Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah PO Sumber Kencono: Dari Raja Jalanan, Dijuluki Sumber Bencana, hingga Berevolusi Jadi PO Sumber Selamat dan Sugeng Rahayu

Ingge Nayla Ayu Karina • Senin, 26 Januari 2026 | 16:45 WIB
Sejarah PO Sumber Kencono, bus legendaris yang pernah dijuluki sumber bencana, hingga berevolusi menjadi PO Sumber Selamat dan Sugeng Rahayu.
Sejarah PO Sumber Kencono, bus legendaris yang pernah dijuluki sumber bencana, hingga berevolusi menjadi PO Sumber Selamat dan Sugeng Rahayu.

 

JAKARTA - Sejarah PO Sumber Kencono menjadi salah satu kisah paling kontroversial dalam dunia transportasi darat Indonesia.

Perusahaan otobus asal Sidoarjo, Jawa Timur ini pernah berada di puncak kejayaan sebagai raja jalanan, namun juga sempat terpuruk akibat rentetan kecelakaan fatal yang mengguncang kepercayaan publik.

 

Dalam sejarah PO Sumber Kencono, semuanya bermula pada tahun 1981.

Seorang pengusaha bernama Setyaki Sasongko memulai usaha transportasi dengan bermodalkan enam unit bus.

Perusahaan itu diberi nama PO Sumber Kencono, yang bermakna sumber emas atau mesin uang.

Trayek awalnya meliputi Surabaya–Solo–Madiun–Yogyakarta dengan kelas ekonomi.

 

Sejak awal beroperasi, PO Sumber Kencono langsung menghadapi persaingan ketat, terutama dengan PO Flores.

Persaingan tersebut kerap diwarnai aksi berebut penumpang dan manuver ekstrem di jalan raya, seperti menyalip berbahaya dan memacu bus dengan kecepatan tinggi.

Dari sinilah citra cepat dan berani mulai melekat pada bus Sumber Kencono.

 

Tragedi PO Flores dan Awal Dominasi

Titik balik besar terjadi pada 6 Mei 1981.

Sebuah bus PO Flores mengalami tabrakan maut dengan kereta api saat membawa rombongan pelajar SMP.

Belasan penumpang meninggal dunia.

Akibat tragedi tersebut, PO Flores dijatuhi sanksi larangan beroperasi di wilayah Solo dan rutenya dipotong hingga Mantingan, Ngawi.

 

Kondisi ini membuka peluang bagi PO Sumber Kencono untuk mengambil alih trayek strategis tersebut.

Armada terus ditambah dan keberangkatan dijadwalkan setiap 20 menit.

Tarifnya yang murah dan pelayanan yang relatif baik membuat Sumber Kencono menjadi favorit masyarakat kelas ekonomi.

 

Masa Keemasan dan Penghargaan

Sejarah PO Sumber Kencono mencatat masa kejayaan pada periode 2000-an hingga 2011.

Armada perusahaan mencapai 255 unit, terdiri dari 230 bus reguler dan 22 unit cadangan.

Pada periode 2005–2007 serta 2008, PO Sumber Kencono bahkan meraih penghargaan dari Kementerian Perhubungan sebagai penyelenggara angkutan Lebaran terbaik.

 

Namun di balik pertumbuhan pesat tersebut, masalah serius mulai mengemuka.

Tidak adanya aturan ketat bagi sopir menyebabkan perilaku ugal-ugalan di jalan raya terus berulang.

Bus Sumber Kencono dikenal sering ngebut dan menyalip secara berbahaya.

Baca Juga: 44 PO Bus Legendaris Surabaya–Trenggalek yang Pernah Merajai Jalur Panas Jawa Timur, dari Harapan Jaya hingga Akas NR

Dijuluki Sumber Bencana

Antara 2009 hingga 2011, tercatat 51 kecelakaan yang melibatkan bus Sumber Kencono.

Total korban mencapai 129 orang, dengan 36 di antaranya meninggal dunia.

Julukan pun berubah drastis, dari Sumber Kencono menjadi “Sumber Bencana”, bahkan disebut sebagai bus pencabut nyawa.

 

Puncaknya terjadi pada 12 September 2011.

Setelah serangkaian kecelakaan fatal, termasuk insiden di Mojokerto yang menewaskan 20 orang serta kecelakaan di Ngawi, Gubernur Jawa Timur saat itu merekomendasikan pencabutan izin trayek PO Sumber Kencono.

Kementerian Perhubungan akhirnya menjatuhkan sanksi administratif dengan memangkas jumlah armada hingga 40 persen.

 

Transformasi Menjadi PO Sumber Selamat

Menyadari besarnya tekanan publik, Setyaki Sasongko mengakui kesalahan dan merombak total manajemen perusahaan.

Aturan baru diterapkan, mulai dari seleksi ulang sopir, pengaturan jam istirahat, hingga pembatasan kecepatan.

Sebanyak 80 unit armada diganti nama menjadi PO Sumber Selamat, dengan harapan membawa citra keselamatan.

 

Pada 9 Februari 2012, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat memutuskan tidak mencabut izin trayek karena perusahaan dinilai telah dikelola secara lebih profesional.

Bus-bus dilengkapi GPS untuk memantau kecepatan dan perilaku awak, sehingga angka kecelakaan perlahan menurun.

 

Lahirnya PO Sugeng Rahayu

Sebagai pendamping Sumber Selamat, pada 2013 diluncurkan PO Sugeng Rahayu yang bermakna sejahtera dan jauh dari musibah.

PO ini hadir dengan livery merah dan kuning serta layanan yang lebih beragam, termasuk kelas patas dengan fasilitas televisi, toilet, dan servis makan.

 

Sugeng Rahayu melayani trayek jarak jauh seperti Surabaya–Yogyakarta, Bandung, Jember, Cilacap, hingga Purwokerto.

Selain angkutan reguler, perusahaan ini juga mengembangkan divisi pariwisata Golden Star dan ekspedisi SR Express.

Baca Juga: Sejarah Taj Mahal: Kisah Cinta Kaisar Shah Jahan yang Berujung Tragis, dari Monumen Cinta hingga Dipenjara Anaknya Sendiri

Kini, sejarah PO Sumber Kencono menjadi pelajaran penting tentang pertumbuhan, kejatuhan, dan transformasi.

Dari raja jalanan hingga simbol evaluasi keselamatan, perjalanan ini menegaskan bahwa kecepatan tanpa keselamatan hanya akan berujung petaka.

Editor : Ingge Nayla Ayu Karina
#Bus Ugal Ugalan Jawa Timur #Kecelakaan Bus Indonesia #PO Sumber Selamat #PO Sugeng Rahayu #Sejarah PO Sumber Kencono