JAKARTA - PO Harapan Jaya Tulungagung menjadi salah satu perusahaan otobus legendaris di Jawa Timur yang masih bertahan hingga hari ini.
Berdiri sejak tahun 1972, PO Harapan Jaya Tulungagung dikenal luas sebagai operator bus yang mengedepankan kenyamanan, keselamatan, serta konsistensi pelayanan, terutama di jalur AKDP dan AKAP.
Dalam sebuah perbincangan di kanal YouTube Perpals TV, sosok di balik kejayaan PO Harapan Jaya, Sugio Utomo, membagikan perjalanan panjang perusahaan otobus yang kini identik dengan sopir tenang dan pelayanan berkelas.
Dari rute awal Tulungagung–Surabaya, Harapan Jaya tumbuh perlahan hingga merambah trayek antarkota antarprovinsi ke Jakarta dan Sumatera.
Awal Berdiri PO Harapan Jaya Tulungagung
Sugio Utomo mengungkapkan bahwa PO Harapan Jaya lahir di tengah maraknya perusahaan otobus pada era 1960–1970-an.
Saat itu, potensi bisnis transportasi darat dinilai masih sangat menjanjikan.
Dengan modal satu unit bus yang nilainya tergolong besar pada zamannya, Harapan Jaya memulai operasional dengan manajemen sederhana namun terukur.
“Waktu itu satu bus masih bisa hidupkan dirinya sendiri. Cash flow masih aman,” ujar Sugio.
Namun, seiring berjalannya waktu, terutama memasuki era 1990-an, strategi bisnis pun berubah.
Sistem subsidi silang antarunit menjadi kunci agar perusahaan tetap bertahan.
Ekspansi ke Jalur AKAP dan Era Jalan Tol
Ekspansi besar dilakukan pada awal 1990-an ketika PO Harapan Jaya Tulungagung mulai masuk jalur AKAP menuju Jakarta.
Langkah ini tidak mudah karena keterbatasan izin trayek dan persaingan antarpelaku usaha.
Namun, dengan mengambil alih trayek dari operator lain, Harapan Jaya akhirnya menancapkan eksistensinya di jalur barat.
Masuknya jalan tol secara masif sejak 2014 menjadi momentum penting.
Waktu tempuh yang lebih singkat dan perjalanan yang lebih nyaman membuat layanan bus AKAP kembali diminati.
Harapan Jaya memanfaatkan peluang ini dengan tetap mempertahankan standar pelayanan yang konsisten.
Rahasia Sopir Tenang dan Disiplin
Salah satu ciri khas PO Harapan Jaya Tulungagung adalah gaya mengemudi yang tenang dan tidak ugal-ugalan.
Menurut Sugio, hal ini bukan kebetulan.
Sejak awal membuka trayek AKAP, ia mewajibkan sopir menggunakan seragam rapi lengkap dengan dasi dan peci.
“Bukan soal mahal atau murahnya seragam, tapi kontrol diri. Kalau sudah rapi, pengemudi akan lebih menjaga sikap,” jelasnya.
Selain itu, seleksi sopir dilakukan ketat.
Tidak semua pengemudi bisa masuk ke jalur AKAP. Jam terbang, kedisiplinan, dan rekam jejak menjadi pertimbangan utama.
Bahkan, Harapan Jaya lebih memilih bus tidak berangkat daripada dikemudikan sopir yang tidak memenuhi standar.
Filosofi Logo Kuda Delapan
Logo kuda delapan pada bus Harapan Jaya juga memiliki makna mendalam.
Sugio menjelaskan, angka delapan dalam filosofi Tiongkok melambangkan keberuntungan dan kekuatan.
Sementara kuda melambangkan etos kerja dan pantang mundur.
“Kuda yang baik tidak akan memakan rumput yang sudah dilalui,” ujarnya.
Filosofi ini menjadi simbol komitmen Harapan Jaya untuk terus maju tanpa menoleh ke belakang, menjaga etika, dan konsisten pada prinsip pelayanan.
Bertahan di Tengah Krisis
Sugio mengakui pandemi Covid-19 menjadi pukulan terberat sepanjang sejarah perusahaan.
Namun, berbeda dengan banyak operator lain, Harapan Jaya tetap mempertahankan seluruh karyawannya.
Loyalitas dan hubungan emosional menjadi kekuatan internal perusahaan.
Menurutnya, transportasi bus akan selalu dibutuhkan masyarakat. Selama operator mampu membaca situasi dan meningkatkan kualitas layanan, bisnis ini tidak akan mati.
“Persaingan bukan ancaman, tapi cambuk agar kita lebih baik,” tegasnya.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina