RADAR TULUNGAGUNG – Sebuah kisah menyeramkan dan menggetarkan hati datang dari Teh Tata, seorang penyiar radio asal Bandung yang mengaku pernah melakukan ritual pesugihan Gunung Bolo di Tulungagung.
Dalam pengakuannya yang viral di kanal YouTube “Malam Mencekam”, Teh Tata menceritakan bagaimana dirinya rela menempuh jalan hitam demi kembali kaya setelah hidupnya jatuh terpuruk.
Semuanya bermula pada tahun 2017. Saat itu, Teh Tata sedang berada di puncak kariernya sebagai MC dan penyiar radio.
Namun kehidupan glamor itu runtuh setelah kisah cintanya kandas dengan seorang pria bernama Agung yang belakangan diketahui sudah beristri. Konflik asmara itu membuat nama baiknya tercoreng, hingga pekerjaannya di radio pun hilang.
Tak hanya kehilangan pekerjaan, Tata juga mengetahui dirinya hamil. Beban mental semakin berat, apalagi ia harus menjadi tulang punggung keluarga.
Dalam keadaan terpuruk, ia akhirnya pulang ke rumah saudaranya di Tulungagung untuk mencari ketenangan dan solusi.
Ritual Pesugihan Gunung Bolo Nyai Roro Kembang Sore
Mas Gilang, saudara Tata di Tulungagung, kemudian memperkenalkannya pada seorang kuncen Gunung Bolo yang dikenal bisa membuka jalan pesugihan.
Ritual itu disebut sebagai Pesugihan Nyai Roro Kembang Sore, sosok mistis yang diyakini bisa memberi kekayaan instan dengan syarat tertentu.
“Mas Gilang bilang, aku harus siap lahir batin. Ada ritual yang harus dijalani di rumah Mbah Bejo, termasuk menyiapkan sesajen dan wewangian,” kata Tata dalam wawancara tersebut.
Namun syarat paling mengerikan datang ketika ia mendengar bahwa ritual itu mengharuskannya berhubungan badan dengan laki-laki tak dikenal di hadapan sang dukun dan Nyai Roro Kembang Sore.
Pria itu, menurut Tata, juga merupakan peserta pesugihan lain yang ingin memperoleh kekayaan dengan cara yang sama.
“Saat ritual, Mbah Bejo membaca mantra. Lalu muncul kabut dan suara gamelan. Sosok Nyai Roro datang dalam wujud wanita cantik memakai kemben hijau dengan selendang emas. Dia menyaksikan langsung ritual itu,” ungkap Tata.
Setelah ritual selesai, Nyai Roro Kembang Sore dikatakan memberikan hadiah berupa satu kantong koin emas. Tak lama kemudian, sang kuncen memperingatkannya agar langsung pulang dan tidak singgah di tempat lain sebelum tiba di rumah.
Janin Hilang, Koin Emas Jadi Uang Miliaran
Tata pun pulang ke Cirebon menemui ibunya. Namun keajaiban atau kutukan terjadi saat ia mandi menggunakan air khusus dari sang kuncen.
Tiba-tiba ia mengalami keguguran dan janinnya keluar tanpa rasa sakit. Saat kembali ke kamar, ia melihat sesuatu yang tak masuk akal.
“Saya buka lemari, koin emasnya hilang. Tapi di situ penuh uang kertas Rp100 ribu dan Rp50 ribu. Kalau dihitung-hitung sekitar Rp1,5 miliar,” ceritanya.
Tata pun sempat bingung dan ketakutan. Di satu sisi, ia bersyukur karena ekonominya kembali stabil. Tapi di sisi lain, ia merasa hancur karena harus kehilangan janin yang dikandungnya sebagai tumbal dari ritual pesugihan tersebut.
“Saya lihat kantong plastik tempat janin itu sambil nangis. Saya bilang, ‘Maaf ya, Nak, mama harus jalan pintas demi keluarga,’” ujarnya dengan nada sedih.
Pesan Moral di Balik Kisah Mistis Ini
Kisah pesugihan Gunung Bolo Nyai Roro Kembang Sore ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang tergoda kekayaan instan.
Tata menegaskan, meski uang datang melimpah, kebahagiaan dan ketenangan batin justru hilang. Hidupnya tidak lagi sama setelah peristiwa itu.
“Saya kaya, tapi setiap malam selalu mimpi buruk. Saya menyesal,” katanya menutup kesaksian.
Fenomena pesugihan di Jawa Timur, termasuk di Gunung Bolo Tulungagung, memang telah lama menjadi bagian dari cerita mistis masyarakat.
Namun praktik semacam ini dianggap menyimpang dan berbahaya, baik secara moral maupun spiritual.
Kisah Teh Tata menjadi pengingat bahwa kekayaan sejati bukan diperoleh dari jalan pintas, melainkan dari kerja keras dan doa yang tulus.
Editor : Anggi Septian A.P.