukti awal berkembangnya agama Islam di kawasan ini.

Pada masa Kesultanan Mataram, Tulungagung masuk dalam struktur pemerintahan Islam di bawah pengawasan para adipati.

Sistem sosial berbasis pesantren dan adat Islam pun terbentuk, memengaruhi tata kehidupan masyarakat hingga sekarang.

 

 

Dari Ngrowo ke Tulungagung

Memasuki masa kolonial Belanda, wilayah ini dikenal dengan nama Ngrowo dan menjadi bagian dari Karesidenan Kediri.

Sistem tanam paksa diterapkan, memaksa rakyat menanam tebu, kopi, dan nila.

Baru pada abad ke-20, nama Tulungagung mulai digunakan secara resmi dan bertahan hingga kini.

Dari peradaban prasejarah hingga masa modern, asal usul Kabupaten Tulungagung mencerminkan perjalanan panjang masyarakat yang tangguh, religius, dan kaya budaya.

Setiap lapisan sejarahnya menjadi fondasi penting bagi identitas Tulungagung sebagai daerah yang berakar kuat pada tradisi namun terus berkembang mengikuti zaman.

 

 

 

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#asal usul Tulungagung #Arca Gayatri #majapahit #tulungagung #sejarah tulungagung