Radar Tulungagung - Harga mahal sebuah jalan pintas kembali terungkap lewat pengakuan mengejutkan seorang mantan penyiar radio yang memilih pesugihan sebagai solusi dari tekanan hidup.
Kisah ini mencuat setelah sebuah video wawancara panjang beredar di YouTube, mengungkap ritual pesugihan Nyai Roro Kembang Sore yang disebut menghasilkan uang hingga Rp1,5 miliar dalam waktu singkat, namun dibayar dengan tumbal nyawa janin.
Perempuan yang disamarkan dengan nama Teh Tata itu mengaku mengalami titik terendah hidupnya pada 2017. Kariernya sebagai penyiar radio dan MC off air mendadak runtuh setelah konflik asmara dengan seorang pria beristri.
Tak hanya kehilangan pekerjaan, ia juga menghadapi kehamilan di luar nikah dan tekanan ekonomi berat sebagai tulang punggung keluarga.
Dalam kondisi depresi, Teh Tata akhirnya menerima tawaran pamannya untuk menempuh jalan pesugihan Nyai Roro Kembang Sore di kawasan Gunung Bolo, Tulungagung, Jawa Timur.
Ritual tersebut dipimpin oleh seorang kuncen dan dukun setempat dengan serangkaian syarat yang disebut sangat ekstrem.
Menurut pengakuannya, ritual utama dilakukan pada malam Jumat Pon. Peserta diwajibkan menjalani hubungan badan dengan orang asing di hadapan sang dukun dan sosok gaib yang diyakini sebagai Nyai Roro Kembang Sore.
Ritual itu diklaim harus disaksikan langsung oleh entitas gaib agar “perjanjian” dianggap sah.
Setelah ritual selesai, Teh Tata mengaku menerima satu kantong berisi koin emas kuno sebagai hadiah awal. Namun, perjanjian itu memiliki konsekuensi berat. Salah satu syarat utama adalah penyerahan janin yang tengah dikandungnya sebagai tumbal.
Tak lama setelah kembali ke rumah orang tuanya di Cirebon, Teh Tata mengaku mengalami keguguran tanpa rasa sakit. Janin tersebut kemudian dibungkus dan disimpan.
Pada saat yang sama, koin emas yang sebelumnya diterima berubah wujud menjadi uang tunai senilai sekitar Rp1,5 miliar dalam pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu.
“Uangnya berserakan di lemari. Koinnya sudah tidak ada, digantikan uang cash,” ungkapnya dalam wawancara tersebut. Dengan uang itu, Teh Tata membeli rumah secara tunai seharga Rp500 juta, mobil, serta memenuhi berbagai kebutuhan hidup tanpa kesulitan. Kariernya pun perlahan pulih. Ia kembali diterima bekerja di radio lamanya dan job MC kembali berdatangan.
Namun, kisah ini tidak berhenti pada satu ritual. Teh Tata mengaku terikat perjanjian lanjutan yang mengharuskannya melakukan ritual rutin setiap Jumat Pon, termasuk menyantap daging kambing mentah di makam tertentu sebagai bentuk “pemeliharaan” perjanjian pesugihan.
Seiring waktu, dampak psikologis dan spiritual mulai terasa. Ia mengaku sulit beribadah, sering jatuh sakit setiap kali berniat salat atau bersedekah menggunakan uang hasil pesugihan.
Dalam pengakuan lanjutan, ia menyebut perjanjian tersebut berdampak panjang, termasuk kematian pasangan hidup dan kehilangan anak-anak di kemudian hari.
Kisah Teh Tata menjadi pengingat keras tentang bahaya jalan pintas berbasis praktik mistik. Meski kekayaan bisa datang secara instan, harga yang harus dibayar disebut jauh lebih mahal dari sekadar materi.
Video ini pun ditutup dengan pesan moral agar masyarakat tidak tergoda pesugihan dan selalu memilih jalan rasional serta legal dalam menghadapi kesulitan hidup.
Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh