Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Situs Menggung Gunung Lawu: Candi Misterius Abad 15 di Zaman Demak, Benarkah Tempat Brawijaya Pindah Agama?

Anggi Septian A.P. • Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:00 WIB
Situs Menggung Gunung Lawu, candi misterius abad 15 di era Demak. Benarkah tempat Brawijaya pindah agama? Ini ulasan sejarahnya.
Situs Menggung Gunung Lawu, candi misterius abad 15 di era Demak. Benarkah tempat Brawijaya pindah agama? Ini ulasan sejarahnya.

KARANGANYAR – Situs Menggung di lereng Gunung Lawu kembali memantik perdebatan sejarah. Di luar dugaan, sebuah kompleks bercorak punden berundak ini diduga dibangun pada abad ke-15 hingga ke-16, masa ketika Kerajaan Demak mulai menguat sebagai kekuatan politik Islam di Jawa.

Keberadaan Situs Menggung Gunung Lawu seolah menantang narasi tunggal tentang runtuhnya tradisi Hindu-Buddha di Jawa pada masa itu.

Situs Menggung Gunung Lawu terletak di wilayah Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Lokasinya berada dalam konstelasi situs-situs klasik Gunung Lawu yang meliputi Candi Cetho, Candi Sukuh, Candi Kethek, Situs Planggatan, hingga Cemoro Bulus.

Jarak antar-situs ini relatif dekat dan membentuk garis budaya yang kuat di lereng gunung.

Dikutip dari Kanal YouTube Asisi Channel, Situs Menggung menghadirkan anomali. Struktur berundak, dolmen, dan menhir menunjukkan jejak tradisi megalitikum, sementara keberadaan arca dwarapala dan simbol-simbol Siwaistis menguatkan pengaruh Hindu-Buddha masa Majapahit akhir.

Perpaduan ini menegaskan bahwa Situs Menggung Gunung Lawu tidak lahir dari satu zaman tunggal, melainkan melalui lapisan kebudayaan yang panjang.

Dibangun Saat Demak Bangkit

Sejarawan menyebut akhir abad ke-15 sebagai masa transisi besar di Jawa. Majapahit mengalami kemunduran sejak era Ratu Suhita hingga Bhre Kertabhumi.

Arkeolog Hasan Djafar, melalui kajian Serat Pararaton, menyebut runtuhnya Majapahit dipercepat oleh Dinasti Girindrawardhana yang memunculkan tokoh Dyah Ranawijaya atau Batara Vojyaya.

Pada periode yang sama, Masjid Agung Demak dibangun sekitar tahun 1479. Menariknya, pemugaran teras ketujuh Candi Cetho terjadi hanya beberapa tahun sebelumnya.

Fakta ini memperkuat dugaan bahwa Situs Menggung Gunung Lawu berdiri di masa ketika Islam dan tradisi klasik Jawa masih berbagi ruang dan waktu.

Arca Misterius dan Tafsir Siwa Adiyogi

Daya tarik utama Situs Menggung terletak pada arca utamanya. Arca ini menampilkan sosok bertangan delapan dengan atribut senjata khas Durga Mahisasuramardhini, namun bermudra Dhyana yang lazim dimiliki Siwa sebagai Adiyogi atau Mahayogi.

Keunikan ini membuat para peneliti belum sepakat dalam memberi identifikasi final.

Berbeda dengan arca Durga raksesi yang umum ditemukan pada masa Majapahit akhir, arca Situs Menggung justru berdiri tegak dengan gaya samabangga dan ornamen pita kepala yang khas.

Keunikan ini membuat Situs Menggung Gunung Lawu disebut sebagai salah satu situs dengan arca paling unik di Jawa.

Dua Hipotesis Besar

Para ahli mengerucutkan dua hipotesis utama. Pertama, Situs Menggung awalnya merupakan tempat pemujaan masyarakat Austronesia sejak masa megalitikum yang terus difungsikan hingga era Hindu-Buddha.

Kedua, situs ini justru dibangun baru pada abad ke-15–16 sebagai penanda kebangkitan kepercayaan asli Nusantara di tengah menguatnya agama mayoritas.

Kedua hipotesis ini sama-sama menjelaskan mengapa Situs Menggung Gunung Lawu tampil berbeda dari candi-candi di dataran rendah.

Tradisi punden berundak, dolmen, dan menhir dilebur dengan simbol dewa-dewi Hindu-Buddha, menciptakan wajah budaya yang khas.

Mitos Airlangga dan Brawijaya

Di tingkat masyarakat, Situs Menggung diselimuti mitos besar. Salah satunya menyebut situs ini sebagai petilasan Raja Airlangga.

Namun, klaim ini dinilai lemah karena gaya arkeologi situs berasal dari abad ke-15, sementara Airlangga hidup pada abad ke-11 dan beraliran Wisnu, bukan Siwa.

Mitos lain yang lebih populer menyebut Situs Menggung Gunung Lawu sebagai tempat Prabu Brawijaya bertapa dan memutuskan pindah agama setelah runtuhnya Majapahit.

Narasi ini bersumber dari tradisi tutur dan babad abad ke-18, bukan dari sumber primer abad ke-15–16. Karena itu, sejarawan menegaskan kisah tersebut sebagai mitos budaya, bukan fakta sejarah.

Meski demikian, keberadaan mitos justru memperkaya makna Situs Menggung.

Ia dimaknai sebagai simbol pelarian, refleksi, dan perubahan besar dalam hidup—sebuah nilai yang diwariskan lintas generasi di lereng Gunung Lawu.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Brawijaya #situs menggung #Pindah Agama #demak #gunung lawu