RADAR TULUNGAGUNG – Di balik tenangnya Dusun Srigading, Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung, tersimpan kisah religius yang menarik perhatian banyak peziarah.
Di lereng utara Gunung Bolo, tepat di tepi sungai yang mengalir mengitari gunung tersebut, berdiri makam seorang ulama besar bernama Syekh Basarudin tokoh penting yang diyakini sebagai guru dari Adipati Ngerowoh pertama, Kiai Ngabei Mangun Dirono.
Lokasi makam ini berada di kawasan perbukitan yang masih asri dan tenang, jauh dari hiruk pikuk kota Tulungagung.
Para warga menyebut tempat ini sebagai “petilasan” yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi.
Makam Syekh Basarudin berdampingan dengan makam ayahandanya serta sejumlah kerabat dekat.
Dari penuturan warga sekitar, makam di bagian tengah merupakan makam beliau, sementara di sisi lain terdapat makam sang ayah dan sanak saudaranya.
Jejak Ulama Besar di Gunung Bolo
Gunung Bolo sejak lama dikenal sebagai kawasan yang menyimpan banyak kisah keagamaan dan legenda lokal.
Keberadaan makam Syekh Basarudin di lereng Gunung Bolo Tulungagung menambah daftar panjang situs religi yang menjadi tujuan ziarah masyarakat.
Banyak pengunjung datang untuk berdoa dan mengenang perjuangan beliau dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah Kauman dan sekitarnya.
Menurut keterangan beberapa tokoh masyarakat Desa Bolorejo, Syekh Basarudin dikenal sebagai sosok alim dan bijaksana. Beliau menjadi rujukan banyak santri dan tokoh agama di masa lalu.
Salah satu santri paling terkenal adalah Kiai Ngabei Mangun Dirono, yang kemudian dikenal sebagai Adipati Ngerowoh pertama tokoh penting dalam sejarah pemerintahan lokal Tulungagung.
“Beliau (Syekh Basarudin) bukan hanya guru spiritual, tapi juga pembimbing moral bagi banyak tokoh pada zamannya,” ujar salah satu warga setempat yang sering merawat kompleks makam tersebut.
Makam yang Sarat Nilai Sejarah dan Spiritual
Selain nilai sejarahnya, makam Syekh Basarudin juga menjadi simbol warisan budaya dan spiritual masyarakat Tulungagung.
Banyak peziarah datang setiap malam Jumat Legi untuk berdoa dan memohon keberkahan.
Suasana sekitar makam sangat tenang, diapit pepohonan besar dan suara gemericik air dari sungai yang mengalir di kaki Gunung Bolo.
Keberadaan makam ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti sejarah dan penggemar wisata religi.
Beberapa tahun terakhir, warga bersama pemerintah desa mulai berupaya memperbaiki akses jalan menuju lokasi, agar lebih mudah dijangkau oleh pengunjung luar daerah.
Meski belum sepenuhnya tertata seperti situs besar lainnya, tempat ini menyimpan aura sakral yang kuat.
Hubungan Syekh Basarudin dan Adipati Ngerowoh
Nama Adipati Ngerowoh cukup dikenal dalam sejarah lokal Tulungagung sebagai pemimpin yang berwawasan luas dan religius.
Banyak pihak meyakini bahwa keteladanan dan kebijaksanaannya tidak lepas dari didikan Syekh Basarudin.
Sang guru dianggap berperan besar dalam membentuk karakter spiritual dan moral sang adipati, yang kemudian menjadi panutan masyarakat di masanya.
Cerita turun-temurun dari warga Srigading menyebutkan bahwa Syekh Basarudin dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan gemar mengajarkan ilmu agama di surau kecil dekat kaki gunung.
Dari tempat itulah, ajaran Islam mulai berkembang dan menjadi fondasi kuat bagi kehidupan masyarakat sekitar.
Potensi Wisata Religi di Tulungagung
Dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata religi, makam Syekh Basarudin di lereng Gunung Bolo Tulungagung memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut.
Selain sebagai tempat berziarah, situs ini bisa menjadi destinasi edukatif yang memperkenalkan sejarah dakwah Islam di Tulungagung.
Pemerintah desa bersama tokoh agama setempat kini tengah mengupayakan agar makam tersebut mendapat perhatian lebih dari dinas terkait.
“Kami berharap situs ini bisa dijaga dan dirawat, karena ini bagian dari sejarah besar Tulungagung,” ujar salah satu tokoh masyarakat Bolorejo.
Meski belum banyak dikenal secara luas, kisah Syekh Basarudin, sang guru Adipati Ngerowoh pertama, mulai menarik perhatian masyarakat dan peneliti sejarah lokal.
Dengan promosi dan penataan yang tepat, tempat ini berpotensi menjadi salah satu ikon wisata religi unggulan di Tulungagung.
Editor : Anggi Septian A.P.