Dracula asli lahir sekitar tahun 1430 di wilayah Transylvania, kawasan yang kini masuk Romania selatan. Ia merupakan putra Vlad II, bangsawan Wallachia yang sempat diasingkan akibat konflik politik antara Hongaria, Kekaisaran Romawi Suci, dan Kesultanan Utsmani.
Julukan “Dracula” berasal dari kata Latin Draco atau naga, merujuk pada ayahnya yang tergabung dalam Ordo Naga, sebuah kelompok ksatria Kristen anti-Utsmani.
Berbeda dengan mitos populer, Dracula asli tidak mengisap darah korbannya. Metode pembunuhan yang membuatnya terkenal justru jauh lebih sadis, yakni impalement atau penusukan dengan pasak tajam dari anus hingga menembus leher atau mulut korban. Cara ini memberinya julukan Vlad the Impaler, atau Vlad Sang Penusuk.
Sandera Politik di Istana Utsmani
Dalam konflik regional yang brutal, ayah Vlad memilih bersekutu dengan Sultan Utsmani. Sebagai tanda kesetiaan, dua putranya, Vlad III dan Radu, dikirim ke istana Sultan Mehmed II.
Radu akhirnya memeluk Islam dan dikenal dekat dengan elite Utsmani. Namun Vlad menyimpan dendam mendalam atas masa kecilnya sebagai sandera.
Tahun 1447 menjadi titik balik kelam. Ayah dan kakak Vlad dibunuh oleh bangsawan Wallachia dengan dukungan Hongaria. Beberapa tahun kemudian, Utsmani membantu Vlad merebut kembali takhta Wallachia.
Namun kekuasaannya tidak bertahan lama. Baru pada 1456, ia berhasil naik takhta lagi dengan bantuan Hongaria, musuh lamanya sendiri.
Pesta Berdarah Bangsawan Hongaria
Untuk mengukuhkan kekuasaannya, Vlad menggelar pesta Paskah pada 1457 dan mengundang sekitar 200 bangsawan Hongaria beserta keluarga mereka. Di tengah pesta, Vlad menanyai para tamu tentang peran mereka dalam penggulingan dan pembunuhan ayahnya.
Tanpa peringatan, pasukan Vlad menyeret para bangsawan itu keluar. Pasak-pasak tajam telah disiapkan. Satu per satu korban ditusuk secara brutal hingga tewas, lalu tubuh mereka disusun rapi membentuk apa yang dikenal sebagai “hutan pasak”. Aksi ini secara sistematis melenyapkan kelas aristokrat yang dianggap mengancam kekuasaannya.
Teror terhadap Utsmani
Meski sempat dibantu Utsmani, Dracula asli kemudian berbalik memusuhi Kesultanan Utsmani. Ia melancarkan serangan terhadap wilayah perbatasan dan membantai penduduk Muslim serta Turki Bulgaria. Catatan sejarah menyebut sekitar 10.000 pasukan Utsmani tewas dalam serangan mendadak pasukan Vlad.
Pada 1462, Sultan Mehmed II memimpin langsung 90.000 tentara menuju Wallachia. Namun yang mereka temukan bukan perlawanan terbuka, melainkan pemandangan mengerikan: sekitar 20.000 jasad Muslim dan Turki terpancang di sepanjang jalan menuju ibu kota. Bahkan Mehmed II disebut terkejut dan bergidik melihat teror yang diciptakan Vlad.
Kisah Kanibalisme yang Mengguncang Sejarah
Sejumlah kronik Eropa mencatat tindakan ekstrem lainnya. Salah satu kisah menyebut Vlad makan roti di medan perang dengan mencelupkannya ke darah musuh yang baru dibunuh, seolah menjadikannya selai.
Cerita-cerita inilah yang kemudian menginspirasi citra Dracula sebagai makhluk haus darah dalam sastra Barat.
Namun para sejarawan menegaskan, Dracula asli jauh lebih mengerikan dari versi fiksi. Ia bukan makhluk abadi pengisap darah, melainkan manusia dengan kekejaman sistematis yang nyata dan terdokumentasi.
Kisah Vlad the Impaler menjadi pengingat bahwa legenda horor sering kali berakar dari tragedi sejarah yang sesungguhnya.
Teror yang ia ciptakan bukan dongeng, melainkan catatan kelam peradaban Eropa abad pertengahan yang masih menggema hingga kini.
Editor : Fadhilah Salsa Bella